SUARA

Kadie Liya Dapat Bantuan Penguatan Adat Untuk Jaga Kelestarian Laut

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Wakatobi memberikan bantuan Rp 40 juta sebagai penguatan kelembagaan adat Kadie (wilayah) Liya, Senin (15/1/2018). Bantuan salah satunya untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan bagi kesejahteraan nelayan, berupa beberapa kelengkapan snorkling, sarung adat, kris, keker, dan karpet.

“Jangan dilihat berapa nilai barang yang dikasih, karena bila dibandingkan kontribusi Sara (adat) Kadie Liya sangatlah besar, namun lihatlah ini sisi manfaatnya sebagai sarana untuk menjaga laut kita,” kata Pelaksana Tugas Kepala DKP Wakatobi, Oktawianus saat penyerahan bantuan di lapangan benteng Liya, Senin (15/1/2018).

Oktawianus mengatakan, bantuan tersebut merupakan hak sara sehingga jika ada yang ingin meminjam sarana tersebut bisa langsung berhubungan dengan meantu’u Liya atau para sara.

Bantuan tersebut diberikan kepada sara kadie Liya, karena disamping sara Kedie Liya memberikan kontribusi besar dan berperan aktif dalam menjaga sumberdaya laut di wilayahnya, Kadie Liya juga sudah siap secara struktur dan dikukung oleh warganya.

Sementara itu, Meantu’u (Ketua Adat) Liya, La Ode Muhammad Ali mengucapkan rasa berterimakasihnya kepada pemerintah daerah atas perhatiannya dengan adat Kadie Liya.

yamaha

Dia menjelaskan, dari dahulu hingga sekarang dalam struktur sara Kadie Liya, ada yang khusus ditugaskan menjaga laut. “Bahkan dibagian pulau Sumanga dijaga ketat karena bagian situ merupakan tempat bertelur dan perkembangbiakan ikan,” ujarnya.

Dia berharap masyarakat setempat bisa menggunakan alat penangkap ikan ramah lingkungan guna menjaga kelestarian laut sebagai sumber penghidupan utama.

“Jangan menggunakan bom, racun, dan alat tangkap perusak lainnya. Kita juga ini tidak mau kalau rumahnya kita dirusaki orang, sama juga dengan ikan,” Tegasnya

Kadie Liya terdiri dari Lima desa, yaitu Desa Liya Togo, Liya Bahari Indah, Liya Mawi, Liya Onemelangka, dan Desa Wisata Kolo.

Laporan: Amran Mustar Ode

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.