Festival Pesona Budaya Tua Buton

Pemda Wakatobi Usulkan menjadi Daerah Bebas Malaria pada 2020

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Sebagai salah satu daerah top destinasi pariwisata nasional, Pemda Wakatobi terus melakukan pembenahan dari berbagai aspek, salah satunya bidang kesehatan. Terkait hal itu, Dinas Kesehatan Wakatobi mengusulkan kepada Kementerian Kesehatan agar wilayahnya ditetapkan sebagai daerah eliminasi malaria pada 2020.

Tim penilai eliminasi malaria dari Kemenkes bertandang ke Kabupaten Wakatobi guna melakukan penilaian, Rabu (11/9/2019). Kehadiran mereka-pun disambut Bupati Wakatobi, Arhawi.

Dikatakan Arhawi, eliminasi malaria merupakan suatu upaya menghentikan penularan malaria dalam suatu wilayah geografis tertentu dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor serta sudah tidak ada vektor malaria di wilayah tersebut, sehingga tetap dibutuhkan kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularannya kembali.

Upaya Pemda Wakatobi agar ditetapkan sebagai daerah eliminasi malaria pada 2020, yakni semua pelayanan kesehatan melaksanakan pemeriksaan parasit malaria (semua malaria klinis) pada 2016 melalui pemeriksaan sediaan darahnya melalui diagnostik test (RDT) atau konfirmasi laboratorium.

“Pada 2017 seluruh wilayah Kabupaten Wakatobi sudah memasuki tahap pre eliminasi dan pada 2019 Kabupaten Wakatobi sudah mencapai eliminasi malaria,” ucap Arhawi di hadapan tim penilai.

Target/kriteria penilaian eliminasi malaria kabupaten/kota di Indonesia, yaitu tidak ada kasus penularan di daerah setempat (kasus Indigenius) selama tiga tahun berturut-turut.

Sementara, Kabupaten Wakatobi sudah empat tahun tidak ada kasus penularan setempat (kasus Indigenius) hanya kasus impor dari daerah endemik seperti Maluku dan Papua ini juga dikarenakan adanya mobilisasi penduduk Wakatobi.

“Standar penilaian untuk Slide Positivity Rate (SPR) di bawah 5 persen sementara Kabupaten Wakatobi sudah dibawah target SPR yaitu 4,07 persen. Untuk Annual Parasite Incidence (API) di bawah 1 per 1.000 penduduk, sementara API Kabupaten Wakatobi saat ini mencapai di bawah 0,5 per 1.000 penduduk.

Pada 2014, malaria klinis (malaria yang tidak melalui tes RDT atau konfirmasi laboratorium) sebanyak 1.145 orang, diperiksa sediaan darahnya 1.145 orang, positif malaria 81 orang, dan diobati ACT 81 orang.

Sementara pada 2015, malaria klinis sebanyak 512 orang, diperiksa sediaan darah 512 orang, positif malaria 53 orang, dan diobati 48 orang.

“Tidak semua positif malaria diobati karena yang bersangkutan kembali lagi ke daerahnya,” terang Arhawi.

Data pada 2016, malaria klinis sebanyak 491 orang dan diperiksa sediaan darahnya 491 orang, postif malaria sebanyak 38 orang, dan diobati 37 orang ini disebakkan adanya migrasi penduduk.

Sementara pada tahun 2017 malaria klinis sebanyak 590 orang dan periksa sediaan darahnya sebanyak 590 orang, positif malaria sebanyak 48 orang, dan diobati 47 orang ini disebabkan migrasi penduduk.

Pada 2018, malaria klinis sebanyak 710 orang, periksa sediaan darahnya 710 orang, positif malaria 40 orang, dan diobati 40 orang.
Sedangkan tahun ini mulai pada Januari hingga Juni, kasus malaria yang positif sebanyak sepuluh orang.

“Berdasarkan grafik tren kasus di atas terjadi peningkatan kasus pada Februari 2014 karena pada bulan tersebut migrasi penduduk dari daerah endemik, yaitu masyarakat balik ke Wakatobi setelah musim cengkeh berakhir,” ucapnya.

Dirinya berharap Kabupaten Wakatobi bisa dinobatkan sebagai daerah bebas malaria pada 2020 untuk mendukung top 10 destinasi pariwisata Indonesia.

Acara tatap muka ini juga dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemda Wakatobi.

Laporan: Amran Mustar Ode
Editor: Sarini Idoe

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.