Oleh: M. Djufri Rachim (Jurnalis dan Dosen pada Prodi Jurnalistik Universitas Halu Oleo)
SULTRAKINI.COM: Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan modern. Ketika teknologi bergerak semakin cepat, sebagian orang justru mulai menoleh ke belakang.
Piringan hitam kembali diputar. Kamera analog dan digicam lama diburu. Pakaian vintage kembali menjadi tren. Anak muda bahkan mencari barang yang populer sebelum mereka lahir. Fenomena retro memperlihatkan bahwa sesuatu yang pernah dianggap usang dapat memperoleh nilai baru.
Lalu, mungkinkah suatu hari koran juga dirindukan kembali?
Pertanyaan itu muncul justru ketika koran-koran sedang berguguran. Pada 30 September 2026, Harian Rakyat Sultra mengakhiri perjalanan panjangnya di Sulawesi Tenggara. Begitupun, sejumlah media cetak dalam jaringan Fajar Group di daerah ini juga tidak lagi hadir seperti dahulu, antara lain Berita Kota Kendari dan Buton Pos. Perubahan serupa terjadi pada sejumlah koran di Sulawesi Selatan.
Apa yang terjadi bukan fenomena lokal. Di Indonesia, Sinar Harapan berhenti terbit pada 2015. Koran Tempo menghentikan versi cetaknya pada 2020, disusul Suara Pembaruan pada 2021, Republika pada 2022, dan Koran Sindo pada 2023. Sebagian tetap hidup secara digital, sebagian lainnya benar-benar meninggalkan gelanggang.
Di Amerika Serikat, State of Local News 2025 mencatat hampir 3.500 surat kabar telah hilang sejak 2005. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pers cetak merupakan perubahan struktural dalam industri media.
Internet memang memenangkan banyak hal. Berita tidak perlu menunggu pagi. Peristiwa yang terjadi beberapa menit lalu sudah dapat kita saksikan melalui telepon genggam. Media sosial, video, mesin pencari, agregator, dan kini kecerdasan buatan membuat informasi tersedia hampir tanpa jeda.
Marshall McLuhan sejak lama mengingatkan melalui ungkapannya, the medium is the message. Medium bukan sekadar saluran yang membawa pesan. Karakter medium ikut mengubah cara manusia menerima dan memahami informasi.
Itulah yang terjadi sekarang. Telepon pintar tidak sekadar memindahkan berita dari kertas ke layar. Ia mengubah kebiasaan membaca. Berita hadir bersama notifikasi WhatsApp, TikTok, Facebook, Instagram, YouTube, iklan, dan berbagai konten lain yang berebut perhatian.
Kita memang memperoleh informasi lebih cepat. Tetapi belum tentu membacanya lebih dalam.
Di sinilah Neil Postman menjadi relevan. Teknologi komunikasi tidak pernah hanya menambahkan alat baru. Teknologi mengubah keseluruhan ekologi komunikasi. Setiap teknologi menawarkan keuntungan, tetapi sekaligus membawa konsekuensi.
Digital memberikan kecepatan, jangkauan, interaktivitas, dan kemudahan. Pada saat bersamaan, ia melahirkan banjir informasi, fragmentasi perhatian, ketergantungan kepada platform, dan distribusi berita yang semakin dipengaruhi algoritma.
Persoalan masyarakat hari ini bukan lagi kekurangan informasi. Kita justru hidup dalam kelimpahan informasi. Di sinilah fenomena retro menarik untuk dibaca.
Data memang belum menunjukkan masyarakat beramai-ramai kembali ke koran. Sebaliknya, penggunaan surat kabar cetak terus menurun. Namun, muncul gejala lain yang perlu diperhatikan adalah kejenuhan terhadap konsumsi berita digital.
Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat tingkat news avoidance mencapai 42 persen. Sebagian masyarakat sengaja menghindari berita. Arus informasi yang terus-menerus, repetisi, konflik, dan berbagai konten negatif menjadi bagian dari persoalan tersebut.
Membaca pun semakin terfragmentasi. Kita membuka sebuah berita, lalu notifikasi masuk. Belum selesai membaca, perhatian berpindah ke video. Dari video berpindah lagi ke pesan WhatsApp.
Kertas menawarkan pengalaman berbeda. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pop-up. Tidak ada algoritma yang tiba-tiba menawarkan konten lain.
Apakah ini berarti koran akan kembali berjaya? Belum tentu. Tetapi mungkin ada ruang bagi kehidupan kedua media cetak.
Jika koran ingin kembali, ia tidak dapat kembali dengan model lama. Tidak masuk akal koran cetak bersaing dengan internet untuk memberitakan apa yang terjadi kemarin. Dalam soal kecepatan, digital telah menang.
Karena itu, koran harus berhenti bertanya, “Apa yang terjadi?” Pertanyaan itu sudah dijawab internet.
Koran harus menjawab pertanyaan yang lebih penting. Mengapa itu terjadi? Apa maknanya? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dirugikan? Dan apa yang belum diketahui publik?
Di situlah cetak mungkin menemukan fungsi barunya.
Bayangkan koran yang hanya terbit pada akhir pekan. Isinya bukan kumpulan breaking news, melainkan investigasi, indepth reporting, feature, analisis, foto jurnalistik, infografik, sejarah lokal, dan opini berkualitas.
Kertasnya baik. Desainnya elegan. Fotografinya kuat. Isinya layak disimpan.
Koran kemudian tidak lagi menjadi produk berita harian, tetapi produk jurnalistik premium.
Logikanya mirip fenomena retro. Orang tidak membeli piringan hitam karena vinyl lebih praktis daripada Spotify. Mereka membelinya karena vinyl memberikan pengalaman yang tidak diperoleh melalui streaming.
Begitu pula koran. Orang tidak akan kembali ke koran karena kertas lebih cepat daripada telepon pintar. Mereka mungkin kembali jika koran menawarkan sesuatu yang semakin langka di ruang digital. Kedalaman, kurasi, kredibilitas, ketenangan membaca, dan pengalaman fisik.
Karena itu, berhentinya Rakyat Sultra dan koran-koran lainnya mungkin bukan akhir sejarah media cetak. Yang sedang berakhir boleh jadi hanyalah model koran lama.
Koran sebagai pembawa berita kemarin semakin kehilangan relevansinya. Namun, koran sebagai produk jurnalistik mendalam, premium, dan layak dikoleksi mungkin masih memiliki masa depan.
Hari ini anak muda kembali menggunakan kamera analog, mendengarkan vinyl, dan mengenakan pakaian vintage. Maka bukan mustahil, setelah bertahun-tahun hidup dalam kepungan layar, manusia suatu saat juga merindukan kembali lembaran kertas.
Jika saat itu datang, yang kembali bukan koran yang dahulu kita kenal. Melainkan koran yang telah menemukan alasan baru untuk dicetak. Insya Allah. ([email protected])






