November 2019, Impor Sultra Meningkat 68,10 Persen 

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara merilis data nilai impor Sultra pada November 2019 tercatat US$ 341,77 juta atau mengalami kenaikan sebesar 68,10 persen dibanding impor Oktober 2019 yang tercatat US$ 203,32 juta. Sedangkan, volume impor pada November 2019 tercatat 1.707,17 ribu ton atau naik 574,83 persen dibanding impor Oktober 2019 yang tercatat 252,98 ribu ton.

Kepala BPS Sultra, Muhammad Edy Mahmud mengatakan selama periode 2018 sampai 2019, nilai impor Sultra tertinggi tercatat pada November 2019 dengan nilai mencapai US$ 341,77 juta dan terendah tercatat di Maret 2019 yaitu US$28,75 juta. Sementara volume impor tertinggi tercatat pada November 2019 yang mencapai 1.707,17 ribu ton dan terendah di Januari 2019 dengan volume 38,99 ribu ton.

“Impor Sultra pada November 2019 didominasi oleh kelompok komoditi bahan bakar mineral dengan nilai US$ 217,66 juta. Selanjutnya, kelompok komoditi mesin-mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$48,57 juta,” ujar Edy, Kamis (2/1/2020).

Kenaikan terbesar impor Sultra November 2019 dibanding Oktober 2019 terjadi pada kelompok komoditi bahan bakar mineral senilai US$ 175,29 juta atau 413,75 persen. Sedangkan kenaikan impor disebabkan oleh kenaikan impor dari Australia senilai US$ 155,63 juta atau 1.851,82 persen.

Dari sisi peranan terhadap total impor Januari sampai November 2019, Tiongkok merupakan negara asal barang utama terbesar dengan nilai impor US$855,94 juta atau 64,44 persen, diikuti Australia dengan nilai US$203,39 juta atau 15,31 persen, dan Singapura dengan nilai impor US$194,98 juta atau 14,68 persen.

Fortune

“Peranan ketiga negara asal barang utama tersebut mencapai 94,43 persen dari total impor Sultra pada periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Edy.

Menurut golongan penggunaan barang, selama November 2019 golongan bahan baku/penolong memberikan peranan terbesar yaitu 88,13 persen dengan nilai US$301,20 juta.

“Selama Januari sampai November 2019 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, nilai impor

barang konsumsi mengalami kenaikan sebesar US$1,52 juta (939,09 persen), bahan baku/penolong dan barang modal mengalami kenaikan sebesar 79,68 persen atau senilai US$450,19 juta dan barang modal naik 82,42 persen atau senilai US$140,73 juta,” ungkapnya.

Untuk di ketahui nilai neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara November 2019 mengalami defisit sebesar US$220,00 juta. Sebaliknya secara kumulatif, neraca perdagangan Sulawesi Tenggara Januari sampai November 2019 mengalami surplus US$341,43 juta. Kondisi tersebut sejalan dengan periode yang sama tahun lalu (Januari sampai November 2018), dimana nilai neraca perdagangan Sultra mengalami surplus US$252,10 juta.

Laporan: Wa Rifin
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.