UMK-WWF Indonesia Teliti Dampak Penangkapan Ikan di Wakatobi

  • Bagikan
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) dan WWF Indonesia ketika Focus group discussion (FGD) nelayan di Kabupaten Wakatobi. (Foto: UMK)
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) dan WWF Indonesia ketika Focus group discussion (FGD) nelayan di Kabupaten Wakatobi. (Foto: UMK)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) bekerjasama dengan World Wide Fund For Nature (WWF) Indonesia mengkaji dampak aktivitas penangkapan nelayan ikan terhadap keberlanjutan sumber daya ikan karang dan lobster di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kajian dampak aktivitas penangkapan ikan 12-21 Oktober 2018 itu merupakan langkah awal sebagai referensi mendorong rencana pengelolaan ikan karang dan lobster demi keberlanjutan sektor ekonomi.

Kabupaten Wakatobi kami jadikan tempat kajian karena lautnya kaya akan sumberdaya ikan karang dan lobster,” ujar Kepala Pusat pengabdian kepada Masyarakat UMK, Edy Hamka, Minggu (21/10/2018).

Pengumpulan data dilaksanakan di tiga pulau yang ada di Wakatobi, yakni Pulau Wanci, Kaledupa, dan Tomia dengan tujuan mengidentifikasi dan menilai dampak penangkapan terhadap keterancaman populasi dan habitat ikan karang dan lobster, termasuk ekosistem terumbu karang di Kabupaten Wakatobi.

ibu alimazi

“Hasil kajian di tiga pulau ini akan kami paparkan dan diskusikan bersama stakeholder penting di Kabupaten Wakatobi, yaitu Dinas Perikanan, Balai Taman Nasional Wakatobi, Balai Karantina Ikan Kelompok Nelayan, dan pemerhati lingkungan,” jelas Edy.

Lanjut Edy, komoditi ikan dan lobster termasuk sumberdaya perikanan penting di Indonesia yang bisa meningkatkan perekonomian, khususnya Sultra. Namun cara penangkapannya akan mempengaruhi kelestarian habitat tersebut.

Baca:   KPU Kendari Tunda Penetapan Caleg Terpilih Pemilu 2019

“Harga jual dan permintaan ikan karang ini cukup tinggi sehingga menjadi penyebab utama tingginya aktivitas penangkapan terhadap kedua komoditi tersebut,” tambahnya.

Laporan: Rifin
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan