SUARA

Alumni Mesir Pimpin Desa Wawolaa

SULTRAKINI.COM: KONAWE KEPULAUAN – Beruntung sekali warga Desa Wawolaa, Kecamatan Wawonii Barat, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Sebab warga dipimpin oleh ahli ilmu hadist dari Al-Azhar Kairo Mesir.

Aulia Rahmat Lc namanya. Anak bungsu dari delapan bersaudara ini lahir di Desa Waworope, Kecamatan Wawonii Utara, 5 April 1988. Usianya 30 tahun, anak dari Almarhum N.A Haepa dan Ummu Hukayya. Aulia Rahmat telah memiliki istri bernama Aisyiah Maryam Am. Keb.

Aulia Rahmat menghabiskan masa kecilnya di Desa Wawolaa. Tamat Sekolah Dasar Wawolaa tahun 2000. Ayahnya yang saat itu menjadi kepala desa membawa Aulia ke Kendari untuk bersekolah di Pesantren Ummusabri setara SMP dan dilanjutkan juga di tempat itu satara SMA.

Bakatnya menghafal Al Quran dan kepiawaiannya berceramah sudah nampak bagus dan tidak diragukan lagi. Usai menutaskan pendidikannya tahun 2006, dia melanjutkan ke perguruan tinggi Al-Azhar Kairo dan lulus tahun 2014.

Selama tiga tahun di Kairo, Auli Rahmat melewati suasana politik di ‘negeri Piramid’ tersebut secara bergejolak. Jutaan warga turun jalan meneriakan yel-yel untuk menurunkan Presiden Husni Mubarok.

Aksi demonstrasi itupun disambut dengan moncong senjata pasukan keamanan. Suara teriakan demonstran silih berganti dengan suara tembakan senjata api dan deru tank baja. Suara menderit botol yang dijadikan bom molotov pun menambah suasana mencekam. Kondisi itu dirasakan Aulia Rahmat.

Kini dirinya mengemban tugas sebagai Kepala Desa Terpilih hasil Pilkades serentak di Konkep 10/10/2017 lalu. Amanah masyarakat terhadap tokoh pemuda berlatarbelakang penceramah haruslah menjadi pemimpin unggulan. Segala sesuatu keputusan harus dilakukan musyawarah untuk menghasilkan mufakat bersama.

Saat disambangi di kediamanya, Dusun Satu, Desa Wawolaa, Aulia Rahmat bersama warga sedang kerja bakti membenahi balai desa dan masjid.

Usai kerja bakti, Aulia Rahmat dan warga menerima awak media ini dengan suasana penuh keakraban. Dalam cerita panjang tersebut, Rahmat bercerita bahwa sebelum memutuskan calon kepala desa, dirinya melakukan perenungan panjang, sebab pihaknya tak begitu paham dunia politik. Sebagai umat beragama, meminta doa kepada yang maha kuasa harus dilakukan melalui

doa dan meminta petunjuk melalui salat Tahajjud.

yamaha

“Dalam doa jika memang menjadi kepala desa adalah jalan pengabdian yang membawa kebaikan hidup orang banyak, maka bukakanlah jalan, namun jika ini membawa petaka maka tutuplah jalan ini,” pintanya dalam doa.

Doa inipun terjawab melalui desakan permintaan masyarakat agar maju bertarung di Pilkades. Alhamdulillah amanah inipun diberikan masyarakat pada saat pemilihan kepala desa.

“Saya berharap besar dalam kepemimpinan di desa ini mendapat dukungan dan bimbingan dari semua pihak terutama tokoh masyarakat Desa Wawolaa. Secara pribadi memiliki program mencetak generasi muda di Wawolaa sebagai hafis-hafisa atau penghafal quran. Kemudian mendorong masyarakat menjadi petani unggulan, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta berbagai program lainnya yang bisa meningkatkan sumber daya manusia,” jelasnya.

 Aulia Rahmat menceritakan proses Pilkades yang sarat dengan politik uang atau politik jual beli suara.

“Alhamdulillah di Desa Wawolaa ini terdiri 67 KK 213 jiwa masih banyak yang memilih bukan karena dikasih uang, tapi mereka memilih karena dorongan nurani. Jika ingin melahirkan pemimpin yang amanah dan tidak korupsi, maka pilih bukan karena uangnya tapi pilih karena kemampuannya,” ujarnya.

Aulia Rahmat terpilih memimpin Wawolaa dengan perolehan 93 suara dan mengalahkan dua lawannya.

Alumni kampus yang sama dengan Ustad Abdul Somad ini juga mengatakan saat ini lagi giat-giatnya melakukan pembenahan Masjid dan balai desa, mengigat sarana ini sangat dibutuhkan untuk melakukan pembinaan pada perangkat dan anak-anak agar dapat diberikan bimbingan baik dari segi emosional, spritual, dan leadership (Esq).

Di tempat yang sama seorang warga berkata, karakter seperti pak Rahmat begitu diinginkan oleh warga desa ini. “Kami berharap dibawah pemerintahanya bisa memberikan perubahan secara signifikan. Walau sering dikembangkan bahwa uang adalah penentu dalam kemenangan, namun semua itu bisa ditepis warga Wawola,” ungkapnya.

“Uang (money politic)  bukanlah segalanya, tidak semua masyarakat berpikir hal itu. Dan ini dibuktikan sosok Aulia Rahmat, begitu banyak warga memintanya untuk maju sebagai kepala desa. Alhasil, warga Desa Wawolaa membuktikan keinginan mereka dapat menjadikannya sebagai Kades definitif. Semoga dibawah buah tangan dinginya bisa menjadikan desa ini sebagai desa percontohan kedepanya,” harapnya.

Laporan: Kalvin

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.