Ritual Tuturangiana Batu Poaro Warnai HUT Baubau ke-20

  • Bagikan
Ritual Tuturangiana Batu Poaro di peringatan HUT Kota Baubau ke-20. (Foto: Aisyah Welina/SULTRAKINU.COM)

SULTRAKINI.COM: BAUBAU – Acara tahunan ritual adat Tuturangiana Batu Poaro mewarnai perayaan hari jadi Kota Baubau ke 20, Kamis (14/10/2021).

Ritual Tuturangiana Batu Poaro dimulai dengan pembacaan doa selamat dan tolak bala di Masjid Wameo, kemudian talang digiring ke situs sejarah Batu Poaro yang terletak antara tempat wisata Kotamara dan Pasar Tradisional Wameo.

Wakil Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse, mengatakan ritual ini dilakukan sebagai rangkaian memperingati HUT Kota Baubau pada 17 Oktober mendatang.

Ia menyebut, Batu Poaro dinilai memiliki situs sejarah yang menandai hadirnya seorang ulama besar, Syekh Akbar Maulana Sayid yang merupakan cucu dari imam besar Abdul Qodir Djaelani ke tanah eks Kesultanan Buton untuk menyiarkan syariat Islam pada 1525 Masehi.

Monianse berharap, kegiatan ini bisa meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang sejarah keislaman di tanah eks Kesultanan Buton, khususnya di Kota Baubau. Selain itu, ritual dilakukan sebagai upaya pelestarian nilai kebudayaan yang ada di eks Kesultanan Buton.

ibu alimazi

“Bukan sekadar acara yang dilaksanakan setiap peringatan HUT Kota, tetapi lebih dari itu. Ada beberapa nilai-nilai yang diharapkan tumbuh dan berkembang dengan nilai religi bisa kita pegang secara kolektif,” terangnya.

Baca:   Logistik di Kelurahan Bukit Wolio Indah, Baubau Mulai Dikembalikan

Nilai pertama, religius. Masyarakat patut memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT karena mengirimkan seorang ulama besar ke negeri ini, sehingga risalah Nabi Muhammad SAW dapat tersiar di tanah Buton dan dianut oleh masyarakatnya.

“Kedua, nilai padegogis, nilai pendidikan atau nilai pengajaran. Nilai ini harus tertanam dalam sanubari masyarakat Kota Baubau pada khususnya,” sambungnya.

Monianse menambahkan, salah satu nilai yang dibutuhkan saat ini dan patut diterapkan oleh masyarakat di sekitar lokasi Batu Poaro, yaitu penerapan nilai kebersihan yang diajarkan dalam Islam.

“Kemeriahan yang tejadi hari ini dapat memberikan gambaran indahnya kedamaian dalam kebersamaan,” ujarnya. (B)

Laporan: Aisyah Welina
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan