Leher Wanita Ini dapat Berputar Hingga 180 Derajat

SULTRAKINI.COM: Ada yang aneh dengan satu wanita dari Fazakerley Merseyside, Inggris ini. Sarah Coughlin bahkan dibuat terkejut dengan dirinya sendiri yang mengetahui bahwa lehernya bisa diputarnya hingga 180 derajat.

Dilansir dari Mirror, Senin (21/12/2020), sistem otak Sarah Coughlin mengalami gangguan saraf. Awalnya petugas medis mengatakan, hal itu disebabkan posisi tidurnya yang salah.

“Cukup sulit untuk mengembalikan posisi kepala saya tetapi setelah beberapa saat saya berhasil, meskipun rasa sakitnya tidak kunjung hilang,” ujarnya.

“Saya pikir saya baru saja tidur dengan salah dan begitu saya bangun dengan benar, leher yang sakit mungkin akan membaik. Tetapi saat saya mulai bekerja saya masih merasa tidak enak,” terangnya.

Rupanya, Sarah Coughlin pernah lima kali cedera. Hal ini disebabkan ia sering salah posisi tidur dan mengalami gangguan saraf. Sarah mulanya tidak menyadari jika ada yang salah pada lehernya, saat ia bekerja sebagai asisten pengajar pada 2014.

Sebelumnya ia hanya mengalami sakit kepala selama seminggu. Namun, lima hari setelah ia mengalami cedera, Sarah bangun terlambat. Saat dirinya ke mobil, ia menyadari kepalanya berputar 180 derajat dan menatap ke jendela belakang.

“Saya bertanya-tanya mengapa kaca depan mobil saya memiliki garis-garis hitam di atasnya sampai saya menyadari bahwa saya sedang melihat keluar jendela” ujar Sarah.

Awalnya petugas medis mengatakan kemungkinan ini disebabkan karena kram otot atau tidur dengan canggung. Setelah menderita selama dua tahun, akhirnya dia didiagnosis memiliki Dystonia (kejang otot yang tidak disengaja).

Selain itu, Sarah didiagnosis menderita Functional Neurological Disorder (FND). Gangguan Neurologis yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Tampaknya disebabkan oleh masalah pada sistem saraf, tapi tidak disebabkan oleh penyakit fisik.

“Saat itu saya bisa merasakan sakit yang membakar melalui bahu dan punggung saya,” tuturnya.

Ia mengaku harus pergi ke rumah sakit setiap minggu selama tiga bulan lantaran rasa sakitnya yang tidak kunjung hilang. Lehernya juga tetap masih kejang setelah pemeriksaan.

“Saya benar-benar merasakan kehilangan nyawa yang saya alami saat pertama kali didiagnosis,” tambahnya.

Sumber: Solopos.com, kompas.com
Laporan: Ririn Andriani
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.