Kamar Gelap Generasi Narkoba

Oleh : Naowati, S.Kom (Aktivis MHTI Sultra)

Hampir setiap hari, media cetak mupun elektronik Kota Kendari menyajikan berita tentang narkoba, bahkan ada yang sempat menjadi headline news alias berita utama. Semakin kesini berita-berita tersebut semakin memprihatinkan bahkan mengejutkan, bahwa ternyata pengguna didominasi kalangan pelajar. Hal ini cukup menimbulkan tanda tanya besar, ada apa dgn pelajar kita saat ini?. Disaat mereka yang mestinya menghabiskan waktu untuk belajar, menebar kreasi, membantu orang tua, menjadi kebanggaan agama dan negara, tapi apa yg terjadi?

 

\”Dari 34 provinsi di Indonesia, daerah kita menempati posisi ke-30 prevalensi pengguna narkoba,\” kata Fauzan yang didampingi Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba BNNP Sultra, Karim Samandi di Kendari, (sumber : sultra.antaranews.com/03 April 2016). Pengguna narkoba di Sultra yang mencapai 26.357 orang. Dari jumlah tersebut 66 persen didominasi pelajar (sumber : kendaripos.co.id/Sultra/05 April 2016)

 

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari menilai perlu adanya upaya pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba dilingkungan sekolah. “Angka pelajar yang menjadi coba pakai narkoba mencapai 66% di Kota Kendari”, ujar kepala BNN Kota Kendari Dra. Hj. Murniaty M., MPH.,Apt.,, saat penyuluhan di SDN 07 Kendari. (Kendari Pos/Edukasi/7 April 2016)

 

Tragedi Melanda Generasi

Sekitar 15.000 remaja meninggal setiap tahun di Indonesia akibat narkoba. Narkoba sudah merambah masuk ke sekolah, ada ratusan ribu pelajar Indonesia menjadi pecandu narkoba bahkan menjadi pengedar narkoba. Jaringan pedagang narkoba sudah memasuki lingkungan sekolah, kampus di semua kota dan kabupaten.

 

Narkoba merusak struktur syaraf, melemahkan daya ingat dan konsentrasi, depresi, serta pengguna rentan terkena HIV/AIDS terutama yang menggunakan jarum suntik dan seks bebas. Apalagi secara faktual gaya hidup narkoba sangat dekat dengan pergaulan bebas termasuk mengkonsumsi miras. Maka bsa dibayangkan generasi seperti apa yang kelak dilahirkan sebagai pemimpin kedepan jika masa mudanya hidup bergelimang narkoba.

 

Belum hilang dari benak kita kasus penangkapan mantan Bupati Ogan Ilir, AW Noviadi, 27 tahun akibat narkoba yang ternyata dari hasil pemeriksaan laboratorium, urine, darah, rambu, terbukti mengkonsumsi narkoba. Dari pemeriksaan tersebut dan dari pengakuannya bahwa sudah lama mengkonsumsi narkoba, karena hasil laboratorium sudah diatas batas maksimal (Sumber:detiknews.com). Artinya bisa jadi narkoba tersebut dikonsumsi sejak remaja, kita bisa bayangkan bagaimana generasi yang akan menjadi pemimpin kedepan jika masa remajanya seperti itu.

 

Peradaban Kapitalis, biang Kerok!

yamaha

Ketaqwaan personal jelas menjadi landasan pertama yang menjadi filter bagi seseorang ketika memilih suatu perbuatan akan dilakukan atau tidak. Tingkah laku seseorang tergantung dari pemahamannya terhadap sesuatu. Bila ketaqwaan dijadikan ukuran untuk memilah dan memilh maka akan jelas apa pilihannya, namun yang tejadi saat ini ketaqwaan sudah jarang dilirik generasi muda untuk dijadikan sebagai pertimbangan, yang paling pertama adalah kepuasan diri, apalagi dalam lingkungan yang pragmatis dan serba hedonis seperti saat ini.

 

Mencari remaja taqwa tidaklah mudah. Sebab seluruh lini kehidupan telah terkontaminasi pandangan hidup sekulerisme yang berasal dari ideology kapitalisme. Pandangan hidup ini menuntun manusia agar menjauhkan agama dari kehidupan. Agama dianggap sebagai penghalang bagi kemajuan.

 

Walhasil generasi yang tumbuh dalam sistem hidup saat ini menjadi generasi yang gampang ingkar kepada Penciptanya. Paham liberalisme dan permisifme (serba boleh) yang dipuja dalam sistem kapitalisme mendorong manusia berbuat sekehendaknya, tidak ada standar hidup seperti halal haram, terpuji tercela sebagaimana yang dipandu oleh agama. Kecnduan narkoba dianggap biasa, gaul bebas dianggap bagian dari gaya hidup modern, pornografi yang membombardir ranah privat melaui smartphone dan tayangan, dianggap sebagai sebuah kebutuhan.

 

Perilaku hedonisme yang ditumbuhsuburkan oleh kapitalisme telah menghipnotis manusia agar terlena dan lupa dengan negeri akhirat sehingga semakin banyak generasi muda yang gemar mengumbar syahwat, berpesta pora, disaat yang sama justru kegiatan yang bernuansa religi menjadi sunyi dengan segelintir remaja. Kapaitalisme menjadikan materi sebagai sumber kebahagiaan dan kesuksesan. Fakta remaja menjual diri demi materi, membuat kita menyadari betapa kapitalisme sangat jahat dalam merusak generasi.

 

Solusi Tuntas.

Sekedar meratapi angka 66% persen pelajar yang terkena narkoba tentu tak menyelesaikan masalah, apalagi jika dikaitkan dengan penyebab sistemik diatas. Harus ada upaya perubahan mendasar dan sisemik, baik pada tataran paradigmatik, sistem hukum dan implementasi yang berdasarkan pada aqidah dan syariah untuk mengganti sistem kapitalisme, jika kita benar-benar mengingikan generasi kita kedepan adalah generasi emas bukan generasi pecandu narkoba.

 

Peran yang tak kalah penting adalah para orang tua agar menjadikan orientasi mendidk anak bukan pada aspek materi tetapi menggapai pahala disisi Allah. Orang tua adalah pihak pertama yang akan menanamkan pandangan hidup yang benar pada anak, menjadikan anak-anak berwatak sholeh. Lingkungan masyarakat turut memberi andil, maka tugas kita semua melakukan pencerahan agar lingkungan menjadi tempat yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.

 

Tidak lupa peran media dalam memberkan asupan informasi yang sehat, menjadi second hand opinion yang akan turut membentuk paradigma positif pada generasi. Pada gilirannya pergiliran yang haq atas yang bathil adalah suatu keniscayaan, tinggal kita memilih mengambil peran yang mana, yang pasti kita harus mengambil peran positif menjauhkan generasi dari kerusakan, bukan menjadi sekedar peran penonton tapi bahu membahu mewujudkan generasi impian, generasi emas. Inilah pekerjaan besar para orang tua, masyarakat termasuk media dan negara.

 

Wallahua a’lam

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.