Sejumlah Struktur Jembatan di Kendari Ternyata Diadopsi dari Zaman Mesir Kuno

  • Bagikan
Jembatan Kuning Bungkutoko. (Foto: Ist)

SULTRAKINI.COM: Pernahkah kamu memperhatikan jembatan di wilayah tempat tinggalmu? Jembatan memiliki bentuk yang beragam. Misalnya jembatan lengkungan atau disebut juga struktur arch. Model jembatan ini juga ada di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Dilansir dari Kementerian PUPR RI, struktur jembatan lengkungan merupakan struktur yang dibentuk dari elemen garis yang membentang antara dua titik dan melengkung membentuk busur. Secara umum, struktur ini terdiri dari beberapa potongan kecil yang mempertahankan posisi struktur akibat adanya pembeban.

Struktur jembatan ini ternyata sudah digunakan sejak zaman Mesir kuno karena memiliki keunggulan bisa menopang beban yang jauh lebih besar dari pada balok horizontal.

Di era modern, struktur jembatan tersebut dibuat dari baja, beton, atau kayu laminasi yang menjadikan strukturnya lebih kaku dan ringan, sehingga daya dorong horizontal terhadap penyangga kecil. Dorongan ini dapat dikurangi dengan merentangkan tali di antara ujung lengkungan.

Struktur jembatan lengkungan juga ada di Kota Kendari, yaitu Jembatan Kuning Bungkutoko dan Jembatan Pasar Baru.

Jembatan Kuning Bungkutoko

Jembatan Bungkutoko mulai dibangun pada 2010. Pembangunan jembatan ini sepanjang 130 meter dan memiliki lebar 9 meter terletak di Kelurahan Bungkutoko, Kecematan Abeli.

Peresmian jembatan ini pada Mei 2013 dan menjadi salah satu kado ulang tahun HUT Kendari ke-182. Ditargetkan kala itu, Jembatan Bungkutoko akan mendukung akses menuju Pelabuhan Peti Kemas di Pulau Bungkutoko dan sebagai sarana jalan utama menghubungkan Kelurahan Talia-Pulau Bungkutoko di Kecamatan Abeli.

Baca:   Tiga Pengedar Sabu di Kendari Diringkus Polisi

Anggaran yang digunakan untuk membangun jembatan tersebut sekitar Rp 24 miliar melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Jembatan Pasar Baru

Jembatan Pasar Baru berada di Kecamatan Kambu yang
merupakan penghubung dua kecamatan, yaitu Wua-wua dan Kambu dikarenakan seringnya terjadi macet didaerah itu.

Jembatan ini belum diresmikan tapi sudah difungsikan sejak 2018. Baru satu arah jembatan ini digunakan para pengendara, sedang arah berlawanannya belum. Akhirnya pengendara masih menggunakan jembatan lama untuk satu arah tersebut.

Kabarnya sejumlah masalah terjadi sehingga jembatan ini belum sepenuhnya difungsikan. Salah satunya soal pembebasan lahan.

Jembatan Pasar Baru dibangun menggunakan anggaran puluhan miliar dari serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Laporan: Sita Cahyani
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan