Iklan Clarion

Dua WNI Yang Diculik di Malaysia Ternyata Warga Wakatobi

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Penculikan terhadap warga negara Indonesia (WNI) kembali terjadi di Negara Bagian Sabah, Malaysia. Kali ini menimpa dua WNI berprofesi nelayan yang diduga diculik di Terumbu Pegasus, Perairan Kertam, sekitar 13 – 15 mil laut dari Muara Kuala Kinabatangan, Perairan Sabah, Malaysia, Sabtu (5/11/2016) sekitar pukul 11.00.

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan pernyataan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Minggu (6/11/2016) kedua WNI yang diculik merupakan warga Kabupaten Buton. Namun berdasarkan informasi yang diterima SULTRAKINI.COM, kedua kapten kapal yang diculik kelompok bersenjata tersebut yakni La Hadi dan La Utu ternyata warga Kabupaten Wakatobi.

La Utu bin La Raali yang menjadi Kapten Kapal SSK 00520F adalah warga Desa Balasuna Selatan, Kecamatan Kaledupa. Sementara La Hadi bin La Adi yang diculik dari Kapal SN 1154/4F yang dinahkodainya berasal dari Kelurahan Mandati III, Kecamatan Wangi-wangi Selatan

Adik La Hadi yang menjadi korban penculikan, La Ane saat ditemui SULTRAKINI.COM, Rabu (9/11/2016) membenarkan perihal penculilkan kakanya (La Hadi) itu. Diceritakannya, ia mendapatkan informasi terkait penculikan tersebut dari salah seorang yang mengunakan Hanphone selular milik La Hadi.

Saat itul, kata La Ane, orang tersebut mengatakan bahwa La Hadi telah diculik sekelompok orang bersenjata saat tengah berlayar.

“Pada hari itu ada yang menelpon saya menggunakan nomor kakaku namun pada saat berbicara bukan kakakku yang berbicara namun melainkan orang lain yang mengaku berasal dari Bugis Bone dan lokasi si penelepon mengaku bekerja di Felda (daerah sekitar Malaysia),” tutur La Ane.

Setelah menerima telpon tesebut, dari seseorang yang menggunakan handphone La Hadi, kata La Ane mengaku ditelepon oleh istri La Hadi yang bernama Nayati, dan menginformasikan hal yang sama.

La Ane menceritakan, La Hadi berangkat ke Malaysia tahun 1983. Sebelumnya La Hadi pernah merantau mengunakan kapal ke Singapura untuk berdagangkan rotan. Setelah itu kemudian berangkat ke Malaysia untuk bekerja di kapal penangkap udang.

“Terakhir dia (La Hadi) bekerja di Kapal SN 1154/4F. La Hadi bekerja sudah puluhan tahun sebagai nelayan di Malaysia. Pertama masih jadi ABK kapal sampai sekarang ini sudah jadi Sara’a (kapten kapal),” jelas La Ane.

Dijelaskanya, La Hadi tinggal bersama seorang istri dan enam orang anaknya (4 perempuan dan 2 laki-laki) di Sabah Malaysia.

La Hadi diketahui terakhir kali pulang kampung ka Wakatobi saat Idul fitri tahun 2014 lalu dan rencananya akan pulang kampung Desember 2016 ini. La hadi merupakan anak ke empat dari lima bersaudara (2 perempuan, 3 laki-laki ).

Sementara itu, ditemui dalam kesempatan berbeda, anak korban penculikan, La Utu, yakni Wa Gagu menceritakan pada SULTRAKINI.COM, dirinya mengetahui perihal penculikan ayahnya itu dari ibunya melaui sambungan telepon dari Malaysia Sabtu (5/11/2016) sekitar pukul 14.00 Wita.

Diceritakan Wa Gagu, ayaknya (La Utu) sudah tinggal Saba di Malaysia, bersama istri dan seorang anaknya sejak puluhan tahun lalu. La Utu merupakan perantau yang berasal dari Desa Balasuna.

Berdasarkan informasi yang dihimpun SULTRAKINI.COM, La Utu diketahui pulang ke Wakatobi sekitar 10 tahun yang lalu untuk mengurus sekolah anaknya yang bernama Wa Gagu.

Dikutip dari sejumlah media nasional, dua nakhoda asal Indonesia diculik dari kapal Sandakan di Perairan Pantai Timur Kuala Kinabatangan yang lokasinya dekat dengan Filipina pada hari Sabtu (5/11/2016). Kedua orang tersebut diculik secara terpisah.

Penculikan dua nelayan terjadi sekitar pukul 11:00 waktu setempat ketika mereka sedang memancing di Daerah Terumbu Karang Perairan Kertam sekitar 13 sampai 15 mil laut dari muara Kuala Kinabatangan, Negeri Sabah, Malaysia.

Kedua nakhoda Indonesia yang diculik berusia 52 tahun dan 46 tahun. Kapal-kapal mereka dicegat dan dirampok pada sekitar pukul 11.00 dan 11.45 waktu setempat.

Para penculik membawa senapan, lalu merampok kapal dan menculik dua orang nahkoda dari dua kapal. Para penculik kemudian terlihat menuju wilayah Tawi-Tawi, di Filipina Selatan. Sementara itu, enam warga lainnya aman dari penculikan.

Atas peristiwa ini, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi melakukan pertemuan dengan Menteri Besar Sabah, Dato Musa Aman, di Kota Kinabalu, Malaysia, Selasa (8/11/2016). Dalam pertemuan tersebut, Retno membahas penculikan nelayan warga negara Indonesia (WNI) di perairan Malaysia.

Dikutip dari kompas.com, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan, Retno menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas terulangnya kejadian penculikan nelayan WNI di perairan Malaysia. Terakhir, dua WNI diculik di Perairan Sabah Sabtu (5/11/2016).

“Menlu juga mengulang kembali permintaan yang pernah disampaikan sebelumnya agar Pemerintah Malaysia memberikan jaminan keselamatan bagi sekitar 6.000 WNI yang bekerja di kapal-kapal penangkap ikan Malaysia,” kata Iqbal dalam keterangan persnya, Selasa (8/11/2016).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.