Harga Sejumlah Komoditas di Kendari Merangkak Naik, Imbas Corona

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Sejumlah emak-emak di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) terkena dampak virus Corona. Bukan tertular wabah, para emak ini mengeluhkan harga sejumlah komoditas di pasaran yang merangkak naik semenjak pemerintah Indonesia berhenti impor sejumlah komoditas asal China mulai Januari 2020.

Sejalan meningkatnya jumlah kasus Corona, harga sejumlah komoditas di pasaran juga merangkak naik. Misalnya, harga perkarung bawang putih dan bawang merah mencapai Rp 800 ribu dari sebelumnya Rp 600 ribu.

Pantauan Sultrakini.com, di Pasar Mandonga dan Pasar Korem Kota Kendari, setidaknya empat komoditas utama mengalami kenaikkan harga, yaitu cabai, tomat, bawang putih, dan bawang merah.

Seorang pedagang Pasar Korem Kota Kendari, Mahe, mengatakan harga sejumlah komoditas tiba-tiba saja naik, meski sebelumnya juga terjadi kenaikkan harga. Harga naik terutama bawang merah dan bawang putih per kilogram mencapai Rp 60 ribu dari sebelumnya dijual Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu.

Selain harga naik, pasokan barang juga kurang karena pedagang di pasar tersebut mengambil dari Enrekang, Sulawesi Selatan.

“Kami tidak tahu apa penyebabnya, mungkin dengan adanya virus yang lagi menyebar saat ini, tapi itu juga tidak pasti karena kita ambil jualan ini di Selatan, Enrekang,” ujarnya kepada Sultrakini.com, Selasa (11/2/2020).

Sedangkan harga cabai rawit hingga kini mencapai Rp 100 ribu per kilogram, tomat Rp 18 ribu per kilogram.

Seorang pembeli, Lina, mengaku sangat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat kenaikkan harga tersebut. “Kita belanja hanya ‘gigit jari’ saja karena di setiap penjual harganya sama, mau tidak mau kita harus beli karena ini kebutuhan pokok. Bawa uang misalnya Rp 100 ribu belanja saat ini tidak akan cukup, bawang saja sudah Rp 60 ribu belum lagi yang lain,” ucapnya ketika berbelanja di Pasar Korem Kendari.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Abdullah Mansuri, mengungkapkan jika China dapat memenuhi sebagian besar permintaan stok bawang putih Indonesia. “Kita memiliki sekitar 90 persen kebutuhan nasional untuk bawang putih dan importir terbesar berasal dari China,” terang Mansuri.

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.