Tanaman Cabai Diintegrasikan dengan Buah Naga di Bombana

  • Bagikan

SUTRAKINI.COM: Tanaman cabai (Capsicum spp) merupakan jenis tanaman hortikultura yang cukup penting, banyak ditanam di berbagai tempat daratan di Sulawesi Tenggara. Kandungan gizi dan vitamin yang terkandung dalam cabai cukup banyak seperti: kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium dan vitamin A, B1 maupun vitamin C.

Selain itu harga cabai yang dinamis, sehingga harga cabai terkadang sepedas rasanya. Beberapa kali harga cabai melonjak yang menurut catatan dapat mencapai lima puluh ribuan bahkan sampai seratus ribuan per kilogramnya. Untuk itu tim pengabdian Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Wambarema, Bombana melakukan kegiatan pembuatan demo plot budidaya cabai rawit-intercropping dengan tanaman buah naga.

Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi TA 2021. Juga mendapat dukungan dari Dinas Pertanian, Bombana, (Kepala Dinas Pertanian Ir. Muhammad Siarah, M.Si) dan Ir Ardi, SP, MP IPM Wakil Ketua DPRD Kab. Bombana, serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM-UHO). Kegiatan pengabdian PPDM ini diketuai oleh  Ir. H. Syair, MP (Pertanian) dengan anggota Rahim Aka. S.Pt, MP (Peternakan), Dr. Ir. Yusnaini, DEA (Perikanan) dan Ir. H. Abd, Rahman (Pertanian).

Program PPDM ini telah memasuki tahun kedua dengan menerapkan pola pengembangan dari hasil kegiatan tahun pertama salah satunya adalah penanaman buah naga. Maka pada tahun kedua dibuat demplot pola integrasi cabai dan buah naga. Pola integrasi cabai dan buah naga bertujuan mengedukasi masyarakat-petani mitra agar memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk membudidayakan cabai yang nilai ekonomi cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman sayuran lainnya.

Baca:   5 Fakta Green Job akan Booming di Indonesia

Pola intergrasi ini diharapkan akan memberikan pendapatan musiman dan tahunan bagi mitra. Artinya terjadinya kesinambungan pendapatan dari tanaman semusim dan tahunan. Keuntungan ekonomi bagi petani, karena dapat memperoleh penghasilan musiman sebelum memperoleh penghasilan tahunan dari tanaman buah naga. Sementara dari sisi ekologi juga sangat baik karena dapat meningkatkan biodiversitas sehingga diharapkan pertanian berkelanjutan dapat diwujudkan. Efisiensi penggunaan lahan juga menjadi lebih baik dibandingkan hanya menggunakan model monokultur.

Kegiatan ini diawali dengan penyuluhan yang bertujuan memberikan pengetahuan tentang teknik budidaya tanaman cabai, khususnya penyemaian benih cabai dengan teknik rockwool, pemaparan tentang keuntungan penggunaan mulsa, manfaat pola tanam intercropping dan cara-cara dasar untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman cabai. Setelah itu dilakukan praktek penyemaian dengan media rockwool dan pembuatan demplot tanaman cabai dan diikuti pendampingan terjadwal dan pemeliharaan tanaman cabai sampai tanaman menghasilkan.

Teknik penyemaian cabai diperkenalkan kepada mitra, yaitu cabai tidak disemaikan dengan media tanah top soil tetapi menggunakan media semai rockwool (rockwool growing media). Keuntungan media semai rockwool dapat menghasilkan benih yang lebih seragam, persentasi tumbuh yang tinggi (lebih dari 95%), dan pemeliharaan benih selama dipenyemaian lebih mudah.

Baca:   The Covid-19 Pandemic and Employment in Southeast Sulawesi

Proses pindahtanam ke bedengan relatif mudah dibandingkan dengan cara penyemaian konvensional dan yang paling penting tanaman tidak mengalami stres yang berlebihan. Hal ini disebabkan keberadaan rockwool yang dapat menyimpan air lebih baik dibandingkan dengan media lainnya.  Efek baik selanjutnya, benih lebih tahan terhadap stress air sehingga penyulaman benih pasca pindah tanaman lebih sedikit dibandingkan dengan menggunakan media lain. Bukan hanya teknik penyemaian dengan rockwool yang digunakan tetapi juga petani dibimbing untuk menggunakan mulsa plastik hitam perak.

Pengunaan mulsa ini dapat membantu mengurangi pertumbuhan gulma juga mengurangi serangan hama karena adanya efek pantulan ke bagian bawah daun tanaman. Selama pemeliharaan tanaman cabai yang dilakukan oleh petani mitra, petani mitra dibimbing untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman cabai. Tanaman cabai yang dibudidayakan berhasil dipanen oleh petani mitra, juga dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar. Berdasarkan informasi petani cabai harga cabai rawit di lokasi adalah Rp. 10.000/kg yang langsung dipetik oleh pembeli.

Secara umum respon petani mitra cukup baik, namun edukasi lanjutan masih perlu dilakukan mengingat penguasaan teknik budidaya petani mitra masih perlu ditingkatkan dengan cara pengulangan atau replikasi agar petani mitra memiliki tambahan pengalaman. Masih dibutuhkan pendampingan khusus untuk budidaya tanaman termasuk cara-cara pengendalian hama dan penyakit serta teknik-teknik budidaya. Termasuk bagaimana pengembangan pemasaran cabai secara konvensional atau dengan menggunakan media sosial atau menggunakan pemasaran secara digital. Untuk itu ucapan terima kasih kepada Kemendikbudristek, Ketua dan staf LPPM UHO, Dinas Pertanian Bombana dan Bpk. Ir. Ardi, SP,MP, IPM (anggota dewan DPRD Bombana), petani mitra (Wa Maku) dan Kepala Desa Wambarema Andi Majid atas dukungannya selama kegiatan berlangsung.

Baca:   Warga Protes, Pengembang BTN Triloka Tunggala Hancurkan Fasilitas Jalan dan Drainase

Laporan: Shen Keanu | Sumber Press Release

  • Bagikan