Waspada DBD di Tengah Pandemi, Dinkes Mubar Sarankan Ini

  • Bagikan
Ilustrasi (Sumber: Liputan6.com)
Ilustrasi (Sumber: Liputan6.com)

SULTRAKINI.COM: MUBAR – Di tengah masa pandemi Covid-19, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia meningkat hingga kini. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus DBD mencapai lebih dari 700 ribu kasus.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Dinkes Mubar, Almawin  mengatakan, DBD adalah salah satu tantangan terberat Pemerintah Indonesia, beban kesehatan masyarakat yang juga mengancam kesehatan. Kasus DBD di Kabupaten Muna Barat sampai pada pertengahan tahun 2021 ini sebanyak 5 kasus.

“Di tengah pandemi ini, kita juga harus menekan angka kesakitan DBD. Kita harus tetap bergerak, memantau nyamuk baik secara mandiri, bersama-sama, maupun bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas yang tersebar di wilayah masing-masing,” ujar Almawin saat ditemui di kantor Dinkes Mubar, Jumat (3 September 2021).

Ia meminta agar masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan secara berkala paling sedikit sekali dalam sebulan.

“Mari perhatikan saluran air, tempat nyamuk bertelur, dan tempat-tempat lain yang mengakibatkan air tergenang,” terangnya.

Menurut dia, Nyamuk Aedes Aegypti lebih senang bersarang di air yang bersih yang dibiarkan tergenang. Olehnya itu, ia menyampaikah langkah pencegahan dengan melakukan 3M, yakni menguras penampungan air bersih atau mengeringkan genangan air, menutup kolam atau wadah penampungan air, dan mengubur barang bekas atau mendaur ulang limbah bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk.

Baca:   Berantas DBD, Dinkes Andalkan Fogging dan Abate

“Mari lakukan pola 3 M yaitu menguras, menutup, dan mengubur wadah tempat tergenang nya air,” tegasnya.

Almawin menambahkan, langkah lain yang lebih praktis adalah untuk tidak menggantung pakaian bekas pakai yang berpotensi menjadi tempat bersembunyi nyamuk DBD di dalam rumah.

Klik gambar diatas untuk melihat jadwal tes

“Jangan menggantung pakaian yang sudah dipakai, biasakan langsung dicuci setelah beraktivitas, karena ini juga dapat memicu keberadaan nyamuk,” ucapnya.

Sejalan dengan pesan pemerintah untuk memberantas Covid-19 dengan 5 M, sekaligus dapat mencegah DBD dengan pola 3 M.

Lebih lanjut, Almawin meminta agar masyarakat untuk berkoordinasi dengan pihak tenaga kesehatan di wilayah masing-masing jika menemukan gejala penyakit DBD.

Sementara itu, ia juga menyampaikan ciri-ciri gejala DBD karena gejala DBD tidak langsung muncul. Misalnya, seseorang baru merasakan gejala pada 4 hingga 10 hari setelah digigit nyamuk bervirus dengue. Gejala paling umum yaitu demam tinggi hingga 40 derajat celcius.

Gejala lain berupa sakit kepala, nyeri tulang, nyeri otot, mual, muncul bintik merah di kulit hingga pendarahan pada hidung dan gusi.

“Gejalanya berupa muntah, nyeri perut, perubahan suhu tubuh dari demam menjadi dingin atau hipotermia, dan melambatnya denyut jantung. DBD menyebabkan kematian ketika penderitanya mengalami syok karena perdarahan,” tambahnya.

Baca:   Resahkan Warga, Kadis DLH Wakatobi Tinjau Aktivitas PT Golden Prima

Belum ada obat spesifik untuk melawan DBD. Pemberian obat hanya ditujukan untuk mengurangi gejalanya, misalnya demam, nyerinya, serta mencegah komplikasi. Selain itu, penderita DBD dianjurkan untuk banyak istirahat dan cukup minum agar tidak mengalami dehidrasi.

“Mari lindungi diri kita, lindungi keluarga, mulai dari rumah untuk melawan COVID-19 dan mencegah DBD,” tutupnya. (B)

Laporan: Hasan Jufri
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan