Iklan Clarion

Rusman Emba: Pemimpin Membangun dengan Peradaban Bukannya Menganut Sistem Feodalisme

SULTRAKINI.COM: MUNA – Bupati Muna, LM. Rusman Emba, ST menyatakan peradaban adalah sesuatu yang tercipta di tengah masyarakat dimana nilai demokrasi dijunjung tinggi, bukan pemerintahan yang menganut sistem otoriter, kekerasan dan feodalisme. Karena peradaban membawa semangat rasa kebersamaan, gotong royong dalam membangun daerah dengan tetap menjaga keutuhan, keharmonisan dan keyakinan.

Hal itu diungakapkan Bupati Muna, LM. Rusman Emba saat menggelar halal bil halal pada Senin (17/6/2019), yang dihadiri unsur Forkopimda, ASN dan 260 CPNS.

Rusman Emba tidak menampik jika dimasa kepemimpinannya yang baru berjalan dua tahun sembilan bulan banyak hal yang belum sempurna. Namun, katanya hal tersebut tidak bisa dijadikan indikator kegagalan.

Karena, menurutnya Muna saat ini baru saja merintis, dan yang dimaksud dengan indikator keberhasilan suatu daerah yakni mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Sulawesi Tenggara (Sultra), dimana dimasa kepemimpinannya bersama Malik Ditu telah mendapat predikat tersebut untuk ketiga kalinya.

“Bagaimana bisa kemajuan sesuatu daerah yang dibangun puluhan tahun, mau diselesaikan dalam waktu hanya dua sampai tiga tahun saja, itu tidak mungkin karena semua butuh tahapan tapi yang pasti kita akan terus membangun dengan spirit yang luar biasa,” ujar Rusman Emba.

Rusman Emba juga turut membeberkan sejumlah kemajuan yang terjadi di Muna, diantaranya dengan masuknya tol laut. Hal itu tentunya membawa dampak positif bagi masyarakat, karena tidak susah lagi untuk memasarkan hasil pertanian.

“Terbukti sekarang ini kita sudah mengirim hasil pertanian hampir mencapai 1000 ton menggunakan tol laut dalam kurun hanya beberapa bulan saja, dimana selama ini kendala masyarakat susah mencari transportasi untuk memasarkan hasil pertaniannya,” ujarnya.

Meski belum sempurna, lanjut Rusman, Kabupaten Muna saat ini mulai ramai dengan aktivitas ekonomi di malam hari dibanding sebelumnya yang nampak sunyi jelang malam.

Bangunan rumah adat Barughano Wuna yang dianggap sederhana, menurut Rusman bukan persoalan bangunannya yang kecil dengan menelan anggaran sekitar Rp 3 miliar, namun lebih kepada spirit pembangunannya tentang peradaban Kabupaten Muna.

“Sebagai hamba Allah kita harus banyak bersyukur, karena hidup itu semakin kita bersyukur maka nikmat Allah senantiasa datang. Jadi kalau ada yang sakit hati tapi hati iklhas, maka Allah akan menggantikan dengan sesuatu yang membahagiakan,” pungkasnya.

Laporan: Arto Rasyid
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.