Kasihan Siswi Ini, Dianiaya Pihak Sekolah, Diabaikan Kepolisian

SULTRAKINI: BUSEL – Dunia pendidikan lagi-lagi tercoreng. Seorang siswi tingkat akhir SMAN 1 Batuatas Kabupaten Buton Selatan, Wa Rani, menerima tindakan penganiayaan dari guru honorer di sekolahnya. Parahnya, pihak sekolah juga menambah penderitaannya dengan memberikan sanksi dan menghentikan dana bantuan subsidi pemerintah kepadanya.Padahal gadis remaja ini sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional sebagai tahapan akhir dia bersekolah di SMAN 1 Batuatas.Dari keterangan orang tua angkatnya, Wa Naa, kejadian yang dialami Wa Rani tersebut sekitar bulan Desember 2015. Oknum guru honorer bernama Rudi, menganiayanya lantaran tidak bisa menjawab soal Matematika yang diberikan. Sang guru menyuruh korban berdiri di atas meja sembari mengangkat sebelah kakinya.\”Jadi saat itu, Wa Rani tidak kuat mengangkat kakinya sehingga oknum guru honorer bernama Rudi menggunakan benda tumpul (kayu) untuk memukul kakinya. Karena tidak tahan dengan pukulan yang diarahkan ke kakinya, sehingga korban langsung lari menuju ke luar ruangan,\” tutur Wa Naa yang ditemui, Sabtu (27/2/2016).Hal itu rupanya memancing emosi guru tersebut. Ia pun mengejar korban keluar ruangan dan menendang badannya dari arah belakang. Tak terima dengan perlakuan gurunya, korban pun langsung melapor ke Polsek Batuatas. Pihak kepolisian memberikan Laporan Polisi: LP/14/xii/2015/SULTRA/RES Baubau/Sek Batuatas pada tanggal 2 Desember 2015. Namun, laporan tersebut hingga kini belum ada tanda adanya perkembangan. Sejak dilaporkan sampai sekarang, belum ada pemeriksaan dari pihak berwenang terhadap pelaku yang mengakibatkan korban trauma ke sekolah.Anehnya, pihak sekolah malah memberikan sanksi kepada korban karena dianggap tidak pernah datang ke sekolah. Bahkan menghentikan pemberian subsidi dana bantuan siswa kepada Wa Rani. Padahal, kedua orang tua gadis remaja itu sudah meninggal.Ia pun menderita fisik dan batin akibat perlakuan guru, pihak sekolah dan kepolisian. Wa Rani merasa tak mendapat keadilan dari para pendidik maupun aparat penegak hukum.\”Bukan saja dianiaya fisiknya tapi juga batinnya, serta hak privasi yang jelas mengganggu kestabilan psikologi. Mestinya dengan metode pembelajaran kurikulum Sisdiknas tidak diperbolehkan lagi adanya kekerasan didalam dunia pendidikan nasional sekarang. Tentu kejadian ini merupakan salah satu aib dan akan menjadi sejarah kelam terhadap dunia pendidikan nasional kita,\” kesal Wa Naa.Sebagai wali siswa, Wa Naa menilai ini merupakan tindakan yang tidak berlandaskan aspek keadilan. Pasalnya korban disuruh harus memohon-mohon maaf kepada guru honorer tersebut, karena nilai mata pelajarannya tergantung kebijakan guru bersangkutan.\”Kata pihak sekolah, yang bertanggung jawab terhadap nilai Matematika pihak guru itu. Takutnya jangan sampai tidak diluluskan Wa Rani ini, kasian kan, anak ini sudah gadis yatim piatu, malah pihak guru itu memberlakukan seperti itu,\” keluh Wa Naa dengan nada kecewa. (C)Editor: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.