SMPN 4 Baubau Belajar Pakai Dua Metode, Nomor Absensi Jadi Penentu

  • Bagikan
Aktivitas di SMPN 4 Baubau. (Foto: Aisyah Welina/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: BAUBAU – SMP Negeri 4 Baubau, Sulawesi Tenggara menerapkan dua metode selama pembelajaran tatap muka terbatas. Secara bergantian siswa mengikuti metode belajar ini berdasarkan urutan nomor absensi.

Metode belajar siswa di SMPN 4 Baubau, yaitu belajar tatap muka di sekolah dan belajar daring.

Siswa yang nomor absensinya 1-16 akan mengikuti belajar tatap muka, sementara nomor absensi 17-32 akan belajar daring. Kegiatan ini berlangsung selama seminggu. Ketika pekan berikutnya, siswa akan tukaran metode belajar. Dan begitu seterusnya.

Lama pembelajaran tatap muka di sekolah juga dibatasi, dari biasanya 40 menit untuk satu mata pelajaran berubah menjadi 30 menit saja. Para guru dalam hal ini dipacu dengan waktu untuk menjelaskan materi sekaligus membuat siswa tidak ketinggalan pembelajaran.

Khusus siswa yang belajar daring, disesuaikan dengan materi yang didapatkan pada pembelajaran tatap muka di hari yang sama. Kemudian pada pekan berikutnya juga demikian. Aktivitas belajar ini sudah dilaksanakan SMPN 4 Baubau sejak 30 Agustus 2021.

Klik gambar diatas untuk melihat jadwal tes

“Hari ini (materi) belajar tatap muka sama dengan materi yang di-upload di classroom itu (belajar daring),” jelas Mahmud selaku Kepala Sekolah, Jumat (3/9/2021).

Ia menambahkan, kedatangan siswa juga diatur tiga gelombang pada Senin sampai Kamis. Kelas VII pukul 07.30-11.00 WITA, Kelas VIII pukul 08.00-11.30 WITA, dan Kelas IX pukul 08.30-12.00 WITA.

Baca:   Korban Penganiayaan Oleh Sekelompok Warga di Baubau Meninggal, Berikut Kronologi Versi Polisi

Metode ini sesuai dengan hasil rapat bersama dewan guru membahas tentang teknis pelaksanaan tatap muka terbatas.

Metode ini juga dipertegas dalam Surat Edaran Wali Kota Baubau Nomor 13/SE/2021 tentang perubahan pertama addendum SE Nomor 11 Tahun 2021.

Selain hal di atas, para guru dan pegawai serta siswa di SMPN 4 Baubau sudah divaksinasi. (B)

Laporan: Aisyah Welina
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan