Paud Kominfo atas

Alih Kode dan Mixing Code Komunikasi Generasi Milineal

Oleh: Sumadi Dilla

Kita tentu sepakat bahwa abad milineal ini semua hal mengalami pergeseran dan perubahan besar dalam kehidupan kita. Tak terkecuali perilaku komunikasi kita pun ikut berubah. Dunia bergerak begitu cepat, ruang menjadi sempit, waktu seolah menjadi singkat, jarak menjadi dekat, batas tak bersekat, keputusan harus tepat, kesibukan makin meningkat dan pilihan cara bertindak (banyak tersedia) memikat kita.

Seiring itu banyak fenomena unik, lucu, sinis dan sadis muncul silih berganti dalam masyarakat. Tanpa disadari, kita menjadi aktor aktif dari pergeseran atau perubahan perilaku masyarakat yang demikian kompleks. Kini kecepatan dan rekayasa menjadi ideologi primer kebiasaan masyarakat. Kecepatan dan rekayasa menjadi “ruh’ perubahan setiap aspek kehidupan masyarakat. Tak ada yang luput dari kecepatan dan rekayasa perubahan tersebut.

Dengan kecepatan perubahan sulit prediksi, dan sukar untuk dikontrol, dengan rekayasa konstuksi pikiran terbelah, bangunan konsep, teori atau definisi, termasuk bahasa melebar bersifat jamak. Akibatnya secara instant bentuk, sifat dan perilaku masyarakat ikut berubah (bergeser) sebagai residu dari idiologi kecepatan dan rekayasa teknologi, sosial dan sistem simbol (istilah, frase, kosa kata, logat, dialeg).

Beberapa istilah/kosa kata baru yang serupa tapi tak sama bermunculan seperti; warga-netizen, realitas-hyperialitas, rencana kerja-platform hingga milisi-melineal. Istilah dan kosa kata tersebut memiliki arti dan maksud berbeda, namun penggunaanya tumpang tindih dalam komunikasi kita. Akibatnya kita menjadi akrab dengan hal baru yang terkadang sebagian orang masih sulit memahaminya. Diantara fenomena perubahan yg muncul itu, menarik dijelaskan adalah perubahan komunikasi manusia yang dipengaruhi idiologi kecepatan dan rekayasa.

Fakta di sekitar kita menunjukkan dimanapun kita, kapan pun kita, fenomema komunikasi unik dan lucu generasi milineal selalu hadir di depan kita. Keunikan itu terlihat pada eksploitasi sistem simbol komunikasi (verb, frase, logat, dialeg) kebahasaan atau istlah baru dalam tutur dan tulisan masyarkat. Banyak kasus komunikasi yangg dapat dikemukakan tentang hal ini. Sebagai contoh pada satu kesempatan ketika ujian hasil penelitian mahasiswa saya, mahasiswa tersebut (kategori kaum milineal) mengangkat judul “fenomema alih kode bahasa gaul Jakarta pada penyiar radio lokal. Sudah jamak terjadi hahwa kebiasaan penyiar radio menggunakan berbagai istilah, kosa kata, logat/dialeg, sebagai jenis-ragam bahasa mereka seperti bahasa gaul Jakarta (mungkin juga daerah lain) termasuk kata asing dalam komunikasi dengan audiensnya secara cepat. Hal ini kemudian terbawa pada ruang sosial mereka. Banyak kasus ditemukan dan masif terjadi di Indonesia bahasa tutur dan tulis masyarakat disisipkan berbagai kosa kata dengan logat yang beragam pada satu kalimat, diklaim bentuk alih code dan mixing code.

Bercampurnya kosa kata, logat/dialeg dalam satu ragam bahasa menjadi ciri komunikasi masyarakat saat ini. Pertanyaan yang patut diajukan tentang hal ini, mengapa demikian? Lalu apakah fenomena tersebut beralasan disebut alih code dan mixing code?

Secara praktis tak ada yg salah dan aneh pada fenomena tersebut karena berhubungan dengan hal kongkrit dan aktual. Namun secara teoretis perlu dijelaskan bahwa klaim alih kode bahasa atau mixing code dimaksud memiliki klimaks “antitesa” atau kerumitan tersendiri pada tindakan komunikasi. Halmana alih kode dan mixing code hanya dipahami sebagai penggunaan kata, istilah serta dialeg/logat secara manasuka dalam satu kalimat tertentu. Padahal alih code dan mixing code secara tak beraturan dalam komunikasi membuka ruang miss-komunikasi makin melebar. Dengan kata lain, menyisipkan satu kosa kata, frase (asing) atau logat/dialeg pada satu bahasa yang dipilih dalam percakapan sehari hari berkonsekuensi mempersulit komunikasi itu sendiri.

Contoh lain kerumitan percakapan atau komunikasi dapat ditemukan di sekitar kita. Komunikasi orang tua dan anak di rumah teman sejawat di kantor atau kaum sosialita di mall-mall. Seketika komunikasi mereka beralih, berubah, beragam, rumit dan menjadi high conteks akibat penyisipan kata-kata, istilah baru yang asing bagi orang awam untuk dipahami.

Sejatinya alih kode bahasa atau mixing code dimaksud berhubungan dengan penggunaan jenis ragam bahasa, frase atau istilah yang sama dalam satu kalimat serta secara bergantian beralih ke jenis ragam bahasa lain pada kalimat berikutnya.

Jika fenomena kerumitan simbol komunikasi dimaksud (alih kode atau mixing code) tidak diurai maka yang terjadi, publik sulit menemukan makna utuh setiap simbol tersebut. Keadaan ini semakin memperlihatkan dan membuka mata kita bahwa kekinian kompleksitas simbol dan makna komunikasi manusia semakin rumit dan terus berubah. Sampai di sini, simbol bahasa percakapan (tutur) dan tulisan yang rumit tersebut menjadi stile, gengsi, eksistensi, identitas, serta alat dominasi peran dalam ruang-ruang publik sehari hari.

Meskipun kompleksita dan kerumitan makna pada setiap simbol tersebut untuk dipahami bagi yang kurang akrab dengan sifat milineal, mau tak mau, suka tidak suka, publik bersikap apatis dengan hal ini. Kemana pun kita berada baik di rumah, jalan, mall, swalayan, pasar, kedai, sekolah, kampus hingga kantor mata dan telinga kita selalu akrab dengan fenomena rumit tersebut. Inilah suatu zaman baru Gen X, Gen Y Dan Gen Z dari perilaku komunikasi milineal yang kompleks.

Pada tahap ini bahasa dan ragamnya yang acak bukan saja sebagai media komunikasi manusia tetapi telah berkembang menjadi alat dominasi peran, identitas diri, citra diri serta penyesuaian diri kaum milineal. Fenomena inilah dapat menjelaskan pertanyaan di atas, sebagai gejala antitesis “Alih kode” atau “Mixing Code” dalam literatur kebahasaan. Mackey (2004:84) dan Ohoiwutun (2007:69) menyebutkan bahwa Alih kode dan Mixing Code akan terjadi jika dalam satu kalimat percakapan atau komunikasi merujuk pada satu ragam bahasa, dan kalimat berikutnya menggunakan ragam bahasa tertentu, termasuk bahasa asing sekalipun. Masyarakat yang demikian disebut penutur dwibahasa atau bilingual.

Berangkat dari asumsi itu, apa yang tampak dari gejala kerumitan komunikasi milineal tidak beralasan disebut alih code dan mixing code. Secara etis dan estetis fenomena komunikasi milineal berlawanan dengan prinsip-prinsip wacana kebahasaan yang ada.

Bahkan selain itu penggunaan frase, istilah, kosa kata, logat, dialeg dan ragam bahasa berbeda yang acak pada satu percakapan (komunikasi) memiliki kerumitan untuk dipahami bersama. Pada konteks ini terjadi kerancuan arti dan rujukan makna komunikasi yang melampaui batasan “alih kode dan mixing kode ” sesungguhnya. Sejatinya kode bahasa dan mixing code untuk mempermudah arti atau makna setiap simbol yang dikomunikasikan, justru berubah menjadi ambiguitas makna. Ironisnya hal Ini menjadi trend dan stile komunikasi milineal. Relasi antara sistem simbol dan maknanya menjadi absurd dan samar samar.

Berhubung sistem simbol berubah dan berkembang manasuka maka komunikasi manusia melineal telah mencapai sebagaimana yang disebut Jean Piere Baudrilard, (2015) kenikmatan komunikasi (ectacy of communication). Artinya sistem simbol yang dibentuk dan berubah serta proses penggunaan simbol-simbol tersebut menjadi suatu kenikmatan khusus dalam berkomunikasi. Yang terjadi Komunikasi berkembang secara instant dengan ketidakberaturan pada kebahasaan, sistem simbol serta maknanya. Kita pun sadar atau tidak, sengaja atau tidak gejala alih kode atau mixing code yang rumit ini sulit terhindarkan. Akhirnya semua kita akan selalu terbiasa berhadapan dengan kerumitan komunikasi yang berubah-ubah dan instant. Dengan demikian, ideologi kecepatan dan rekayasa pada cara berkomunikasi manusia dengan tingkat kerumitan dalam percakapan rutin kita mempertegas hilangnya (kealpaan) standar dan rujukan etis.

Mungkin ada benarnya jika fenomena unik ini memiliki relasi kuat dan sejajar antara jejaring teknologi, sosial dan sistem simbol dengan identitas instan. Fase ini kemudian meneguhkan keyakinan kita bahwa komunikasi abad Ini (milineal) sedang bergerak menuju simulacrum Communication (Baudrilard) dimana sistem simbol dan makna terbentuk secara instant, cepat, bersifat sementara, fleksibel, tak berbatas, tiruan dan manipulatif.

Penulis: Sumadi Dilla adalah Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Halu Oleo

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.