Wartawan, Pagi dan Gubernur

  • Bagikan
Sejumlah gubernur di Sulawesi Tenggara.

Ada sisi menarik dalam hubungan komunikasi antara wartawan dan kepala daerah. Kedekatan profesional yang terbangun selalu polos, jujur, dan terbuka. Wartawan menjadi salah satu elemen terdepan dalam menyerap wacana dan ide yang dilontarkan kepala daerah, di situasi nyaman yang tentu saja tanpa protokoler.

Secara normatif wartawan memang diminta “berjarak” dengan penguasa, kepentingannya adalah untuk menjaga netralitas dalam menjalankan fungsi sosial kontrol. Terutama menjaga kepentingan masyarakat yang harus dilayani oleh kepala daerah yang mereka pilih. Jadi jika ada yang menyebut dirinya wartawan, tapi tidak kuasa menolak keinginan kepala daerah yang berhadapan dengan kepentingan masyarakat, tampaknya sulit disebut wartawan, karena mereka sudah menyandang profesi baru sebagai pekerja humas.

Banyak kisah menarik dialami wartawan dalam masa-masa kepemimpinan gubernur Sulawesi Tenggara dari waktu ke waktu. Saya membatasi kurun waktu ini dari kepemimpinan Gubernur Alala hingga Gubernur Ali Mazi saat ini. Kisah-kisah inipun dibatasi waktu kejadiannya, dari subuh hingga pagi hari. Jika ingin memperdebatkan jam berapa yang dimaksud dari subuh hingga pagi hari, silakan melihatnya di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Gubernur Alala

Gubernur Sultra yang menjabat dari tahun 1982-1992. Dikenang dengan pendekatan dan strategi pembangunan wilayah perdesaannya yang dinamakan Gerakan Desa Makmur Merata (Gersamata). Program ini menitikberatkan peningkatan produksi pertanian, terutama komoditas kakao, yang sempat membuat Sultra sebagai produsen kakao yang diperhitungkan secara nasional.

Di masa kepemimpinan Alala, tidak banyak wartawan yang berada di sekelilingnya. Hanya terdapat wartawan perwakilan media nasional, LKBN Antara Sultra, dan media lokal Kendari bernama Media Kita (Kendari Pos saat ini).

Baca:   Para Kepala Daerah di Sultra 'Dikumpulkan' KPK

Suatu pagi di tahun 1992, di area perkebunan PT HASFARM Ladongi, saya yang saat itu mulai menulis di pers kampus Universitas Haluoleo, bertemu Alala yang melakukan sidak dan sekaligus mengapresiasi rencana pelaksanaan program pertukaran pelajar mahasiswa dari International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS). “Biar mereka tau, kita (Sultra) nantinya adalah produsen terbesar kakao di Indonesia,” ucapnya lantang pagi itu. Pernyataan Alala itu ternyata bukan mimpi, paling tidak sampai tahun 2015, Sultra masih tercatat sebagai produsen kakao terbesar di Indonesia dengan rata-rata hasil panen lebih dari 1 juta ton per tahun.

Pagi lainnya di masa-masa akhir jabatannya di tahun 1992, saya teringat cerita wartawan LKBN Antara Sultra, almarhum Zainuddin Bakulu saat berkesempatan sarapan dengan Alala di rumah jabatan. “Banyak sekali orang yang tidak suka sama saya, yang saya tidak mengerti alasannya. Biar komorang bolak balik seperti apa, namaku ini Alala….tetap ji Alala,” katanya. Ada benarnya, liat saja nama Alala, dibaca dari belakangpun tetap Alala. Obrolan pagi itupun menjadi renyah, meski sang gubernur curhat tentang gangguan politik di sekitar pemerintahannya.

Gubernur La Ode Kaimoeddin

Putra asli kelahiran Kabupaten Muna ini menjabat sebagai Gubernur Sultra di tahun 1992 hingga tahun 2003. Dikenang dengan langkahnya memutakhirkan Data dan Penataan Kota Kendari sebagai ibu kota Sultra khususnya penataan sarana jalan dan penataan rumah-rumah penduduk menurut rencana tata kota.

Baca:   Barang Antik Hilang, Siapa yang Peduli?

Di suatu pagi di tahun 1993, penghuni wisma HMI di Jalan Saranani tiba-tiba terbangun akibat suara yang keras akibat pintu bangunan mendadak terbuka akibat didobrak orang dari luar.

Saat pintu terbuka, kami yang masih tergeletak di atas meja, dan kursi yang dijadikan tempat-tempat tidur, bahkan yang tertidur di atas lantai berlantai tikar sontak terbangun.

“Apa komorang ini,” Bentakannya keras sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Bicaramu saja yang banyak, tapi tempatmu seperti kandang kambing,” suaranya meninggi sambil matanya tidak berhenti menyapu sekeliling ruangan yang berantakan.

Kami hanya terdiam. Memang wisma HMI saat itu hanya sepetak gubuk berlantai semen dan berdinding kayu yang dikelilingi rawa penuh tanaman kangkong yang tersembunyi di dalam lorong sempit. Saat itu HMI Cabang Kendari dipimpin Albar Made Ali (Almarhum).

“Bagaimana komorang bisa berpikir bagus kalau tempatmu seperti ini hah?,” katanya geram. Peristiwa pagi itu adalah awal dibangunnya wisma HMI Cabang Kendari, karena beberapa hari kemudian, mendadak berdiri tenda karena sang gubernur mengundang semua pejabat untuk hadir di sana dan menggalang dana serta bantuan natura untuk pembangunan wisma. Meski terbangun dengan setengah nyawa, kami mengenang pagi itu hingga saat ini.

Baca:   Bongkar Pasang Rujab Gubernur, Rumah Barbie yang Tidak Pernah Selesai

Wartawan Indarwaty Aminuddin juga pernah menuturkan pengalamannya saat olahraga dengan Kaimoeddin di Kendari Beach. Saat beristirahat, menurut Indar, Kaimoeddin tiba-tiba berkata “Saya mau membangun Kota Kendari seperti kota di dalam taman,” ujarnya sambil melepaskan pandangan ke arah teluk.

Gubernur Nur Alam

Menjadi gubernur 2008-2017. Tidak sedikit kisah pagi yang terekam bersama wartawan dalam kepemimpinannya. Wartawan Sawaluddin Lakawa menuturkan, dalam banyak kesempatan selepas salat subuh berjamaah Nur Alam berjalan-jalan dengan wartawan. Banyak ide yang dilontarkan, seperti soal Masjid Al Alam, objek wisata Bokori, dan jembatan teluk Kendari, termasuk perbaikan Masjid Agung Al-Kautsar.

Di pagi yang lain di tahun 2012, wartawan Muhammad Djufri Rachim berbincang dengan Nur Alam. Saat itulah ide untuk membangun jembatan yang menghubungkan Pulau Makasar dengan daratan Kota Baubau. Nur Alam mencoret-coret ide gagasan jembatan itu diteras rumah, hasilnya meski berukuran minimalis, jembatan senilai 20 miliar rupiah tersebut sudah dinikmati masyarakat yang bermukim di Pulau Makasar.

Gubernur Ali Mazi

Menduduki jabatan Gubernur dalam 2 (dua) masa jabatan. Periode pertama tahun 2003-2008 dan periode kedua saat ini menjabat sejak tahun 2018.
Maaf, tabe…jujur saja tulisan ini belum bisa saya selesaikan, seperti gubernur-gubernur sebelumnya karena belum pernah bertemu dengan wartawan yang bisa menceritakan pengalamannya bertemu dengan sang gubernur di pagi hari.

Penulis: AS. Amir

  • Bagikan