Peran Wanita dalam Kebangkitan Nasional

Oleh: HAWAERA

(Pembina Yayasan Amal Sholeh Kendari)

 

Melihat indonesia masa depan akan membentuk karakter kita sekarang. Tentu saja, cara pandang kita tentang masa depan adalah dengan memperhatikan sejarah dan perjalanan Hari Kebangkitan Nasional perlu direfleksikan dalam bentuk perenungan dan perjalanan bangsa. Sehingga grand desain masa depan negara bisa dirumuskan secara komperhensif.

 

Bila kita melihat sejarah Kebangkitan Nasional, setidaknya ada dua peristiwa penting yang menandainya. Pertama berdirinya organisasi Budi Utomo tanggal 20 mei 1908, keuda lahirnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 oktober 1928. Dua faktor tersebut dirumuskan dalam satu unsur pendukung kebangkitan nasional, yakni pendidikan dan persatuan.

 

Kemudian dua unsur tadi dipelopori oleh satu golongan yaitu pemuda. Ini jelas bahwa wanita sangat berperan penting dalam Kebangkitan Nasional, baik dalam peristiwa sejarah atau masa sekarang dan masa depan.

 

Sampai lahir sebuah ungkapan bahwa “bila kita merusak moral satu orang laki-laki, maka kita hanya merusak satu orang laki-laki itu sendiri, tapi bila kita merusak satu orang wanita, maka itu sama halnya kita merusak banyak generasi”. Dari ungkapan ini, bisa ditarik kesimpulan yang serupa bahwa bila moralitas wanita di negeri ini baik, maka akan menghadirkan generasi yang baik. Bahkan dalam pendidikanpun, pendidikan pertama bagi genarasi/anak-anak ialah keluarga. Dan yang lebih berperan di sini adalah seorang ibu.

 

Oleh karena peran wanita begitu besar, maka seorang wanita perlu memiliki bekal dan kecerdasan dalam mendidik generasi. Setidaknya ada 4 bekal yang harus dimiliki oleh wanita.

yamaha

 

Pertama adalah Kecerdasan spritual, yakni kekuatan agama. Kekuatan agama ini tergambar dari kemurnian aqidah, rutinitas ibadah, dan ketaatan lainnya kepada Sang Kholiq. Dengan kecerdasan spritual ini, seorang wanita akan memiliki dan mempu melakukan sikap-sikap positif.

 

Kedua, Kecerdasan intelektual yakni seorang wanita memiliki kepakaran ilmu dan keluasan pemahaman. Hal ini tergambar dengan adanya kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa.

 

Ketiga adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasiakan suatu hubungan.  Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.

 

Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang. Inilah yang dinamakan kecerdasan Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

 

Terakhir adalah kecerdasan jasadi. Kemampuan ini sangat penting untuk dimiliki sebab maksimalisasi peran-peran tiga kecerdasan yang lain akan berjalan manakala kita memiliki jasad yang sehat dan bisa bergerak.

 

”Selamat hari kebangkitan nasional, jadilah wanita yang inspiratif”

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.