SULTRAKINI.COM: KENDARI - Sekretaris Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tenggara (Sultra), Suwandi, meminta TNI dan Polri segera mengungkap kasus pengeroyokan secara profesional yang terjadi 11 September 2017 lalu di Lorong Konggoasa, BTN Sartika Indah, Kelurahan Watulondo, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, karena adanya dua orang pelaku yang mengaku sebagai intel.

DPRD Sultra Tegaskan Penuntasan Pengeroyokan di Lorong Konggoasa
Ilustrasi. (Foto: Google)

"Profesionalnya, harus mencari pelaku itu, tanyakan siapa intel itu, TNI/Polri atau gadungan harus diungkap, kalau memang intel betulan ditindak," tegas Suwandi.

Menurutnya, kekerasaan yang terjadi terhadap korban Rahmat Pasari alias Fikran (18) merupakan pengeroyokan yang harus dituntaskan. Sebab oknum bukan hanya menjemput bersama rekannya, tapi mempitting dan membawanya ke rumah keluarga pelaku untuk dipaksa mengaku dengan cara meninju, menampar, menendang, menginjak-injak, mengancam membunuh, dan membakar dalam drum minyak agar korban mengakui kalau dirinyalah yang mencuri telepon genggam milik keluarganya.

"Ini juga menakuti-nakuti korban saat pelaku memperkenalkan dua intel itu. Meski seperti itu, tetap dicari pelakunya, lalu ditanya siapa teman-temannya yang diperkenalkan intel itu, karena mereka juga adalah pelaku yang harus diperiksa dan dihukum kalau terbukti turut dalam pengeroyokan itu," tutur Suwandi, Rabu (25/10/2017) di ruangnya.

Kata dia, bukan hanya polisi yang memiliki intel, namun TNI dan beberapa institusi memiliki intel, sehingga ini harus tuntas agar tidak menjadi beban ketakutan bagi korban yang baru memasuki usia dewasa 18 tahun. 

"Saya membaca dari media, korban sekarang mengungsi karena trauma. Apalagi pelaku pernah datang mengamuk di rumah korban, mengancam akan memukulinya dan mengakui dirinyalah yang menganiyaya korban, secepatnya ini harus dituntaskan, sebab akan menjadi beban psikologis korban," harap Suwandi.

Menurutnya, penyebutan intel oleh pelaku sudah menyangkut masalah institusi, ada intel Polri, Bin dan TNI. 

"Seharusnya institusi ini tersinggung dengan penyebutan intel. Parahnya lagi, kalau yang disebut itu intel sunguhan dari institusi tersebut, karena sudah tidak mengayomi dan melindungi hak setiap warga negara, justru turut dalam pengeroyokan itu," tambahnya.

Kepala Penerangan Korem 143/HO Kendari, Mayor Azwan Dinata mengungkapkan akan memburu para pelaku tersebut dan mengungkap kasus pengeroyokan itu."Semua yang ada di tempat kejadian, kita akan tanyai, baik saksi maupun pelaku itu sendiri," jawabnya melalui sambungan telepon.

Korban sendiri Fikran, saat ini berada di pengungsian di Kecamatan Mandonga, Kota Kendari. Nampak dari pantauan media, korban terlihat kurus akibat trauma yang dialaminya.

(Baca: Korem/143HO Cari Pelaku dan Saksi Pengeroyokan di Lorong Konggoasa)


Sumber: SMSI

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations