Pohon Trembesi di Kendari Mulai Dinilai Berbahaya

  • Bagikan
Salah satu jalur ditanami pohon Trembesi di Jalan Buburanda, Kota Kendari. (Foto: Al Iksan/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pohon Trembesi di pinggiran jalan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara mulai diresahkan masyarakat. Semakin besarnya pohon ini membuat banyak warga khawatir akan bahayanya.

Trembesi atau Samanea Saman banyak dijumpai di Kota Kendari, utamanya di pinggir jalan raya. Pemangkasan pohon sejauh ini membuat pohon yang dijuluki Kihujan ini bak payung jalanan yang membawa nuansa hijau dan teduh bagi pengendara.

Tidak jarang pula ketika hujan disertai angin kencang, pohon Trembesi tumbang ke jalan. Hal inilah yang membuat masyarakat mulai khawatir dengan bahaya yang mengintai ketika berkendara.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLH) Kota Kendari, Nismawati pun tidak memungkiri banyak warga mengeluh dampak buruk akan ditimbulkan pohon tersebut.

“Banyak sekali keluhan masyarakat selama 2021 soal pohon Trembesi yang cukup berbahaya saat angin kencang, kemudian berbahaya bagi pengguna jalan,” ucapnya, Selasa (25 Januari 2022).

Pohon ini juga memiliki jaringan akar luas sehingga dapat merusak jalan dan bangunan rumah warga yang tinggal tidak jauh dari jalan utama, termasuk berdampak pada drainase di sekitar jalanan.

Menanggapi keluhan warga, DLH Kendari berencana mengganti Trembesi dengan pohon Tanjung. Kata dia, pohon ini lebih cocok sebagai tanaman peneduh pinggir jalan dan tidak akan menanam bibit pohon Trembesi lagi.

Baca:   Pohon Trembesi Dirusaki Kontraktor, DLH Mubar Minta Ganti Rugi

Namun kelemahan dari pohon Tanjung, lanjut Nismawati, pertumbuhannya cukup lama dibandingkan Trembesi.

“Kami rencanakan tidak akan menanam Trembesi dan menggantinya dengan jenis pohon Tanjung. Tahun ini kami belum bisa tuntaskan untuk pohon Trembesi karena kita tahu sendiri tingginya bisa mencapai 20 meter, itu harus gunakan mobil khusus, itupun harus pinjam ke Dinas SDA,” jelasnya.

Berdasarkan penelitian Dr. Ir. Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, bawah satu batang pohon Trembesi dewasa mampu menyerap 28.442 kilogram karbondioksida (CO2) setiap tahunnya. Pohon ini merupakan salah satu tanaman yang dapat memperbaiki kualitas udara di sekelilingnya.

Dilansir dari Wikipedia, Pohon ini aslinya hidup di Amerika Selatan dan sekarang secara natural juga hidup dalam cuaca tropis. Secara natural bisa mencapai pertumbuhan sampai ketinggian 25 meter dan diameter 30 meter.

Disebut Pohon Hujan (Rain Tree) karena air yang sering menetes dari tajuknya yang disebabkan kemampuannya menyerap air tanah yang kuat. Daunnya juga sangat sensitif terhadap cahaya dan menutup secara bersamaan dalam cuaca mendung (ataupun gelap) sehingga air hujan dapat menyentuh tanah langsung melewati lebatnya kanopi pohon ini. Rerumputan juga berwarna lebih hijau dibawah pohon hujan dibandingkan dengan rumput di sekelilingnya.

Baca:   Buruh Bangunan Segel Puskesmas Asinua di Konawe

Pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton karbon diokasida setiap tahunnya. (diameter tajuk 15 meter). Bandingkan dengan pohon biasa yang rata-rata mampu menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya.

Selain itu pohon Trembesi mampu menurunkan konsentrasi gas secara efektif, tanpa penghijauan dan memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat.

Perakarannya yang sangat meluas membuatnya kurang populer karena dapat merusak jalan dan bangunan di sekitarnya. Namanya berasal dari air yang sering menetes dari tajuknya karena kemampuannya menyerap air tanah yang kuat serta kotoran dari tonggeret yang tinggal di pohon.

Mungkin karena kemampuan menyerap CO2 inilah maka pemerintah meluncurkan program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010 dengan trembesi sebagai pohon utama untuk ditanam. (B)

Laporan: Al Iksan
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan