Ikut Kompetisi Pildubas Nasional, Duta Bahasa Sultra Lestarikan Bahasa Tolaki

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Duta Bahasa Nasional Sulawesi Tenggara akan mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Nasional tahun 2020 yang akan dilaksanakan pada tanggal 19-24 Oktober 2020 di Jakarta. Pada ajang ini perwakilan Sultra akan mempresentasekan krida pelestarian bahasa daerah Tolaki yang mulai mengalami kemunduran penggunaannya, dikemas dalam sebuah tema Teleka (Tebak Lengkap Kata) Tolaki.

Pasangan perwakilan Duta Bahasa Sultra yang akan tampil itu yakni Sri Asmini Krisin Hartom, dan Rajab. Keduanya merupakan mahasiswi dan mahasiwa aktif pada perguruan tinggi Universitas Halu Oleo Kendari.

Kepala Kantor Bahasa Sultra, Herawati, mengaku sangata mendukung keduanya untuk tampil diajang pemilihan duta bahasa nasional, mengingat duta bahasa merupakan salah satu program prioritas yang digagas badan pembinaan dan pengembangan bahasa yang dilaksanakan Kantor Bahasa Sultra sebagai unit pelaksana teknis (UPT).

“Tentu kami sangat mendukung apa yang menjadi program-program yang dilaksanakan oleh duta bahasa, dan pemilihan duta bahasa di tingkat provinsi Sultra sendiri dilakukan setiap tahun, sementara perwakilan tingkat provinsi ini akan dikirim untuk mengikuti kompetisi di tingkat nasional,” kata Herawati, Jumat (16/10/2020).

Kata Herawati, pihaknya menyadari keberadaan duta bahasa ini sangat membantu sekali kantor bahasa sebagai perpanjangan tangan dalam memasyarakatkan penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar, sekaligus menginformasikan tri gatra penggunaan bahasa yakni menggunakan bahasa indonesia, melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing.

“Sehingga seorang duta bahasa harus mampu menguasai ketiganya itu. Jadi kami sangat mendukung program-program duta bahasa ini, termasuk program yang ada di daerah, misalnya ada tiga program yang digagas salah satunya itu duta bahasa mengabdi di desa pada anak-anak usia sekolah yang dikakukan di Konsel,” ucapnya.

Untuk tampil di kompetisi nasional, katanya, kantor bahasa memberikan dukungan penuh kepada keduanya, baik dalam pendampingan, persiapan, memberikan motifasi khusus, maupun memfasilitasi keberangkatan.

Olehnya itu, kantor bahasa berharap, Duta Bahasa Sultra bisa melakukan usaha maksimal untuk bisa tampil di kancah nasional mempersentasekan program krida bahasa yang menjadi progranya, sehingga dapat memberikan dan mempersembakan yang terbaik, baik untuk nama daerah juga kantor bahasa Sultra.

“Untuk masuk saja di lima besar itu sudah merupakan pencapaian yang luar biasa,” tuturnya.

Salah satu Duta Bahasa Perwakilan Sultra, Rajab, mengatakan pada ajang kompetisi nasional nanti, Ia bersama rekannya akan mempersentasekan proposal krida kebahasaan yang menjadi programnya sebagai pelestarian bahasa suku Tolaki di Sultra yang sudah disusun selama kurun waktu tiga bulan terakhir dan akan menampilkan sebuah tarian khas daerah Sultra, serta penulisan Essay.

“Tarian itu sebagai bentuk wujud penampilan bakat dan adat yang ada di Sulawesi Tenggara,” ucapnya.

yamaha

Sri Asmini Krisin menambahkan, alasan mereka mengangkat program krida bahasa pelestarian bahasa daerah Tolaki diajang nasional karena melihat fakta lapangan bahwa penggunaan bahasa daerah Tolaki sebagai bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Sultra atau bahasa mayoritas tapi kenyataannya sudah mulai mengalami kemunduran penuturannya dikalangan anak-anak dan pemuda.

“Itulah poin yang akan kami bawa ke nasional, sehingga di nasional bisa dinotis, iniloh permasalahan yang harus dibantu,” paparnya.

Apalagi, kata dia, penggunaan bahasa daerah saat ini pada sebagian kalangan pemuda (milenial) sudah memiliki pandangan bahwa malu atau kuno untuk dituturkan.

“Untuk itu, kami mengangkat isu tersebut karena ingin menunjukkan pada generasi muda saat ini bahwa bahasa daerah itu bukan sesuatu hal yang memalukan tetapi merupakan suatu identitas atau ciri diri yang jadi kekayaan daerah yang harus dibanggakan dan perlu dilestarikan,” pungkasnya.

Mereka mencatat, penggunaan bahasa daerah Tolaki sudah mengalami kemunduran di kalangan pemuda itu berdasarkan hasil observasi lapangan pada beberapa desa dan pemuda yang menjadi desa pendampingan kebahasaan, maupun hasil wawancara langsung.

Salah satu indikator juga yang menjadi penilaian kemuduran bahasa daerah ini yakni intensitas penggunaan bahasa pada kalangan anak-anak dan pemuda dilingkungan keluarga, sekolah dan rumah sudah mulai berkurang.

“Rata-rata usia di bawah 30 tahun kebawah sebagian sudah tidak fasih atau tidak tau lagi bahasa daerahnya sendiri. Maka dari itu, pemilihan tema pelestarian bahasa daerah ini sangat tepat, agar kemudian bisa menjadi perhatian nasional dan berbagai pihak terkait,” ucap Mahasiswi Fakultas Teknik UHO itu.

Keduanya mengaku, disisa akhir sebelum keberangkatan pada ajang pemilihan duta bahasa nasional nanti di Jakarta, mereka terus mempersiapkan bahan-bahan materi krida yang akan kami tampilkan, penguasaan bahasa, kostum-kostum tarian dan kondisi kesehatan badan ditengah pandemi Covid-19 saat ini.

“Doakan mudah-mudahan kami bisa memberikan kontribusi positif untuk daerah dan kantor bahasa Sultra, juga untuk pelestarian bahasa daerah di Sultra,” tutup Rajab.

Laporan: Hasrul Tamrin

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.