Pedagang Peci dan Baju Muslim Raup Keuntungan Banyak di Bulan Ramadan

  • Bagikan
Peci-peci laris terjual di Bulan Ramadan, (Foto: Hardiyono Zimani/SULTRAKINI.COM)
Peci-peci laris terjual di Bulan Ramadan, (Foto: Hardiyono Zimani/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Bulan Suci Ramadan menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang peci dan baju muslim di Kota kendari, Sulawesi Tenggara  dengan meraup keuntung banyak.

Walau kondisi pandemi, rupanya tak mempengaruhi para pedagang peci di bulan Suci Ramadan menjualkan dagangannya. Hal ini juga menjadi, keberuntungan ditengah sulitnya perekonomian akibat merebaknya wabah penyakit berbahaya itu.

Abu Maryam, salah satu pedagang peci di sekitar pasar panjang, Jalan Sorumba, Kelurahan Wowawanggu, Kecamatan Kadia, Kota Kendari mengaku penjualan peci miliknya di bulan Ramadan saat ini tetap ramai meski kondisi pandemi Covid-19.

“Saya jualan peci ini sudah berjalan sepuluh tahun dan walapun masih pandemi Covid-19 di bulan Ramadan ini dagangan saya tetap ramai dikunjungi pembeli,” ujarya, Rabu (28/4/2021).

Tak hanya peci, Ia juga menjual berbagai macam busana muslim lainnya, seperti jubah, sirwal, baju muslim (baju kokoh), hingga baju gamis.

Untuk harganya sendiri, bervariasi mulai dari peci anak-anak, peci rahut, dan peci nasional yang paling rendah dihargai Rp 5 ribu, Rp 10 ribu hingga harga Rp 50 ribu rupiah.

Sedangkan untuk baju kokoh sendiri  yang paling rendah dihargai Rp 80 ribu rupiah dan yang paling tinggi diharga Rp 100 ribu lebih keatas.

Baca:   Pasar Murah, Solusi Pemkot Kendari Stabilkan Lonjakan Harga di Bulan Ramadan

Klik gambar diatas untuk melihat jadwal tes

“Bukan hanya peci mas saya jual, tapi baju kokoh juga ada. Dari baju kokoh anak-anak hingga orang dewasa dengan kualitas berbeda-beda dan tentunya harganya juga berbeda,” cetusnya.

Tak tanggung-tanggung di bulan suci Ramadan ini, ia mengaku mendapatkan untung puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah dari hasil penjualan peci dan busana muslim lainnya.

“Ahamdulilah mas, keuntungan yang saya dapatkan lumayan besar, apalagi mendekati Hari Raya Idul Fitri dan setelah idul fitiri biasanya masyarakat berburu baju kokoh dan peci sehingga keuntungan yang dapatkan tak sedikit,” pungkasnya.

Abu Maryam Mulai membuka lapaknya pada pukul 8.00 pagi hingga pukul 22.00 Wita. Tapi biasanya, akunya, apabila sudah mendekati Hari Raya Idul Fitri ia berdagang hingga pukul 24.00 Wita.

“Ya kalau hari-hari biasa saya jualannya mulai jam 8 pagi sampai jam 10 malam tapi kalau sudah dekat lebaran menjelang tujuh hari lagi hari raya saya tutupnya sampai jam 12 bahkan sampai jam 2 doniu hari karna pembeli masih ramai,” tutupnya. (C)

Laporan: Hardiyono Zimani
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan