SUARA

Kolaborasi Kendari dan Makassar Dalam Sketsa Kanvas

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pelukis Kendari dan Makassar berkolaborasi dalam pameran lukisan yang digelar di Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tenggara. Pameran yang bertema antara Kendari dan Makassar ini digelar sejak 13 hingga 16 Oktober 2016. Delapan pelukis asal Makassar dan Kendari meramaikan pameran ini. Mereka yakni Masjidi, Kahar Wahid, Benny Subiantoro, Ardi Pranata, Husain, Rasyidi, Ld. Djagur Bolu, dan Najamuddin.

Sebanyak 59 lukisan karya delapan pelukis berbagai aliran tersebut, mulai dari aliran surealis, abstrak, dan kubisme dipamerkan. Lukisan yang dipamerkan mulai dari yang berbahan cat minyak sampai yang menggunakan kulit telur. Juga ikut ditampilkan 10 patung karya mereka di pameran tersebut. 

Di sela-sela pameran, mantan Dosen Seni Rupa Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar, Kahar Wahid menunjukkan kebolehannya membuat lukisan beraliran abstrak. Seperti tak mau kalah, Benny Subiantoro juga unjuk kebolehan dengan membuat lukisan bertema surealis. Tak butuh waktu lama, kurang dari tiga puluh menit keduanya menyelesaikan lukisannya masing-masing.

Menurut inisiator kegiatan, Masjidi, pameran ini diadakan sebagai ajang nostalgia antara dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Makassar. “Kegiatan ini sebagai nostalgia kami dengan dosen kami di IKIP Ujung Pandang (UNM) dan kami mahasiswanya,” katanya di lokasi pameran, Kamis (13/10/2016) malam.

yamaha

Kepala Taman Budaya Sulawesi Tenggara, Dody Syahrulsyah, mengapresiasi pameran tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan sebuah momentum yang langka di Kota Kendari. “Ini sesuatu yang langka di Kendari, makanya kami berterimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini,” katanya.

Para pengunjung tampak meramaikan pameran ini. Mulai dari tua hingga anak muda serius memperhatikan setiap lukisan yang dipajang. Kalangan mahasiswa menjadi pengunjung terbanyak di malam pembukaan tersebut.

Galih salah seorang pengunjung mengatakan kegiatan seperti ini jarang digelar di Kota Kendari. Meski tak begitu paham dengan tema setiap lukisan, tetapi ia takjub dengan permainan warna dari setiap lukisan. “Saya tidak terlalu paham dengan lukisan, tetapi saya suka dengan permainan warna dari setiap lukisan. Semoga ke depan ada kegiatan semacam ini lagi dan dengan ruangan yang lebih terbuka dan karya yang lebih banyak,” kata Galih.

Banyak pengunjung yang mengabadikan setiap lukisan dengan kamera handphone mereka. Beberapa juga ikut berfoto dengan latar lukisan yang ada. Rencananya kegiatan ini masih akan dilakukan di tahun ini dengan tema yang berbeda.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.