Selama 2021, Kasus Kekerasan Anak di Konawe Masih Marak

  • Bagikan
Kepala Satuan (Kasat) Reskrim Polres Konawe, AKP Mochamad Jacub Nursagli Kamaru, S.IK, MH. (Foto: Andi Nur Aris.S/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KONAWE – Sepanjang tahun 2021, Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Konawe mencatat telah menangani setidaknya 35 kasus soal tindak kekerasan terhadap anak.

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Konawe, AKBP Wasis Santoso SIK melalui Kepala Satuan (Kasat) Reskrim Polres Konawe, AKP Mochamad Jacub Nursagli Kamaru mengatakan sepanjang tahun 2021 dari Januari hingga November tercatat ada 35 kasus kekerasan terhadap anak berbeda dari tahun 2020 sebanyak 37 kasus.

“Ada perbedaan 2 kasus tahun 2020 dan 2021, meski ada penurunan tapi Desember belum selesai sehingga kita berharap tidak adanya lagi peningkatan kasus seperti ini hingga akhir tahun,” kata Jacub, saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Rabu (08/12/2021).

Jacub menambahkan, dalam kekerasan terhadap anak yang dimaksud yakni tindak pidana anak yang menjadi korban, seperti, persetubuhan anak, pencabulan, bawa lari anak, serta kekerasan fisik terhadap anak.

“Kasus persetubuhan anak, ini yang lebih cenderung terjadi di Konawe,” ucapnya.

Lebih lanjut, kata Jacub, kasus kekerasan terhadap anak itu mayoritas pelakunya adalah orang terdekat korban seperti pacar atau teman. Terlebih lagi rata-rata para korban ini terbilang masih usia labil dan gampang terpengaruh, berumur dibawah 17 tahun.

“Kalau pelaku dari orang terdekat (keluarga) itu minim, kebanyakan dari pecar atau temannya,” jelas Jacub.

Baca:   Pengedar Sabu di Kolaka Dibekuk Polisi Saat Transaksi

Mantan Kapolsek Kawasan Pelabuhan ini mengaku, dari kasus yang ada, kekerasan terhadap anak itu terjadi karena ajakan dari para pelaku untuk berbuat sesuatu yang belum ada ikatan pernikahan apalagi masih dibawah umur.

Sementara dalam proses penanganan hukum bagi para pelaku ini dibagi dua yaitu ada pelaku anak dan juga pelaku dewasa. Katanya, penyelesaian kasus pelaku anak mengacu kepada undang-undang sistem peradilan anak (anak sebagai pelaku) sedangkan pelaku dewasa sesuai dengan prosedur penanganan pelaku dewasa.

“Tindakan yang kami ambil proses hukumnya sesuai dengan prosedur yang ada, dan hampir semua kasus sudah kami selesai dengan jalur normatif/pengadilan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Jacub menjelaskan, jika setiap ada kejadian anak menjadi korban pihaknya selalu berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial sambil berjalannya perkara itu, dan juga berkoordinasi dengan Dinas P2TP2A dan ini juga kita jadikan bahan untuk penyidikan.

“Kita tau dampak yang terjadi pada anak ini kan dampak psikologi nya, sehingga kami berkerjasama dengan intensitas yang terkait untuk membantu,” tuturnya.

Polres Konawe terus berupaya dalam menekan jumlah kasus kekerasan terhadap anak khsususnya di wilayah hukum Polres Konawe, intansi-intansi terkait Dinas Sosial dan P2TP2A melakukan penyuluhan baik di desa maupun disekolah akan dampaknya pergaulan bebas terutama pada anak.

Baca:   Pakar Hukum: OTT Asrun-ADP Gunakan Teori Bubur Panas, Sanksi ADP Lebih Berat

“Peran orang tua itu sendiri yang sangat berpengaruh disini, jika kurang perhatian maka anak akan gampang terjerumus tapi jika tinggi pasti anak terhindar dari pergaulan itu,” pungkasnya. (C)

Laporan: Andi Nur Aris.S
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan