SULTRAKINI.COM: WAKATOBI - Sudah jatuh tertimpa tangga pula, hal ini seperti yang dialami oleh tiga mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STAI) Wakatobi, Harjo, Ramli, dan Alwi. Usai ketiganya menjadi korban pemukulan saat menggelar aksi protes pengangkatan ketua BEM pada 30 Desember 2017, kini tersebar kabar mereka telah di Drop Out (DO) oleh pihak pengelola kampus.

Usai Dipukuli, Tiga Mahasiswa STAI Wakatobi di DO
Bentrok mahasiswa SAI Wakatobi terkait penolakkan pemilihan ketua BEM secara aklamasi. (Foto: Amran Mustar Ode/SULTRAKINI.COM)

"Saya di SMS (Short Message Service) oleh ketua tingkat Jurusan Hukum Syahriah, semeter 7 bahwa saya, Harjo, dan Alwi sudah dinonaktifkam dari kampus," kata Ramli, Jumat (1/12/2017).

(Baca: Aksi Protes Pengangkatan BEM STAI Wakatobi, Mahasiswa Kena Pukul)

Kabar DO tersebut rupanya mengundang banyak komentar dari salah satu grup WhatsApp. Seperti salah seorang anggota Si Ferdy.R, yang menyarankan ketika melakukan aksi perlu melibatkan senior kampus sebagai pengamanan aksi.

Hal ini berbeda dengan komentar anggota alinnya, Omi. "Hebat itu La Karim (Ketua I STAI Wakatobi) eee..seolah tidak ada apa-apanya dedengkot-dedengkot (senior) HmI di Wakatobi," tulis Omi.

Bahkan menurut Anggota grup lainnya, Aliadin Damantale, ia sudah memprediksi sejak awal akan diberhentikan tiga mahasiswa tersebut. "Sudah diprediksi sebelumnya, jadi santai aja, jaga semangat, tetap konsisten dan fokus pada tujuan," ujarnya.

Usai mengkonfirmasi kabar tersebut, Ramli yang juga turut disebut sebagai daftar DO dibenarkan oleh pihak STAI Wakatobi.

"Ternyata informasi DO itu benar, karena hanya kami lakukan aksi. Saya kira itu tindakan yang tidak dewasa. Apalagi dilakukan oleh pengelola kampus. Masyarakat awam pun tahu mereka adalah orang-orang yang berintelektual dan dan bahkan menyandang gelar master," katanya.

Hingga berita ini dinaikkan, STAI Wakatobi belum dapat di konfirmasi.


Laporan: Amran Mustar Ode

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations