Iklan Clarion

Dikritik DPD RI Air di Kendari Tidak Sesuai Indikator, Ini Jawaban PDAM

SULTRAKINI.COM:KENDARI – Pelayanan air bersih di Kota Kendari memang penuh masalah, mulai air kotor, aliran macet hingga besaran tarif merupakan keluhan yang kerap menjadi sorotan masyarakat. Bahkan permasalahan ini, juga menjadi sorotan dri anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Wa Ode Hamsina.

 

[ Klik Banner untuk ke Halaman Registrasi ]

Menurutnya, pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) seharusnya memperhatikan indikator, agar kebutuhan air untuk masyarakat khususnya di Kota Kendari dapat terpenuhi seluruhnya.

 

\”Masih kurang di Kota Kendari ini, kalau dibandingkan dari daerah lain, semua daerah yang saya kunjungi di sultra ini masih kurang (pemenuhan air bersih-nya).\” ungkapnya pda kunjungan di Kota Kendari, pada Kamis (7/4/2016).

 

Dijelaskannya juga, ada ampat indikator yang harus di penuhi PDAM untuk dapat memenuhi ketersediaan air khususnya di Kota Kendari, yakni kuantitas, kualitas, kontinuitas dan finansial.

 

Dari pengamatannya, Lanjut Hamsina, kuantitas air terus berkurang tiap tahunnya, sehingga pasokan untuk masyarakat-pun semakin devisit. Kualitasnya pun masih sangat buruk, seperti memindahkan air keruh dari gunung ke bak penampungan.

 

Tak hanya, kontinuitas penyaluran air belum sesuai dengan kebutuhan masyarakat, karena tekadang PDAM mengalirkan hanya air sekali dalam dua pekan. Ditambah lagi persoalan finansial, dimana biaya beban yang ditanggung masyarakat masih tergolong mahal serta tidak sebanding dengan pelayanan yang diberikan.

 

\”PDAM kan orientasi utamanya adalah terpenuhinya pelayanan air bersih bagi masyarakat. Walaupun perusahaan, tapi kan plat merah. Prioritas harus empat indikator tadi,\” ujar Wa Ode Hamsina.

 

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Kendari, Darmin, mengakui jika pelayanan air di Kota Kendari memang buruk, namun hal tersebut terjadi karena kurangnya fasilitas serta adanya faktor eksploitasi alam seperti penambangan dan penggundulan hutan yang menyebabkan ketersedian air kita menurun.

 

\”Fasilitas yang kurang diantaranya seperti pompa, karena berhubungan dengan kontinuitas pelayanan, seperti yang seharusnya tiap hari air mengalir, jadinya malah tidak kontinu karena kurangnya pompa, dan saya juga sudah mengajukan proposal untuk penambahan fasilitas,\” ungkapnya pada SULTRAKINI.COM.

 

Sedangkan untuk permasalalahan terkait tarif lanjut Damin, harga air itu ditetapkan oleh pemerintah Kota Kendari.

 

Damin menjelaskan, terkait prioritas utama penanganan air, Dirinya berbeda pandangan dengan Anggota DPD, Wa Ode Hamsinah. JIka Anggota DPD asal Sultra itu memprioritaskan indikator seperti kuantitas, kualitas, kontinuitas dan finansial, maka Damin memiliki pandangan lain, bahwa yang paling diprioritaskan terlebih dahulu adalah optimalisasi WTP atau pengelolaan air, setelah itu baru penambahan kapasitas.

 

\”Ia berujar demikian karena menurutnya jika kapasitas (air) di tambah untuk meningkatkan kuantitas dengan tidak mengoptimalisasikan pengelolaan air, maka kualitasnya tidak menjamin.\” Tutup Damin

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.