Paud Kominfo atas

Es Kutub Mencair Laut Siberia Timur Mendidih

SULTRAKINI.COM: Para ilmuwan berjumlah 80 orang melakukan perjalanan ke Siberia untuk mengelidiki efek mencairnya lapisan es di kawasan kutub timur yang belum lama ini. Faktanya, mereka sangat terkejut lantaran lautan tampak mendidih.

Pemandangan yang mengejutkan itu dipicu gelembung-gelembung metana yang naik dari dasar laut. Para peneliti mengatakan, konsentrasi metana di laut Siberia timur antara enam dan tujuh kali tinggi dari rata-rata global, lautan pun mendidih.

“Para peneliti terkejut dengan penemuan tersebut, peneliti mengatakan ini sumber air gas paling kuat yang pernah mereka lihat, tidak ada yang mencatatkan hal seperti ini sebelumnya,” kata Igor Semiletor, Ketua peneliti dari Universitas Politeknik Tomsk.

Para ilmuwan menyatakan, temperatur udara di barat laut Kanada, Siberia, dan berbagai daerah lain di Arktik meningkat lebih dari 2,5 derajat selsius sejak 1970, jauh lebih cepat dari rata-rata kenaikkan temperatur global.

Melelehnya es Arktik pada musim panas 2009 mengajukan tanah permaftmst yang selalu membeku jauh lebih dalam dengan laju peningkata I.i inci pertahun. Inter-goovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah badan yang disponsori perserikatan Bangsa-bangsa, memperkirakan kenaikkan temperatur pada abad ini dapat mencapai 7 derajat selsius.

Ini sangat berdampak dengan kehidupan manusia. lepasnya deposit gas metana itu dikhawtirkan membawa bencana bagi manusia, mempercepat laju pemanasan global. Dibandingkan dengan karbon dioksida, metana mempunyai kekuatan merangkap panas surya hingga 20 kali lipat.

Proyek dimulai setelah para peneliti mengamati tingkat metana yang mengalami peingkatan di seluruh wilayah. Tim sains mengemukakan peningkatan metana berasal dari lapisan es yang mencair dan menyebar ke bagian-bagian Siberia ketika suhu di kawasan itu naik. Saat udara menghangat metana pun “terbebaskan”.

Pada 2017, para ilmuwan Rusia menyelidiki kawah besar di wilayah Arktik Siberia yang kemunculannya disebabkan oleh pembentukan gelembung metana yang sangat besar di bawah tanah. Gelembung akan terbakar atau meledak hingga menciptakan kawah yang sangat besar.

Sebelumnya danau di Alberta, Kanada terdokumentasi sangat kaya metana sehingga udara di atas permukaannya dapat terbakar saat dinyalakan dengan api. Namun lapisan bawahnya gas membeku dalam gelembung padat yang tersuspensi di dalam air. Para peneliti mengaitkan kelebihan metana ini dengan perubahan iklim dan mengatakan peningkatan suhu global sebesar 1 derajat selsius akan terjadi.

Merembesnya gas metana itu sebnarnya mulai diketahui pada 2007, ketika pemantauan udara mendeteksi peningkatan konsentrasi metana di atmosfer, yang tampaknya berasal dari kutub utara para ilmuwan Rusia di Siberia menyalakan alarm, memberi peringatan akan potensi meroketnya gas rumah kaca, menambah temperatur bumi hingga beberapa derajat dan membawa kosenkuesi yang tidak terbayangkan bagi iklim bumi.

Emisi metana manusia adalah penyumbang terbesar kedua pemanasan global setelah karbon dioksida. Studi baru-baru ini menunjukkan emisi metana geologis manusia kemungkinan 25 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Meskipun tidak seterkenal karbon dioksida, metana merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih kuat sehingga tingkat kenaikkannya menjadi kontributor penting bagi pemanasan global.

Ada ketidakpastian mengenai sumber emisi metana manusia dan apakah telah berubah dari waktu ke waktu. Tetapi penelitian tersebut juga menemukan pengeboran minyak dan ekstraksi gas yang juga menjadi pemicu kenaikan tingkat metana atmosfer Bumi baru-baru ini.

Dari berbagai sumber
Laporan: Fatima

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.