Taman Baca Kapo’a, Lahir dari Kebiasaan Nongkrong Hingga Mimpi Menerbitkan Buku

  • Bagikan
Gode-gode Taman Baca Kapo'a sebelum memiliki rumah baca. (Foto: Dok Taman Baca Kapo'a)

SULTRAKINI.COM: BAUBAU – Taman Baca Kapo’a merupakan salah satu taman baca yang lahir dari sekelompok pemuda asal Kota Baubau yang bercita-cita menghidupkan literasi, kebiasaan membaca, dan menulis pada anak muda bangsa Indonesia di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Salah satu pemuda Kota Baubau, penggiat taman baca Kapo’a, La Faris, mengatakan taman baca ini berawal dari kebiasaan anak-anak yang sering nongkrong di gode-gode, gazebo yang terbuat dari kayu berlantaikan bambu dan atap rumbia yang sebelumnya merupakan tempat kumpul para kelompok tani di lingkungan Lamangga Atas, Kelurahan Lamangga, Kecamatan Murhum, Kota Baubau.

“Hanya pas pandemi 2020 gode-gode jadi ramai sama anak-anak yang sibuk main game online,” kata Faris, Jumat (21 Januari 2021).

Melihat hal tersebut, La Faris bersama beberapa temannya, Ramdan, Hafiz, Alan, Madan, dan Adi berkeinginan untuk mengubah gaya nongkrong tersebut dengan kebiasaan-kebiasaan literasi sehingga dibentuklah taman baca Kapo’a.

“Target Kapo’a sebenarnya untuk teman-teman remaja dan mahasiswa, tapi alhamdulillah anak-anak TK dan SD yang lebih dulu menghidupi Kapo’a,” jelasnya.

Pada Oktober 2020, taman baca Kapo’a konsisten membuat lapak baca setiap minggu di gode-gode sehingga beberapa pemuda Kota Baubau yang suka dengan kegiatan literasi mulai berdatangan. Saat ini Kapo’a memiliki rumah baca sendiri dengan suasana baru yang digabung dari hasil donasi.

Baca:   Generasi Milenial Rentan Terpapar Hoaks

“Yang jadi perhatian utama teman-teman sebenarnya kurangnya budaya baca, literasi, dan diskusi, kemudian budayanya kita yang mulai terkikis, bahasa wolio, adab, dan cerita-cerita tentang buton,” ucapnya.

Sepanjang 2021, Faris mengaku penggiat Kapo’a sudah beberapa kali melakukan kegiatan mulai dari belajar menulis bersama, podcast gode-gode, medium timurmatahari, lomba 17 Agustus, dan beberapa kegiatan positif lainnya.

Penggiat Kapo’a lain, Erik. Ak.a Fathul Karimul Khair yang akrab dipanggil Erik merupakan lulusan sastra di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Universitas Hasanuddin, Makassar juga turut bergabung dengan taman baca Kapo’a.

Kemudian bersama penggiat Kapo’a lain mempraktikan latihan menulis dan diskusi yang selama ini sering dilakukan di Kapo’a dengan menjadi kontributor dalam sebuah buku yang diterbitkan bersama teman-teman lain di Indonesia yang diberi judul Selama Matahari Masih Tenggelam (SMMT).

Kata Erik, pengurus Kapo’a bermimpi akan menerbitkan buku yang membahas isu-isu tertentu di Buton dan sekitarnya melalui suatu pendekatan literer yang dilakukan di Kapo’a.

Menurutnya, fenomena sosial, politik, dan kebudayaan di sekitar bisa dipahami melalui satu pembacaan yang lebih filosofis dan lebih seru.

Erik berharap, di Kapo’a akan terus dilakukan proses belajar bersama dan diskusi tentang produk-produk pengetahuan terkait isu-isu tertentu sekitar Buton, khususnya di Baubau.

Baca:   Petaka Tambang Nikel, Kawasan Hutan Baubau Hancur Digarap PT BIS

Membetuk suatu diskusi yang tidak mengawang-ngawang karena memiliki rujukan yang jelas. Nyinyir dan hate speech dibedakan dengan kritik yang sistematis dan bermartabat.

“Tujuannya agar cakrawala pandang kita terhadap sesuatu bisa lebih luas dan bisa lebih memiliki landasan konkret yang berangkat dari referensi pembanding, baik itu berupa film, buku, musik, puisi, dan karya-karya lain,” ucapnya. (C)

Laporan: Aisyah Welina
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan