Iklan Clarion

Sekolah Lapangan Iklim Sukses Cerdaskan Petani Jagung

SULTRAKINI.COM: Panen Raya menutup rangkaian kegiatan Sekolah Lapangan Iklim atau SLI di petak percontohan Kelurahan Punggaluku, Kecamatan Maeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara pada 25 Juni 2018. Sekolah ini, sukses menggiring 30 petani jagung mengelola pertanian dengan teknik budidaya cerdas iklim.

Badan Pusat Statistik melaporkan hasil ubinan (perkiraan panen) dari petak percontohan. Secara keseluruhan, hasil pengubinan di tiga petak percontohan memuaskan dengan lebih dari delapan ton pipilan basah per hektar. Dengan asumsi, penyusutan ke pipilan kering 20 persen, maka hasil petak percontohan 6,4 ton pipilan kering per hektar melampaui rata-rata produksi Konawe Selatan, yaitu 4-5 ton pipilan kering per hektar.

Hasil tersebut membuktikan petani jagung bisa meningkatkan permintaan jagung nasional, tanpa terkendala iklim.

Dalam SLI, petani menggunakan petak percontohan sebagai sarana belajar. Petani melakukan pengamatan secara berkelompok setiap hari di petak tersebut untuk melihat kondisi dan pertumbuhan tanaman, parameter cuaca (suhu, kelembapan, curah hujan), serta mengamati organisme di sekitar kebun.

Peserta bertemu setiap sepuluh hari untuk mendiskusikan dan menganalisis temuan di petak percontohan bersama para narasumber dan fasilitator untuk menentukan tindakan selanjutnya, sambil mendalami teknik budidaya cerdas iklim.

“Selama ini, penggunaan informasi cuaca oleh petani masih minim. Oleh karenanya, SLI berupaya mendekatkan petani dengan dengan informasi tersebut. Memang di awal pertemuan, masih banyak petani yang bingung, namun karena langsung mengamati kondisi dengan menggunakan termometer dan alat pengukur curah hujan, serta mendiskusikannya, mereka lebih cepat paham,” terang Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faisal Habibie, M.P, dalam release kepada SultraKini.Com.

Di sekolah tersebut, petani tak sebatas dikenalkan lewat teori, mereka langsung mempraktekkannya di petak percontohan. Proses pembelajaran itu juga melibatkan Dinas Pertanian dan sektor swasta.

“Petani lebih memahami informasi cuaca dan iklim, akses permodalan, dan perlindungan usaha sehingga dapat mengambil langkah tepat meningkatkan usaha tani mereka,” jelas Manajer Regional Program USAID APIK Sultra, Buttu Ma’dika.

Panen raya menutup kegiatan SLI di petak percontohan Kelurahan Punggaluku, Kecamatan Maeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sultra, Senin (25/6/2018) (Foto: Dok.USAID APIK)
Panen raya menutup kegiatan SLI di petak percontohan Kelurahan Punggaluku, Kecamatan Maeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sultra, Senin (25/6/2018) (Foto: Dok.USAID APIK)

Ida, salah satu peserta SLI dari Desa Aepodu, mengaku melalui SLI ia dapat menghemat pengeluaran usaha taninya. Salah satunya, memilih pupuk terbaik untuk pertanian serta memanfaatkan bahan organik sebagai pupuk. Termasuk membaca informasi cuaca, seperti suhu, curah hujan, dan persediaan air di kebun sehingga tahu kapan harus menanam.

“Biasanya kami gunakan pupuk kimia seperti urea atau TSP. Namun dari SLI, kami belajar membuat pupuk organik, yang bahan-bahannya mudah didapat. Kami juga membuat pestisida nabati untuk mengusir hama,” ucapnya.

Sektor swasta yang terlibat mengaku gembira dengan SLI. Senior Vice President untuk Micro Insurance dari Asuransi ACA, Jakub Nugraha, menilai, SLI menjadi wadah masing-masing pihak untuk belajar satu sama lain. Menurutnya, melalui SLI, petani mendapatkan informasi yang jelas tentang pentingnya asuransi pertanian.

Sementara itu Direktur Pemasaran Bank Sultra, Depid, berharap dengan melek finansial, petani dapat memahami skema pinjaman modal dan mengelola usaha tani lebih baik.

Manager Syngenta, Maria Benedikta, menekankan bahwa dukungan terhadap SLI sejalan dengan komitmen Syngenta dalam mendorong ‘The Good Growth Plan’ untuk meningkatkan hasil panen dan memberdayakan petani kecil.

SLI sebelumnya melaksanakan hal serupa untuk komoditas padi di Kelurahan Baruga, Kota Kendari pada Juli-Oktober 2017.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.