Iklan Clarion

Korban Tewas Penembakan di Papua Dievakuasi, TNI-Polri Buru Pembunuhnya

SULTRAKINI.COM: Proses evakuasi korban tewas akibat pembantaian yang dilakukan kelompok bersenjata terhadap pekerja jembatan di Kali Yigi dan Kali Aorak, Kabupaten Nduga, Papua terus dilakukan aparat gabungan TNI-Polri.

Korban tewas yang disebut-sebut 30 orang, diralat Polri. Jumlah korban dijelaskan Kapolri, Tito Karnavian sebanyak 19 orang dari pekerja jembatan dan satu korban tewas dari anggota TNI.

“Informasi sementara 20 (yang tewas). 19 pekerja dan satu anggota TNI yang gugur,” terang Tito, Rabu (5/12/2018).

Sehubungan proses evakuasi, Wakil Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Dax Sianturi, mengatakan rencananya evakuasi akan dilakukan terhadap 15 jenazah korban pembantaian di Nduga, Papua pada Kamis (6 Desember 2018). Evakuasi dilakukan tim gabungan TNI-Polri di Puncak Kabo, Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi.

“Rencana (dievakuasi) hari ini menggunakan pesawat heli. Tapi tergantung cuaca dan mempertimbangkan aspek keamanan,” ucap Dax dilansir dari Kompas.com.

Dalam penyisiran dan pengejaran oleh tim gabungan, 15 jenazah ditemukan. Satu korban selamat juga ditemukan bernama Johny Arung dalam kondisi lemas di Pos TNI Mbua.

Hingga kini pihak keamanan masih berusaha mengidentifikasi semua jenazah. Yang pastinya 15 jenazah tersebut merupakan pegawai PT Istaka Karya yang bekerja untuk pembangunan jembatan atau bagian proyek pembangunan jalan Trans Papua.

Kepala penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Infantri, Muhammad Aidi, mengaku kelompok bersenjata yang melakukan pembantaian memiliki senjata ilegal dengan standar militer, bahkan standar organisasi The North Atlantic Treaty Organization (Nato). Jumlah senjata tersebut puluhan. Namun pihaknya belum memastikan rincian kekuatan senjata kelompok itu.

Sejumlah senjata api yang dimiliki kelompok tersebut berasal dari hasil rampasan terhadap TNI-Polri di pos-pos penjagaan. Ada juga senjata dari luar negeri.

Akibat insiden tersebut, Kementerian PUPR memberhentikan sementara pekerjaan proyek jembatan Kali Aorak-Kali Yigi hingga situasi dinilai aman sesuai rekomendasi TNI-Polri.

Pembantaian pekerja proyek jembatan diduga dilatarbelakangi pengambilan gambar yang dilakukan karyawan PT Istaka Karya, saat anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sedang melaksanakan upacara peringatan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPNOPM) pada 1 Desember 2018.

Tindakan tersebut membuat KKB marah dan mendatangi Kamp Istaka Karya dan memaksa karyawan berjumlah 25 orang keluar dan digiring menuju Kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat.

Pada 2 Desember 2018, seluruh pekerja dibawa berjalan kaki menuju puncak Kabo dan menembaki para pekerja. Sebagian tertembak dan 11 di antaranya pura-pura mati dan terkapar di tanah.

Malangnya, ketika berusaha melarikan diri mereka terlihat oleh kelompok bersenjata, sebagian terbunuh dan sebagian berhasil kabur dan diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua. Saat itu terjadi adu tembak antara kelompok bersenjata dan TNI yang mengakibatkan satu dari anggota TNI Serda Handoko tertembak dan meninggal.

Saat ini, pemerintah telah mengirim sekitar 154 prajurit TNI-Polri ke Papua untuk memulihkan keadaan dan mencari para pelaku penembakan.

“Sekarang ini kurang lebih (tambahan) 154 TNI-Polri dikirimkan untuk pulihkan situasi yang terjadi. Kita tidak ingin masyarakat, baik itu yang bekerja atau penduduk asli, merasa tidak nyaman dan tidak aman. Makanya kita perlu segera mengembalikan situasi itu,” jelas Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko Rabu (5/12).

Sumber: Kompas.com

Laporan: Hariati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.