Kawasan Wisata Labengki Warning Hama COTS

  • Bagikan
Hama crown-of-thorns starfish (COTS) alias bintang laut mahkota duri. Foto: IST
Hama crown-of-thorns starfish (COTS) alias bintang laut mahkota duri. Foto: IST

SULTRAKINI.COM: Perairan kawasan wisata Kepulauan Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara masuk dalam kategori warning penyebaran hama crown-of-thorns starfish (COTS) yang merusak terumbu karang.

Hal itu diungkapkan oleh tim penanganan COST alias pencegahan penyebaran bintang laut mahkota duri yang melakukan misi menjaga kelestarian terumbu karang dari serangan hama di perairan tersebut selama 3 hari, (23- 25 Juni 2021).

Survey serupa pernah dilakukan tahun 2018 oleh tim Naturevolution dan TGCC. Saat itu mereka menemukan cukup banyak bintang laut mahkota duri (Acanthaster plancii) di wilayah perairan Labengki dan Sombori.

Spesies tersebut dalam jumlah tertentu dapat berubah menjadi wabah yang mengancam keberadaan terumbu karang.

Untuk itu, tim gabungan dari Natureevolution Indonesia, Toli-Toli GIant Claim Conservation, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UHO, Scuba School Internasional, Team Spearo Kendari, SOmbori Dive Centre, GT Dive Wakatobi, Natureevolution Indonesia, Patampanua DIve Club, OK Dive Centre Uiversitas Muhammadiyah, Fakultas Pertanian Perikanan dan Peternakan Univesitas 19 November, Jurnalis teramedia.id, Labengki Nirwana Resort, Sultra Eco Dive, Sultra Eco Diver dan UKM Selam UHO, melakukan misis penanganan selama 3 hari di perairan Labengki.

Baca:   Menpar Arief Yahya Luncurkan Jember Fashion Carnaval 2017

Menurut penanggungjawab kegiatan, Habib Nadjar Buduha, tim monitorong pertama yang dibentuk kali ini, menyasar kawasan terumbu karang di lokasi wisata penyelaman agar bersinergi dengan program sapta pesona kepariwisataan.

“Kita fokus dulu di wilayah perairan wisata bahari dan penyelaman, diharapkan tim yang ada bisa menjadi corong penelitian ini agar lebih tersosialisasi ke masyarakat agar bisa terjadi gerakan bersama waspada hama COTS ini,” kata Habib.

Setelah kegiatan ini, selanutnya setiap anggota tim akan memantau kondisi COTS di perairan yang mereka selami dan melaporkan datanya untuk ditindaklanjuti penanganannya.

Para tim penanganan hama COTS selama 3 hari di perairan Labengki dibagi beberapa kelompok untuk monitoring titik-titik sebaran COTS. Setelah itu dilakukan penyuntikan COTS dengan menggunakan pendekatan baru berupa injeksi zam asam alami.

Injeksi zat alami dikembangkan oleh IRD. Bahan-bahannya berupa jus buah (jeruk nipis dan markisa), cuka putih, dan beberapa asam bubuk yang dapat dengan mudah diperoleh dari industri pangan pertanian.

Pengujian di laboratorium dalam kondisi terkendali dan secara langsungg di lapangan, menunjukkan keberhasilan. Kematian COTS melalui injeksi mencapai hingga 100 persen, dalam kurun waktu 12 – 24 jam.

Metode ini menjadi alternatif yang ramah lingkungan serta kredibel dalam memerangi wabah COTS di seluruh negara. Telah diuji oleh IRD sejak 2014 di Vanuatu dan New Caledonia.

Baca:   Berwisata ke Labengki Kini Lebih Nyaman dengan Adanya Perlindungan Jaminan Kecelakaan Lalu Lintas

Metode ini terbukti efisien di lapangan dengan pemberantasan COTS yang lebih dari 1 ton dalam kurun waktu 2 hari.

Perlengkapan injeksi yang digunakan terdiri dari pistol injeksi yang dihubungkan dengan jarum 16G (Birmingham gauge), yang juga selangnya terhubung dengan jeregen/wadah dengan bervolume 5L.

Idealnya, injector yang digunakan adalah yang memiliki dosis 10 ml per injeksi. Namun alat injector bisa dimodifikasi ke yang lebih simpel namun tahan karat agar bisa digunakan lebih lama.

Beberapa indikator yang digunakan tim sebelum melakukan injeksi. Misalnya, jika sebuah kawasan terdapat dalam pemantauan 10 menit hanya terdapat 1 COTS atau dalam 1 hektar kurang dari 15 ekor, maka COTS yang ada dianggap bukan wabah.

Namun jika dalam 10 menit monitoring terdapat 2 sampai 4 ekor dan dalam 1 hektar terdapat 15 sampai 100 ekor COTS maka kawasan itu berstatus Warning dan memungkikan menjadi wabah harus rutin dilakukan pemantauan.

Dan jika dalam 10 menit monitoring jumlhanya melebihi 5 ekor  atau dalam 1 hektar kawasan terdapat lebih dari 100 ekor maka COTS sudah menjadi wabah di kawasan itu sehingga direkomendasikan untuk intervensi segera.

Laporan: M Djufri Rachim

  • Bagikan