Pilkada koltim

Kemungkinan Kejutan di Pilkada Muna 2020

Oleh: Laode Harjudin (Pengajar Ilmu Politik FISIP UHO)

SUHU politik jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) mulai merangkak naik. Situasi politik panas-dingin itu sudah mulai terasa di Muna sejak tahapan pencalonan. Sampai menjelang detik-detik pendaftaran calon peserta pilkada Muna sudah mengerucut pada tiga nama, yaitu  L.M. Rusman Emba (incumbent/petahana Bupati Muna), L.M Rajiun Tumada (Bupati Muna Barat), dan Syarifuddin Udu (Pj. Gubernur Jawa Tengah (2018)/Dirjen Bina Keuangan Daerah Depdagri, 2017-2020). Masing-masing kandidat sudah menggandeng pasangan untuk menjadi wakilnya:  L.M. Rusman Emba berpasangan dengan Bahrun La Buta, L.M Rajiun Tumada berpasangan dengan La Pili, dan Syarifuddin Udu berpasangan dengan Abdul Hasid Pedansa.

Sejauh ini, dari tiga nama yang mencuat baru Rusman Emba dan Rajiun Tumada yang sudah mengamankan dukungan partai politik untuk memenuhi syarat sebagai calon peserta pilkada Muna. Sesuai akumulasi perolehan jumlah kursi di DPRD Muna, persyaratan untuk ikut bertarung dalam pilkada Muna harus memenuhi dukungan mnimal 6 kursi di DPRD Kab. Muna. Sampai saat ini Rusman Emba sudah mengantongi dukungan 12 kursi dari Partrai Golkar (4 kursi), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (4 kursi), Partai Keadilan Sejahtera (2 kursi), dan Partai Kebangitan Bangsa (2 kursi). Rajiun Tumada mendapat dukungan 7 kutsi dari Partai Demokrat (4 kursi), Partai Nasdem (2 kursi), dan Partai Persatuan Pembangunan (1 kursi). Sementara posisi Syarifudin Udu belum aman karena baru mendapat dukungan dari Partai Hanura (5 kursi).

Jika melihat jumlah dukungan dan peta politik yang berkembang tampaknya hanya ada dua calon yang akan bersaing memperebutkan kursi Bupati Muna periode 2020-2025. Namun kalkulasi politik bukanlah kalkulasi matematis yang memiliki kepastian hasil. Politik selalu menghadirkan kejutan. Dalam politik selalu tersedia banyak kemungkinan karena menurut Otto von Bismark politics is the art passible (politik addalah seni kemungkinan). Impossible is possible (hal-hal yang tidak mungkin bisa mungkin) dalam politik.Calon yang keluar sebagai pemenang adalah yang jeli mengelola dan memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan yang tersedia.

Pilkada

Kemungkinan dan kejutan bisa terjadi di Pilkada Muna kali ini. Kemungkinan munculnya satu calon lagi masih terbuka lebar karena masih ada dua partai yang “nganggur” yaitu Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional. Jumlah gabungan kursi kedua partai tersebut sebanyak empat kursi, cukup potensial untuk melahirkan pasangan calon baru. Kemungkinan itu bisa melahirkan kejutan jika terjadi koalisi baru  antara Partai Hanura, Partai Gerindra dan PAN dengan jumlah kursi 9.

Kejutan bisa mungkin terjadi jika terjalin komunikasi yang baik antara Syarifuddin Udu dam dr, Baharuddin. SU telah mengantongi dukungan Partai Hanura (5 kursi), sementara dr, Baharuddin merupakan kader PAN yang memiliki 1 kursi di DPRD Muna. Bisa saja SU meninggalkan pasangannya Hasid Pedansa dengan alsaan tidak memperoleh dukungan PDIP sebagai partai asal Hasid lalu mengajak dr. Baharuddin untuk berkoalisi. Persoalannya kemudian siapa yang menjadi 01 dan siapa 02? Teka teki ini bisa terjawab dengan menelusuri latar belakang dan modal politik kedua aktor. Syarifudin Udu memiliki latar belakang karir di pemerintahan sebagai putra Muna yang menjadi Pj. Gubernur Jawa Tengah (2018) dan Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri (2017-2020). SU memiliki modal politik kuat dengan dukungan Partai Hanura sebagai pemenang pemilu di Muna dengan kursi terbanyak, 5 kursi. Sementara itu  dr, Baharuddin berlatar belakang sebagai Bupati Muna (2010-2015) dan memiliki modal politik dari PAN sebanyak 1 kursi.

Dari latar belakang karir dan modal politik yang dimiliki kedua aktor, apabila berkoalisi maka Syarifudin Udu layak menjadi calon Kepala Daerah dan dr, Baharuddin menjadi calon Wakil Kepala Daerah. Jika skenario politik itu menjadi kenyataan maka persaingan pilkada Muna 2020 akan semakin sengit yang melibatkan dua bupati aktif dan mantan penjabat gubernur/dirjen serta mantan bupati. Tentu saja masing-masing calon memiliki strategi dam modal politik untuk memenamgkan pertarungan.

Dua calon yang disebut sebelumnya bisa saja mengandalkan posisi mereka sebagai bupati petahana dengan segala sumber daya dan kekuasaan politiknya. Namun, bila koalisi terwujud antara dua aktor yang disebut belakangan dengan latar belakang karir dan modal politik masing-masing bisa menjadi satu kekuatan dahsyat dalam pilkada Muna 2020. Dan tidak menutup kemungkinan akan melahirkan kejutan selanjutnya dalam hasil akhir pilkada Muna. Sekali lagi, politik adalah seni kemungkinan. Wallahualam.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.