SULTRAKINI.COM: KENDARI – Nyala lilin membentuk lingkaran di pelataran UIN Kendari, Senin (28/9/2026). Di tengah suasana hening, mahasiswa memanjatkan doa dan membaca Surat Yasin untuk mengenang dua mahasiswa UHO, Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi, yang meninggal dalam aksi demonstrasi di Kendari pada September 2019.
Momen tersebut menjadi bagian dari kegiatan September Hitam yang diselenggarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Kendari. Kegiatan mengusung tema “Refleksi September Hitam: Ketika Negara Gagal Mengadili, Ingatan Menjadi Perlawanan.”
September Hitam kali ini tidak hanya menjadi agenda mengenang peristiwa masa lalu. DEMA UIN Kendari menjadikannya sebagai ruang refleksi bagi mahasiswa untuk merawat ingatan, mendoakan korban, sekaligus mendiskusikan persoalan hukum, HAM, dan demokrasi.
Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi merupakan dua mahasiswa UHO yang meninggal setelah mengikuti aksi demonstrasi pada 26 September 2019 di Kendari. Randi dipastikan meninggal akibat luka tembak, sementara penyebab kematian Yusuf menjadi bagian dari perdebatan dan investigasi yang berbeda pada saat itu.
Usai pembacaan Yasin, kegiatan dilanjutkan dengan penyalaan lilin. Bagi penyelenggara, nyala lilin tersebut menjadi simbol untuk menjaga ingatan terhadap korban sekaligus menggambarkan harapan agar persoalan keadilan tidak berhenti menjadi catatan sejarah.
Ketua DEMA UIN Kendari, Risdawati, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk tidak melupakan berbagai persoalan kemanusiaan yang pernah terjadi. Menurutnya, ingatan terhadap peristiwa tersebut perlu dirawat melalui diskusi dan kesadaran kritis mahasiswa.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada diskusi publik yang membahas penegakan hukum dan persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Forum tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan sekaligus mempertanyakan berbagai persoalan hukum dan keadilan yang menjadi perhatian publik.
Diskusi menghadirkan Amar Ma’ruf, Sekretaris Umum KAHMI Kendari, sebagai keynote speaker. Turut hadir Dr. Ahmadi, S.Hi., M.H., akademisi sekaligus praktisi hukum, serta Dr. Muhammad Endang, S.A., S.Sos., S.H., akademisi dan pengamat sosial politik.
Risdawati menyebut kehadiran para narasumber diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai isu sosial, hukum, HAM, serta perjalanan demokrasi. Forum tersebut juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menguji gagasan melalui diskusi terbuka.
Menurut Risdawati, refleksi September Hitam tidak diharapkan berhenti sebagai agenda tahunan. Ia berharap ruang diskusi tersebut dapat menjadi pemantik kesadaran kolektif mahasiswa untuk terus mengawal isu kemanusiaan, hukum dan keadilan di Sulawesi Tenggara maupun tingkat nasional.
“Semoga ruang refleksi yang telah diselenggarakan DEMA UIN Kendari ini bukan sekadar menjadi agenda tahunan yang berlalu bersama denyut acara, melainkan pemantik yang terus menyalakan nyala kritis di dada setiap mahasiswa,” kata Risdawati dalam wawancara, Rabu (30/9/2026).
Ia berharap konsolidasi gerakan dan kesadaran mahasiswa semakin kuat serta dapat diwujudkan melalui langkah nyata dalam mengawal persoalan kemanusiaan dan keadilan, sembari menjaga ingatan terhadap Randi, Yusuf, dan korban lainnya agar tetap menjadi bagian dari refleksi perjalanan demokrasi.
Laporan: Andi Mahfud












