Kebakaran Hutan Amazon Masuk Level Tertinggi, Apa Ancamannya Bagi Iklim Global?

SULTRAKINI.COM: Hutan Amazon kini mengalami peningkatan penggundulan hutan (deforestasi), bahkan levelnya tertinggi pada 11 tahun terakhir. Kondisi ini resmi dikabarkan Pemerintah Brasil dari data terkininya hingga Senin, 18 November 2019. Lantas, apa pengaruhnya bagi iklim global?

Hutan Amazon adalah hutan hujan di Amazon, Amerika Selatan. Wilayah ini disebut juga Amazonia atau Amazon Basin, meliputi wilayah seluas tujuh juta kilometer persegi, walaupun hutannya sendiri seluas 5,5 juta kilometer persegi, terletak di sembilan negara, namun 60 persen hutannya lebih luas mencakup di wilayah Brasil. Ini adalah rumah masyarakat adat, termasuk Urarina di Peru.

Amazon juga termasuk hutan tropis paling luas di dunia, dan memiliki dua nama lain, yaitu “paru-paru dunia” karena menghasilkan 30 persen dari seluruh oksigen di bumi dan ”neraka hijau” karena setiap tahun sungainya meluap.

Lebatnya hutan membuat semua terlihat sama dan yang terakhir karena banyak serangan dari serangga buas yang sebagian besar belum dinamai.

Tiga puluh persen dari jumlah seluruh binatang dan setengah dari seluruh spesies tanaman ada di hutan ini.

Beberapa jenis binatang di hutan ini adalah jaguar, tapir, anakonda, boa, kupu-kupu morpho biru, elang harpy, sloth, cainman, babi hutan, ikan, dan masih banyak lagi. Sedangkan berbagai jenis tanaman yang ada di sini adalah pohon kapok, pohon telinga gajah, teratai raksasa, anggrek, jarda, sapodilla, pohon pisang, dan lain-lain.

Hutan Amazon kini mengkhawatirkan. Kebakaran hutan tentunya mempertanyakan julukan hutan ini apakah masih bisa menyangga harapan panjang bagi kelangsungan hidup manusia ke depannya sebagai “paru-paru dunia”.

Kebakaran Hutan Amazon
Kebakaran hutan Amazon telah membinasakan sejumlah lahan di kawasan tersebut tahun ini. Fenomena tersebut merupakan kebakaran paling terhebat di hutan hujan terbesar dunia selama hampir satu dekade.

Luas hutan Amason 7 juta persegi yang sudah diperkirakan laju deforestasi untuk sembilan negara bagian Amazon Legal Brasil, yang dilakukan oleh proyek pemantauan Deforestasi Amazon Legal (PRODES).

Dilansir dari AFP (20/8/2019), hampir 73.000 hektare kebakaran hutan tercatat sepanjang Januari hingga Agustus. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun lalu mencapai 39.759 hektare.

Sementara itu, National Geographic memberitakan (21/8/2019), dampak dari peristiwa kebakaran hutan Amazon adalah kepungan asap tebal yang menyelimuti kota-kota terdekat. Pada Minggu (11/8/2019), NASA mencatat kobaran api cukup besar hingga bisa terlihat dari luar angkasa.

Peristiwa tersebut diduga LSM lingkungan, Amazon Environmental Research Institute (Ipam) disebabkan deforestasi dan penggundulan hutan yang disengaja, bukan akibat musim yang sangat kering.

Direktur Ipam, Ane Alencar, mengatakan api sering digunakan sebagai cara membuka lahan bagi peternakan setelah operasi penggundulan hutan.

“Mereka menebang pohon, membiarkan kayu mengering dan membakarnya, sehingga abu dapat menyuburkan tanah,” ucapnya kepada situs web Mongabay.

Data bulanan badan antariksa nasional Brasil, Inpe menunjukkan skala area yang dibuka telah merayap sejak Januari, tetapi dengan lonjakan pada Juli 2019 hampir 278 persen lebih tinggi dari pada Juli 2018.

Inpe melacak dugaan deforestasi secara real-time menggunakan data satelit, mengirimkan peringatan ke area bendera yang mungkin telah dibuka. Lebih dari 10.000 peringatan dikirim pada bulan Juli 2019 saja.

Catatan jumlah kebakaran juga bertepatan dengan penurunan tajam denda yang diberikan untuk pelanggaran lingkungan, menurut analisis BBC.

Gumpalan asap dari kebakaran hutan Amazion telah menyebar ke seluruh wilayah Amazon dan sekitarnya.
Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service (Cams), bagian dari program pengamatan Bumi Uni Eropa, asap menyebar hingga ke pantai Atlantik.

Kebakaran itu melepaskan sejumlah besar karbon dioksida, setara dengan 228 megaton pada 2019, menurut Cams, yang tertinggi sejak 2010. Kebakaran tersebut juga mengeluarkan karbon monoksida-gas yang dilepaskan ketika kayu dibakar dan tidak memiliki banyak akses ke oksigen.

Peta-peta dari Cams menunjukkan karbon monoksida ini-suatu polutan yang beracun pada tingkat tinggi-dibawa di luar garis pantai Amerika Selatan.

yamaha

Cekungan Amazon-rumah bagi sekitar tiga juta spesies tanaman dan hewan, dan satu juta penduduk asli-sangat penting untuk mengatur pemanasan global dengan hutannya menyerap jutaan ton karbon setiap tahun.

Tetapi ketika pohon ditebang atau dibakar, karbon yang disimpannya dilepaskan ke atmosfer dan kapasitas hutan hujan untuk menyerap karbon berkurang.

Dampaknya tidak hanya itu, sejumlah negara lain di lembah sungai Amazon –wilayah yang membentang sepanjang 7,4 juta kilometer persegi– juga mengalami banyak kebakaran tahun ini.

Venezuela mengalami jumlah tertinggi kedua-dengan lebih dari 26.000 kebakaran. Berikutnya Bolivia dengan lebih dari 19.000. Ini merupakan kenaikkan 79 persen pada tahun lalu. Peru, di tempat kelima mengalami kenaikkan 92 persen.

Ukuran kebakaran di Bolivia diperkirakan berlipat dua sejak akhir pekan lalu. Sekitar satu juta hektare terpengaruh.

Bolivia telah menyewa “supertanker” Boeing 747 dari AS untuk menjatuhkan air, dan menerima tawaran bantuan dari para pemimpin G7.

Pekerja darurat tambahan juga dikirim ke wilayah tersebut, dan tempat-tempat perlindungan sedang disiapkan untuk hewan-hewan yang keluar dari api.

Negara-negara Amerika Selatan berencana untuk bertemu di Kota Leticia, Kolombia untuk membahas tanggapan terkoordinasi terhadap kebakaran.

Kebakaran hutan Amazon pada 2019 dipercaya bukanlah tahun terburuk dalam sejarah baru-baru ini. Brasil mengalami lebih banyak aktivitas kebakaran pada tahun 2000-an-dengan tahun 2005 menyaksikan lebih dari 142.000 kebakaran dalam delapan bulan pertama tahun ini.

Kebakaran hutan biasa terjadi di Amazon selama musim kemarau yang berlangsung dari Juli hingga Oktober. Hal tersebut dapat disebabkan oleh peristiwa yang terjadi secara alami, seperti sambaran petir. Tetapi tahun ini sebagian besar diyakini dimulai oleh petani dan penebang yang membuka lahan untuk tanaman atau penggembalaan.

Ada peningkatan yang nyata dalam kebakaran besar, intens, dan persisten di sepanjang jalan utama di Amazon Brasil bagian tengah, kata Douglas Morton, Kepala Laboratorium Ilmu Biosfer di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard Space NASA.

Menurutnya, waktu dan lokasi kebakaran lebih konsisten dengan pembukaan lahan daripada dengan kekeringan regional.

Analisis data satelit NASA bulan ini menunjukkan total aktivitas kebakaran pada 2019 di seluruh Amazon, bukan hanya Brasil, mendekati rata-rata bila dibandingkan dengan periode 15 tahun yang lebih lama.

Angka-angka dari Inpe Brasil, yang berasal dari tahun 1998, juga menunjukkan negara itu mengalami periode kebakaran yang lebih buruk pada tahun 2000-an.

Dampak Kebakaran Hutan Amazon bagi Iklim Global
Hilangnya hutan sebesar itu akan terasa pada skala global. Melindungi Amazon sering disebut-sebut sebagai salah satu cara paling efektif mengurangi dampak perubahan iklim.

Ekosistem menyerap jutaan ton emisi karbon setiap tahun. Ketika pohon-pohon itu ditebang atau dibakar, mereka tidak hanya melepaskan karbon yang mereka simpan, tetapi alat untuk menyerap emisi karbon menghilang.

“Setiap hutan yang hancur adalah ancaman bagi keanekaragaman hayati dan orang-orang yang menggunakan keanekaragaman hayati itu,” kata Lovejoy.

Ancaman luar biasa adalah banyak karbon masuk ke atmosfer. Pengaruh besar ini membuat tujuh negara sepakat melakukan lebih banyak upaya edukasi dan peningkatan peran masyarakat adat untuk membangun jaringan respons bencana dan pemantauan satelit melalui penandatanganan sebuah pakta. Penandatanganan ini dilakukan oleh Bolivia, Brasil, Kolombia, Ekuador, Guyana, Peru dan Suriname.

Dalam pertemuan di Kolombia, mereka juga setuju untuk melakukan reboisasi. Lebih dari 80.000 titik api membakar hutan hujan Amazon tahun ini. Presiden Brasil yang berhaluan kanan, Jair Bolsonaro, turut hadir melalui video karena dirinya tengah menjalani persiapan operasi.

Hutan Amazon merupakan penyimpan karbon yang vital, yang memperlambat proses pemanasan global, di mana 60 persen areanya terletak di wilayah Brasil.

Sumber: Liputan6, BBC.com& Kompas.com
Laporan: Nuriyanti

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.