Setop! Sedotan Plastik Bahayakan Kesehatan dan Lingkungan

  • Bagikan
hindari penggunaan sedotan plastik . Foto: Klikdokter
hindari penggunaan sedotan plastik . Foto: Klikdokter

SULTRAKINI.COM: Jika Anda termasuk orang yang senang ngopi dan ngeteh di kafe atau membeli aneka minuman kemasan, coba hitung berapa banyak sedotan yang kamu gunakan dalam satu hari. Belakangan ini sedotan disebut penyumbang sampah plastik terbesar di Indonesia. Ancaman sampah sedotan plastik tidak hanya bagi lingkungan, tapi bagi kesehatan manusia.

Data dari Eco-Cycle, organisasi daur ulang nonprofit, diperkirakan lebih dari 500 juta sedotan plastik sekali pakai digunakan setiap harinya di Amerika Serikat. Sementara di Indonesia, perkiraan pemakaian sedotan mencapai 93.244.847 batang setiap hari.

Sam Athey, peneliti polusi plastik dan anggota Plastic Ocean Project, organisasi nirlaba yang berbasis di Wilmington, Amerika Serikat, mengatakan sedotan plastik cukup kecil dan ringan. Ketika melewati penyortir mekanik, sedotan sering hilang atau berakhir di tempat pembuangan sampah, dan nantinya bisa mencemari lautan.

“Dibutuhkan sekitar 200 tahun bagi sedotan plastik polypropylene untuk rusak di bawah kondisi lingkungan normal,” ujar Sam.

Dari 187,2 ton sampah yang terbuang di wilayah laut dan di pantai, 6,2 juta di antaranya merupakan sampah sedotan plastik. Temuan yang dilakukan oleh Drivers Clean Action di Pulau Pramuka, Kabupaten Kepulauan Seribu, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta juga sangat mengejutkan karena dari 300 sampah plastik, 16 kilogramnya adalah sampah sedotan.

Baca:   Rumah Pimpinan KPK Laode Syarif dan Agus Raharjo Diteror Bom

Selain berbahaya bagi lingkungan, sedotan juga berisiko bagi kesehatan manusia. Menurut ahli gizi, Christy Brissette, ada sejumlah alasan kesehatan pribadi untuk menghindari sedotan plastik.

Minum dengan sedotan plastik menyebabkan lebih banyak udara masuk ke sistem pencernaan. Kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan meningkatnya gas dan kembung, penggunanya pun berisiko mengalami gigi berlubang karena minum dengan sedotan cenderung mengirim aliran cairan yang terkonsentrasi ke area kecil gigi yang dapat mengikis enamel dan menyebabkan kerusakan gigi.

Pada dasarnya, apapun yang terbuat dari atau dengan plastik dapat melepaskan bahan kimia berbahaya, seperti BPA (bisphenol-A), ke dalam minuman, makanan, atau produk perawatan kulit. Ini dapat menyebabkan angka masalah kesehatan jangka panjang, seperti kanker, penyakit jantung, dan diabetes.

Christy mengatakan, sedotan plastik yang dibuat dari bahan kimia juga harus diperhatikan. Kebanyakan sedotan plastik sekali pakai terbuat dari polypropylene, sejenis plastik yang umumnya terbuat dari minyak bumi.

Bahan tersebut sebenarnya dianggap aman oleh Food and Drug Administration. Namun, bahan kimia ini dapat terserap ke dalam cairan dan dapat melepaskan senyawa yang memengaruhi tingkat estrogen, terutama ketika terkena panas, minuman asam atau sinar UV.

Jolene Brighten, dokter naturopati, menyarankan untuk menghindari sedotan plastik sama sekali. Plastik pada umumnya menimbulkan ancaman utama bagi kesehatan dengan melenyapkan pengganggu endokrin (zat kimia yang mengganggu hormon). “Saya sarankan menghindari plastik, terutama yang bersentuhan dengan makanan Anda, sesering mungkin,” ucapnya.

Baca:   Tanda-Tanda Melahirkan Sudah Dekat Bagi Ibu Hamil

Jika Anda termasuk orang yang sering minum dengan menggunakan sedotan, bisa beralih pada penggunaan sedotan berbahan aluminium, baja tahan karat, dan titanium yang tahan karat. Sedotan ini dianggap pilihan paling ramah lingkungan karena bisa digunakan berkali-kali.

Dari berbagai sumber

Laporan: Hariati

  • Bagikan