Pendemi Jadikan UMKM Go Digitalisasi

  • Bagikan

 SULTRAKINI.COM: KENDARI –  Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak 2020 mengajarkan kepada dunia usaha khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus beradaptasi dan bertransformasi secara cepat kedunia digital. 


Tidak sedikit, di Sulawesi Tenggara saja terdapat sekitar 84 persen UMK mengalami penurunan pendapatan, 78,35 persen UMK mengalami penurunan permintaan karena dampak Covid-19. Selanjutnya 56,85 persen UMK mengalami kendala bisnis akibat tidak bisa beroperasi secara normal, dan 62,21 persen UMK mengalami kendala keuangan terkait pegawai dan operasional, serta 33,23 persen UMK melakukan pengurangan jumlah pegawai.


Di Indonesia termasuk di Sultra UMKM merupakan salah satu sektor yang menopang dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jumlah UMKM mencapai 64 juta atau 99,9 persen dari keseluruhan usaha yang beroperasi di Indonesia. Lebih dari 60 persen PDB berasal dari UMKM dan lebih dari 90 persen tenaga kerja diserap oleh UMKM. Hal ini membuat geliat UMKM sangat berpengaruh terhadap ekonomi nasional.


Merespon hal tersebut, Pemerintah pusat maupun daerah sejak mewabahnya Covid-19 mulai mengadakan program yang di sebut dengan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) secara menyeluruh mulai dari pemberian bantuan modal kerja bagi UMKM, subsidi kredit UMKM, hingga relaksasi bunga kredit perbankan demi mempertahankan sektor UMKM. 
Tidak hanya dari sisi suplainya, pemerintah juga mendorong sisi permintaan agar pengusaha UMKM terus menggeliatkan usahanya meski masih dalam pandemi.
Sesuai yang disampaikan Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Ikhsan Ingratubun, bahwa UMKM di Indonesia saat ini memang sudah mulai bangkit meski belum pulih seperti tahun 2019 lalu, karena memang banyak yang beralih ke digital.

Baca:   Bertambah Satu Positif Covid-19 di Baubau, Keluarga Pasien akan dites Swab


“Kami mencatat sekitar 5 juta pemain baru di marketplace online pada saat pandemi ini. Mau tidak mau memang UMKM harus masuk dunia digital atau marketplace supaya bisa bertahan,” ungkap Ikhsan Ingratubun, pada Dialog Produktif KPCPEN bertema Kreativitas UMKM Bertahan di Masa Pandemi, yang ditayangkan di FMB9ID_IKP, pada Rabu (16/6/2021).


Pandemi Covid-19 telah mengubah perilaku konsumen secara radikal. Pola konsumsi barang dan jasa dari luring (offline) ke daring (online) kini meningkat, sehingga memaksa pelaku usaha untuk menyesuaikan dengan kondisi dan bertranformasi secara digital.
Hal ini diakui oleh Oktavia, Founder Roti Eneng & Sepiring Cerita, Sarah Diana. Belum lama ini Ia menyapaikan masa pandemi adalah masa terberat untuk UMKM dan memang dipaksa untuk bertransformasi digital.


“Sebelum pandemi, pemasukan utama kita bukan digital, namun sebulan setelah pandemi memang harus memaksa kita untuk digital, sedangkan permintaan masyarakat di digital juga membesar selama pandemi,” ujarnya.


Sementara itu upaya di daerah dalam mendukung program PEN dalam hal ini membangkitkan UMKM di masa pandemi, Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari melalui program Kendari Preneur menargetkan 1000 Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah dari 13.000  pelaku UMKM di Kota Kendari dari berbagai bentuk skala dan usahanya untuk go digital dan go global.


“UMKM didorong go digital karena sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebiasaan konsumen saat ini, dan diupayakan tahun ini 2021 ada sekitar 1.000 UMKM bisa menembus dunia digital melalui program Kendari Preneur,” kata Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir.

Baca:   Pemda Butur Sepakati Tiga Prioritas Pembangunan 2021 Melalui Rapat Musrenbang RKPD
Lapak UMKM di pinggir jalan Kota Kendari (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)


Berdasarkan data Kantor Wilayah (Kanwil) Direktoral Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Prov. Sultra per Mei 2021 Realisasi Penanganan Covid-19 pada cluster dukungan UMKM dan Korporasi telah terealisasi Bantuan bagi Pelaku Usaha Mikro (BPUM) mencapai Rp44,98 Miliar untuk 37.485 peserta dan realisasi penempatan dana pada BPD Sultra sebesar Rp446,64 untuk 2.034 debitur.


Sementara itu, realisasi penyaluran KUR di Sultra sampai dengan bulan Mei 2021 sebesar Rp1,22 triliun yang diberikan kepada 30.449 debitur. 


“Kabupaten Muna menjadi daerah dengan penyaluran KUR terbesar yakni Rp189,57 miliar untuk 5.885 debitur disusul Kabupaten Kolaka yakni sebesar Rp159,47 miliar untuk 4.210 debitur,” terang Kepala Kanwil DJPb Prov. Sultra, Arif Wibawa, Rabu (16/6/2021).


Pemerintah dalam hal ini Kemenkop UMKM kini terus fokus dalam digitalisasi UMKM sebagai salah satu pilar untuk memajukan sektor ini. Mendorong sektor informal menjadi formal, mendorong UMKM ke dalam rantai pasok, serta transformasi wirausaha produktif.


“Saya kira itulah strategi kita untuk mendorong UMKM untuk masuk ke ekosistem digital,” tutup Ari Anindya.

Laporan: Wa Rifin

Editor: Habirudddin Daeng

  • Bagikan