Belajar Cara Menenun Tradisional Hanya di Stan HPN Pemda Muna

  • Bagikan
Penenun Desa Masalili Musrifa, saat mendemonstrasikan cara menenun dengan menggunakan alat tradisional di stan Pemda Muna, (Foto: LM Nur Alim/SULTRAKINI.COM)
Penenun Desa Masalili Musrifa, saat mendemonstrasikan cara menenun dengan menggunakan alat tradisional di stan Pemda Muna, (Foto: LM Nur Alim/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Stan pameran dalam rangka menyongsong perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Pemda Muna hadirkan penenun tradisional dari Masalili, menjadi ajang tontonan pengunjung, Senin (7 Februari 2022).

Penenun Desa Masalili Kabupaten Muna, Musrifa, mendemonstrasikan cara menenun dengan menggunakan alat tradisional, memainkan alat, benang, dan jari tangannya dengan lincah untuk menghasilkan kain tenun.

Demonstrasi ini menjadi daya tarik tersendiri. Bagi pengunjung yang ingin belajar cara menenun tradisional cukup mendatangi stan Pemda Muna.

Musrifa menceritakan, awalnya kain tenun merupakan kain biasa dari nenek moyang yang secara turun temurun dipelajari dan diturunkan kepada generasi, yang dahulu benangnya dihasilkan sendiri dari tanaman. Namun, saat ini seiring perkembangan zaman, untuk mendapatkan bahan baku tenun atau benang tenunan sudah ada di toko tinggal dibeli.

Benang untuk tenunan warnanya berbeda-beda. Dari situ lalu di padukan sehingga menghasilkan kain dengan berbagai macam motif ciri khas Muna.

“Motif kain tenun Masalili cukup banyak, misal motif kandole-dole, kalajengking, belah pinang, rase bintang, dan masih banyak lagi yang berkembang di Masalili,” kata Musrifa saat dijumpai di stan Pemda Muna saat mendemonstrasikan alat tenun tradisional, Senin (7/2/2022).

Baca:   Komunikasi dengan Rasak Buntu, PBB Alihkan Dukung ke ADP-SUL

Dia menambahkan, semua aktivitas tenun dilakukan sendiri, namun ketika menghani (benang digulung) sebelum di tenun dengan menggunakan satu orang personil untuk membantu.

“Kain tenun Masalili, sudah tembus mancanegara, bahkan hasil tenunan yang masih perwarnaan alam, sudah sampai ke negara Swiss,” ungkapnya.

Kata dia, sebelum Covid-19 melanda dunia, cukup banyak penghasilan yang didapatkan dan cukup menjanjikan untuk kehidupan dari hasil menenun.

“Untuk harga kain tenun cukup beragam sesuai dengan motifnya dengan panjang empat meter diangka kisaran Rp350 ribu sampai 2 juta. Kita hanya menghasilkan kain saja tidak memproses menjadi barang jadi,” bebernya.

Hasil kain tenun pengrajin, kemudian diolah menjadi barang jadi yang bermodel modern dan memiliki nilai ekonomi cukup bagus.

Dari informasi yang didapat pada Senin, 7 Februari 2022, kain tenun yang laku terjual kepada pengunjung sebanyak 10 kain seharga Rp 10 juta dan olahan kain tenun berupa tas yang laku terjual sebanyak 10 tas dengan rincian, tas slempang 4 buah seharga Rp 1 juta, tas tangan sebanyak 3 buah seharga Rp 600 ribu, dan tas totebag sebanyak 3 buah seharga 3,6 juta. (C)

Laporan: LM Nur Alim
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan