Refleksi Penyelesaian Kasus dan Leadership menggunakan Teori Gibbs

  • Bagikan
Basrudin

Seorang mahasiswa pascasarjana, Basrudin melakukan penelitian tentang refleksi penyelesaian kasus dan leadership menggunakan teori Gibbs.

Peneliti dalam menganalisis kasusnya menggunakan Gibbs reflective crycle yang membupai enam tahapan, yakni description, feelings, evaluation, analysis, coclusion, dan action plan.

Dalam hal ini, peneliti mengambil kasus sebagai berikut, serta mendeskripsikan kasus tersebut ke dalam Gibbs reflective crycle.

Kasus

Seorang perawat pelaksana yang sedang dinas pagi di RS “B” sedang menjalankan tugasnya. Perawat tersebut terlihat emosi dengan tiba-tiba mendatangi bed pasien dengan tampang kesal dan berbicara dengan nada tinggi.

Perawat menanyakan kenapa manggil-manggil saya terus? Keluarga pasien: Ini mbak selang infusnya berdarah terus, perawat semakin tambah keras dalam menjawabnya. Makanya jangan terlalu banyak gerak. Memangnya saya kerja hanya mengurusi bapak anda dengan muka kesal dan memperlakukan pasien dengan cara kurang profesional, perawat sambil melakukan tindakan perbaikan selang infusnya.

Pasien lainnya hening dalam kondisi tersebut. Kemudian salah satu keluarga pasien ada yang tidak terima dengan perlakuan perawat tersebut dengan melaporkan kepada kepala ruang atas kejadian tersebut.

Berdasarkan deksripsi dari kejadian kasus di atas, maka dilakukan analisa teory Reflective learning menggunakan model reflectife cycle dari Gibbs yaitu :

  1. Description

Ketika saya sebagai kepala ruang tidak berada pada saat kejadian itu terjadi, ketika saya sedang melakukan Bedside Teaching di bangsal dalam salah satu rumah sakit, salah satu perawat dengan tiba-tiba mendatangi bed pasien dengan marah-marah dengan nada tinggi.

Perawat menanyakan kenapa manggil-manggil saya terus? Keluarga pasien menjawab: Ini mbak selang infusnya berdarah terus, perawat semakin tambah keras dalam menjawabnya. Makanya jangan terlalu banyak gerak. Memangnya saya kerja hanya mengurusi bapak anda. Dengan marah-marah dan memperlakukan pasien dengan cara kurang profesional, perawat sambil melakukan tindakan perbaikan selang infusnya. Saya, mahasiswa dan pasien lainnya hening dalam kondisi tersebut.

  1. Feelings

Sebagai seorang perawat dan juga sebagai pendidik calon-calon perawat masa depan, saya merasa kecewa dan sedih menyaksikan bagaimana cara perawat berkomunikasi dan melakukan intervensi pada pasien tersebut.

Baca:   Tabung Gas Bocor, Bocah dari Koltim Ini Kritis Akibat Luka Bakar

Perasaan takut sayapun muncul terhadap cara komunikasi yang dilakukan perawat yang disaksikan oleh mahasiwa keperawatan sebagai calon-calon perawat masa depan.

Saya takut semua yang mereka pelajari akan hilang begitu saja ketika sudah berada pada kehidupan nyata, yaitu sebagai perawat sesungguhnya, yang meniru perlakuan perawat tersebut.

  1. Evaluation

Apa yang dilakukan perawat tersebut sangatlah bertentangan dan tidak sesuai dengan prinsip komunikasi yang baik dan prinsip hubungan antarperawat dan pasien.

Disadari atau tidak, hal semacam ini merupakan bentuk gambaran dari pada kurangnya pemahaman perawat tentang bagaimana menjalin hubungan interpersonal antara perawat dan pasien pada saat melakukan intervensi dan cara bagaimana melakukan komunikasi terhadap pasien.

Sikap yang dilakukan oleh perawat tersebutpun menggambarkan ketidak profesionalan seorang perawat dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan. Perawat tidak melihat nilai-nilai kemanusiaan pada diri pasien tersebut. Akibat pasien yang full bisa saja perawat tersebut sudah lelah dan lupa akan tanggungjawabnya kepada pasien seperti apa.

  1. Analysis

Perawat yang melakukan kesalahan dan ketidak sesuaian dalam melakukan tindakan tersebut disebabkan oleh ketidak pahaman tentang komunikasi yang seharusnya dilakukan oleh perawat pada saat membina hubungan dengan pasien.

Pada kasus di atas kemungkinan perawat beranggapan bahwa cara komunikasi tersebut merupakan hal yang biasa dan wajar atau kemungkinaan sebagai salah satu eksplorasi diri seorang perawat yang sedang merasakan lelah pada saat bekerja. Padahal secara konsepnya pada saat perawat melakukan pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien sebagai makhluk bio-psiko-sosio dan spiritual harus disertai dengan body, mind, dan spirit dari seorang perawat harus terbina sehingga timbul interaksi yang nyaman dan harmonis. Hal ini akan berdampak positif terhadap aspek psikologis pasien yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Aspek yang tidak kalah pentingnya juga adalah bercermin dengan kejadian tersebut akan berdampak kepada mahasiswa saya yang nantinya akan banyak mewarisi apa-apa yang dilakukan oleh perawat yang diperoleh pada saat praktik.

Tiga dimensi yang senantiasa dilibatkan selama proses komunikasi, yaitu fisik, sosial, psikologi, dan ketiganya ketika berkomunikasi tidak bisa dipisahkan.

Baca:   Catatan Merah KPUD Muna Dalam Rekrutmen PPK dan PPS

Fisik berarti ketika berinteraksi dengan pasien harus ada kontak mata. Sosial berarti tidak bisa terpisahkan hubungan dengan orang lain yang ada di masyarakat.

Psikologi memahami kondisi psikis pasien. Northouse dan Northouse menjelaskan bahwa strategi komunikasi terapeutik dengan cara sentuhan, sehingga pasien akan menerima sentuhan dalam cara yang positif. Sentuhan ini untuk situasi yang khusus (Sotiri et al., 2012).

Yang harus diperhatikan ketika melakukan komunikasi terapeutik, yaitu menghormati pasien, memperlihatkan kesungguhan dalam mengobati pasien, berempati pada pasien, memberikan kepercayaan pada pasien, dan menjaga kerahasiaan pasien (Roos & Kusnarto, 2015) bahwa tujuan dari komunikasi terapeutik adalah untuk menolong korban atau pasien yang menderita secara psikis yang dilakukan orang yang profesional, oleh karenanya harus menggunakan pendekatan perasaan atau emosi.

Tidak hanya itu harus dibangun kepercayaan di antara perawat, dokter atau tim relawan dengan korban atau pasien ketika mereka berkomunikasi, jangan sepihak yang lebih aktif berkomunikasi, menghilangkan keraguan di antara para pelaku komunikasi, dan melakukan tindakan–tindakan efektif, mempererat hubungan dalam rangka membantu menyelesaikan masalah korban (Roos & Kusnarto, 2015).

  1. Conclusion

Terhadap kejadian di atas mengambil kesimpulan bahwa komunikasi yang baik diperlukan dalam membina hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Gagalnya komunikasi akan menyebabkan kegagalan dalam hubungan antara perawat dan pasien, sehingga hubungan perawat pasien hanya akan menjadi hubungan yang kurang baik. Hubungan yang tidak baik dari perawat terhadap pasiennya akan menyebabkan tujuan perawatan tidak akan tercapai. Kemampuan juga seharusnya menjadi bagian dari apa yang perlu dikembangkan. Hal ini pun menjadi dasar bahwa mahasiswa perlu belajar dari apa yang diperoleh di lahan praktik sehingga bisa dapat dijadikan bahan pembelajaran.

  1. Action Plan

Berangkat dari kejadian tersebut tentunya sebagai pembimbing perlu menekankan pemahaman dan kemampuan bagaimana melakukan komunikasi yang baik antara perawat dan pasien dan penekanan tentang sikap dan norma-norma etik dalam melakukan pelayanan keparawatan terhadap perawat dan juga mahasiswa.

Langkah-langkah yang bisa diambil agar terlaksananya komunikasi antara perawat dan pasien diperlukan adanya SOP dan banyak berlatih dengan dilaksanakannya metode pembelajaran demonstrasi maupun simulasi sehingga mahasiswa paham benar bagaimana menjalin komunikasi dengan pasien. Dilaksanakannya sikap sharing bukan hanya kepada pasien tetapi sudah diterapkan pada dosen ke mahasiswa maupun mahasiswa kepada dosen.

Baca:   DPRD Sultra Setujui Operasional Kampus Vokasi USN di Buteng

Sedangkan untuk mahasiswa, yaitu dengan diobservasi langsung oleh dosen pembimbing maupun pembimbing rumah sakit dan tentunya terlebih dahulu dosen memberikan contoh bagaimana melakukan komunikasi yang baik dan benar sebagai role model terhadap mahasiswanya, dan intervensi yang sesuai dengan sikap dan norma.

Analisis dari kasus di atas menurut saya, kasus tersebut sesuai dengan teori kepemimpinan “Situational Theory” yaitu Pemimpin harus memilih tindakan yang terbaik berdasarkan situasi yang sedang dihadapi.

Gaya kepemimpinan berbeda-beda tergantung situasi yang berlainan. Pada contoh kasus saya sebagai pemimpin bagi mahasiswa saya, saya harus memilih langkah terbaik dengan situasi mahasiswa agar tidak meniru perilaku dan tindakan perawat tersebut.

Sedangkan untuk gaya kepemimpinan yang sesuai untuk kasus di atas adalah Gaya kepemimpinan Otoriter, yaitu gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh, dan tidak memberikan kesempatan pada bawahan. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh pemimpin sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang diberikan.

Di sini saya harus mempunyai langkah-langkah untuk mengambil keputusan agar mahasiswa tidak menirukan perilaku dan tindakan perawat tersebut tanpa kompromi dengan mahasiswa harus setuju atau tidak dengan keputusan yang diambil. Jika keputusan di tangan mahasiswa bisa saja mahasiswa tersebut akan meniru perilaku tersebut.

Kesimpulan

Teori Kepimpinan yang sesuai dengan kasus yang sudah disajikan adalah Teori Situasional, yaitu pemimpin harus memilih tindakan yang terbaik berdasarkan situasi yang dihadapi.

Gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kasus yang sudah disajikan adalah gaya kepemimpinan otoriter, yaitu dengan memusatkan keputusan serta kebijakan diambil dari diri sendiri tanpa memberikan kesempatan bagi bawahannya.

Peneliti adalah Basrudin, mahasiswa Prodi Magister Keperawatan, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan pembimbing Dr. Titih Huriah, Mkep., Sp.Kom. (kontak: +62 822-5967-5998)

  • Bagikan