Tanggap Bencana Selesai, 9.958 Orang Korban Banjir dan Longsor di Kendari

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Tanggap bencana banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara pada 12-14 Mei 2017 lalu dinyatakan selesai 18 Mei 2017.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, sebanyak 3.369 kepala keluarga atau 9.958 orang menjadi korban bencana ini. Sebanyak 521 orang di antaranya harus mengungsi baik karena banjir maupun longsor.

Dikatakan Kepala BPBD Kota Kendari, Suhardin kepada SultraKini.Com Posko Pusat BPBD, Jumat (19/5/2017), data tersebut merupakan hasil yang dikumpulkan dari 11 kecamatan dan laporan dari seluruh kelurahan yang ada di Kota Kendari. 

“Kalau kerugian yang baru dihitung itu kerugian longsor mencapai Rp 5 miliar lebih. Kalau kerugian banjir masih dihitung taksirannya sekaligus kami koordinasi dengan Bappeda Kendari untuk tindaklanjut penanganan infrastruktur yang rusak,” jelas Suhardin. 

Untuk lokasi banjir, wilayah di sekitar Jembatan Wanggu Lepolepo memang yang terparah karena warga berada di tenda pengungsian hampir seminggu. 

Pantauan Sultrakini.Com Jembatan Kali Wanggu Lepolepo, Jumat (19/5/2017) siang,  warga terlihat mulai kembali ke rumah membereskan perabotan mereka masing-masing. Meskipun di halaman rumah mereka masih tampak lumpur tebal dan di beberapa titik terdapat genangan air. 

Tenda-tenda pengungsian di sepanjang jalan beberapa mulai dibongkar. Sedangkan yang belum dibongkar sudah kosong. Tak tampak lagi relawan maupun petugas yang beraktivitas seperti sehari sebelumnya. 

Sementara untuk bencana longsong, BPBD Kota Kendari mencatat terjadi di tiga kecamatan yakni Kendari,  Kendari Barat,  dan Abeli. Kondisi yang terparah melanda kelurahan Sodoha dan Gunungjati.

Meski tak merinci jumlah bantuan yang disalurkan melalui BPBD Kota Kendari, tetapi menurut Suhardin seluruh bantuan yang melalui BPBD langsung disalurkan melalui lurah yang wilayahnya terkena bencana. 

Walaupun masa tanggap bencana sudah selesai, Suhardin menegaskan jika masa tanggap bisa saja diperpanjang jika mendadak terjadi bencana susulan dalam waktu dekat. 

“Makanya kami menghimbau masyarakat khususnya yang bertempat tinggal di kemiringan dan pinggiran Sungai Wanggu dan kali Kadia agar tetap waspada,” tandasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.