Psychological First Aid sebagai Pertolongan Pertama Bagi Korban Ghosting Relationship

  • Bagikan
Aliffatullah Alyu RAJ
Aliffatullah Alyu RAJ

Oleh: Aliffatullah Alyu RAJ

Ghosting Relationship

Ghosting Relationship dapat diartikan sebagai salah satu strategi yang akhir-akhir ini sedang populer dikalangan remaja dengan tujuan untuk memutuskan hubungan secara sepihak, dan juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang tiba-tiba saja menghilang atau menjauh tanpa adanya penjelasan. Ghosting Relationship adalah suatu kondisi dimana dia orang yang selama ini jadi teman komunikasi dan menjadi tempat ternyaman tiba-tiba menghilang seperti hantu. Sikap pelaku ghosting yang biasanya ditunjukan adalah seperti seolah mendadak menghilang, bahkan berhenti membalas pesan atau panggilan dari pasangannya. Komunikasi yang sebelumnya intens terjadi justru berubah tanpa ada sebuah alasan dan kejelasan.

Oleh karena menariknya peristiwa ini, ada beberapa peneliti yang melakukan penelitian tentang Ghosting Relationship ini. Salah satunya adalah berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Timmermans , Hermans & Opree (2020) menyatakan bahwa setelah terjadinya peristiwa ghosting, sebagian besar dari korban ghosting akan menyalahkan si pelaku ghosting karena menjadi penyebab dari berakhirnya suatu hubungan. Dimana mereka akan berpikir bahwa pelaku ghosting sedang berkencan atau sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Kemudian beberapa dari korban ghosting juga mengungkapkan kemarahannya dengan menggambarkan si pelaku ghosting sebagai seseorang yang kekanak-kanakan, pengecut, atau tidak sopan karena telah mengghosting mereka. Namun diantara korban ghosting juga ada yang menyalahkan diri mereka sendiri sebagai penyebab dari berakhirnya hubungan, dimana mereka menyakini bahwa mereka tidak cukup baik untuk orang tersebut. Mereka menggambarkan diri mereka sebagai seseorang yang tidak cukup menarik, terlalu membosankan, terlalu gemuk, jelek, tidak tinggi atau tidak cantik secara fisik.

Selain itu, dalam penelitian ini juga mengungkapkan beberapa alasan yang disampaikan oleh para pelaku ghosting terkait penyebab mengapa mereka mengghosting orang lain. Diantara beberapa pelaku ghosting mengaku mereka merasa bersalah yang artinya sebenarnya mereka tidak benar-benar berniat untuk menyakiti orang lain, hanya saja pelaku ghosting tersebut merasa dirinya adalah tipe orang yang membosankan, mereka merasa tidak percaya diri untuk bisa membahagiakan orang lain dan mereka takut tidak dapat memenuhi harapan orang lain tersebut. Selanjutnya diantara pelaku ghosting juga ada yang mengaku bahwa mereka mengghosting orang lain disebabkan karena mereka merasa orang tersebut tidak menarik secara fisik. Pelaku ghosting mengaku mereka adalah tipe orang yang mudah untuk jatuh cinta, atau seseorang dengan “masalah” seperti takut untuk berkomitmen, pelaku ghosting tidak merasa siap secara emosional untuk memulai berkencan. Kemudian beberapa pelaku ghosting menyebutkan bahwa mereka melakukan ghosting karena mereka tidak sampai hati untuk menolak seseorang secara langsung, dan mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak ingin menipu orang lain dengan berpura-pura tertarik.

Baca:   Media Sekuler, Dibalik Rusaknya Generasi

Seorang psikolog di Los Angeles bernama Jennice Vilhauer Ph.D pernah menjelaskan dalam salah satu artikel yang ditayangkan dalam halaman Psychology Today, bahwa ghosting adalah salah satu peristiwa yang sangat menyakitkan dalam hidup. Lantaran merupakan akhir dari silent treatment, banyak profesional di bidang kesehatan mental yang menyebutkan ghosting merupakan bentuk kekejaman emosional. Dilansir dari Halodoc, dr. Rizal Fadli (2021) menyatakan bahwa perlu diketahui apapun alasannya ghosting sebenarnya bukanlah hal yang baik, sebab bisa memberi dampak bagi korbannya. Dampak dari peristiwa ghosting bagi pihak yang merasa telah di ghosting tidaklah main-main, ghosting bisa memberi dampak pada psikologi korbannya. Perasaan depresi, marah, bingung, hingga merasa tidak diinginkan mungkin akan dialami korban. Penolakan sosial bisa menyebabkan rasa sakit yang sama dengan sakit fisik. Kalau sakit fisik bisa diobati dengan konsumsi obat tertentu, sedangkan rasa sakit karena di-ghosting tidak bisa. Orang yang di-ghosting harus menerima dan merasakan sendiri dampak ghosting yang bisa berujung pada stres fisik. Korban ghosting juga bisa mengalami penurunan rasa percaya diri, merasa dibuang, tidak bisa diterima, dan menjadi tidak lagi memiliki keinginan untuk memulai hubungan di masa mendatang, baik secara romantis maupun jenis hubungan lainnya.

Psychological First Aid (PFA)

Setelah terjadi peristiwa ghosting ini biasanya para korban ghsoting akan mencari pertolongan dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat. Nah, disinilah fungsi Psychological First Aid (PFA) itu bisa kita manfaatkan. Namun, tidak semua orang yang mengalami krisis akan memerlukan atau menginginkan PFA. Jangan memaksakan diri untuk memberikan bantuan kepada mereka yang tidak menghendakinya, tetapi buatlah diri kita tersedia kapanpun dan dimanapun untuk mereka yang mungkin menginginkan bantuan.

Pertolongan pertama psikologis atau biasa yang disebut sebagai Psychological First Aid (PFA) merupakan suatu rangkaian keterampilan yang bertujuan untuk mengurangi distress dan mencegah munculnya perilaku tampilan kondisi kesehatan mental negatif yang disebabkan oleh situasi tidak menyenangkan atau bencana atau situasi krisis yang dihadapi individu, kondisi krisis tersebut bisa membuat seseorang mengalami gangguan psikologis level ringan maupun berat (Everly, Phillips, Kane & Feldman, 2006).

Pada dasarnya, pertolongan pertama psikologis dilakukan untuk mengobati luka-luka batin yang membekas pada orang-orang yang baru saja mengalami pengalaman traumatis. Psychological First Aid (PFA) juga turut memainkan peran penting untuk menumbuhkan harapan dalam diri korban agar mereka menjadi lebih tenang, dan merasa aman. Psychological First Aid (PFA) bukanlah suatu pendekatan yang hanya bisa dilakukan oleh praktisi kesehatan mental atau tenaga profesional, tetapi bisa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya (Winurini, 2014). Psychological First Aid (PFA) hadir sebagai model yang sederhana dan diharapkan bisa membantu pemulihan, dengan saling peduli kepada sesama (Shultz & Forbes, 2013).

Baca:   Suara Pemuda Dibungkam Lagi

Dalam kasus ini Psychological First Aid (PFA) diperlukan untuk menumbuhkan kesiapan psikologis yang baik dan meningkatkan kemampuan dalam menghadapi masalah, koping stres dan membangun resiliensi yang konstruktif. Setiap orang memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam hidupnya. Namun, pada beberapa orang yang sedang berada di posisi yang rawan karena sedang menghadapi peristiwa krisis, mereka akan membutuhkan bantuan lebih untuk menyelesaikan tantangan hidupnya. Psychological First Aid (PFA) dianggap lebih efektif karena PFA mencakup faktor-faktor yang paling membantu untuk memberikan pemulihan jangka panjang kepada orang-orang.

Kita dapat melakukan Psychological First Aid (PFA) dimana pun selama kita merasa aman. Idealnya, cobalah untuk menyediakan PFA dimana kita dapat melakukan percakapan secara privat apabila keadaannya memungkinkan. Percakapan privasi adalah hal yang penting untuk dilakukan agar menjaga kerahasiaan dan harga diri individu tersebut. Dalam pemberian PFA menjadi hal yang sangat penting untuk kita harus memperhatikan cara kita berkomunikasi dengan seseorang yang sedang berada pada kondisi tertekan.

Memberikan Psychological First Aid (PFA)

Langkah-langkah yang bisa kita lakukan dalam pemberian PFA diantaranya dengan bersikap tetap tenang dan menunjukkan kepedulian dapat membantu orang-orang yang mengalami stres untuk merasa lebih aman, dimengerti, dan dipedulikan dengan baik. Sangatlah penting untuk tidak memaksa siapa pun untuk memberi tahu kepada kita mengenai kejadian yang mereka alami tapi cobalah cukup dengan memberitahu kepada mereka bahwa anda akan selalu ada ketika mereka membutuhkan seseorang untuk bercerita. Usahakan untuk tidak berbicara terlalu banyak, sesekali biarlah keadaan hening. Membiarkan suasana agar tetap hening untuk beberapa saat akan memberikan ruang kepada mereka dan mendorong mereka untuk berbagi cerita dengan kita jika mereka menginginkannya. Dan yang tidak kalah penting adalah untuk memperhatikan sikap kita saat berkomunikasi, kita harus peka terhadap bahasa tubuh dan kata-kata yang kita gunakan, contohnya seperti ekspresi wajah, kontak mata, isyarat tubuh, dan cara duduk atau berdiri saat sedang berkomunikasi dengan orang lain.

Baca:   Alih Kode dan Mixing Code Komunikasi Generasi Milineal

Dalam kondisi yang kritis, seseorang sesungguhnya hanya membutuhkan seorang pendengar yang baik dan sabar. Mendengarkan dengan baik saat membantu orang lain merupakan hal yang penting. Dengan menjadi pendengar, kita dapat memahami situasi dan kebutuhan mereka serta membantu mereka agar merasa tenang, sehingga kita dapat memberikan bantuan yang tepat. Jika mereka sangat tertekan, tenangkan mereka dan jangan tinggalkan mereka sendirian.

Membantu meningkatkan Koping stres individu, yaitu dengan membantu menguatkan strategi pengelolaan stres pada individu tersebut. Setiap orang memiliki cara yang alami dalam menghadapi sesuatu. Maka doronglah mereka untuk menggunakan strategi pengelolaan stres yang positif dan yang mereka miliki, serta menghindari strategi pengelolaan stres yang negatif dengan misalnya istirahat yang cukup, upayakan makan secara teratur, sering mengonsumsi air putih, berbicara dan meluangkan waktu untuk bersama dengan keluarga dan teman-teman, diskusikan masalah dengan orang yang dipercaya, lakukan aktivitas yang membuat rileks (bernyanyi, berjalan, berdoa, bermain dengan anak-anak), atau melakukan olahraga. Hal ini akan membuat mereka merasa lebih kuat dan mendapatkan kembali perasaan bahwa mereka mampu menanganinya.

Dalam situasi krisis, keyakinan spiritual atau agama seseorang sangatlah penting dalam membantu mereka melampaui rasa sakit atau penderitaan dan dapat memberikan suatu pengharapan. Doronglah mereka untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sang maha Kuasa, berikanlah pengertian kepada mereka bahwa segala sesuatu yang terjadi didalam hidup kita adalah atas izin Allah SWT yang menandakan bahwa pundak kita mampu menjalaninya karena Allah SWT memberikan cobaan dan ujian tidak akan mungkin melampaui batas kemampuan atau kesanggupan masing-masing umatnya.

Demikianlah salah satu fungsi dari Psychological First Aid (PFA) yang dapat kita manfaatkan sabagai pertolongan pertama untuk meredam rasa amarah, kecewa dan sakit hati akibat peristiwa ghosting Relationship.***

Penulis adalah Mahasiswa Magister Sains Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat penuu BTN Medy Brata Blok A2 No 5, Kelurahan Bukit Wolio Indah, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. E-mail: [email protected]

  • Bagikan