SUARA

Pesan Terakhir Mendiang Almarhum La Ntau pada Bupati Buteng

SULTRAKINI.COM: BUTON TENGAH – Dua hari pasca meninggalnya Wakil Bupati Buton Tengah (Buteng) mendiang Almarhum La Ntau pada, Selasa 4 Agustus 2020, kemarin. Bupati Buteng Samahuddin mengaku sempat menerima pesan terakhir mendiang Almarhum sebelum meninggal.

Dia menceritakan, pesan tersebut diterimanya sesaat sebelum pelaksanaan salat Idul Adha beberap waktu lalu, Jumat (31/07/2020). Pesan itu dikirim oleh mendiang Almarhum via platform media sosial WhatsApp kepadanya.

“Asslamalaikum, minal aidin wal faidzin maaf lahir batin, sebelumnya saya minta maaf untuk tahun ini kita tidak shalat Ied sama-sama lagi, saya kurang sehat,” ucap Almarhum La Ntau kepadanya Samahuddin.

Samahuddin mengatakan bahwa pesan tersebut merupakan bentuk komunikasi terakhir antara dirinya dengan Almarhum sebelum Ia (Almarhum) mulai terbaring sakit.

Pria yang akrab disapa La Ramo itu menambahkan bahwa sesaat sebelum menerima pesan tersebut, dirinya bersama seluruh kepala OPD sedang berada di Rujab Kantor Bupati Buteng bersiap-siap untuk melaksanakan salat Id bersama-sama.

“Kira-kira isi pesannya begitu, saya balas juga minal aidin wal faidzin sama beliau setelah bersama para kepala OPD kita lansung menuju tempat shalat,” kisah Samahuddin, Kamis (06/08/2020).

Selama bersama-sama menjadi pasangan Bupati dan Wakil Bupati Buteng di pemerintahan, Almarhum kata Samahuddin merupakan sosok yang disiplin dan tepat waktu. Hal itu dibuktikan ketika Ia (Almarhum) pada saat memimpin apel pagi dan sore hari sebelum dan sesudah jam kerja kantor.

yamaha

“Terakhir itu kalau tidak salah dia pimpin apel pagi waktu hari Senin tanggal 3 Juli lalu, itu saya belum tiba di kantor, kita tidak sempat ketemu karena beliau (Almarhum) lansung pulang setelah itu,” bebernya.

Meskipun diakhir-akhir masa hidupnya, hubungan antara Almarhum dan Bupati Buteng itu kurang sedikit harmonis, namun baik Almarhum maupun La Ramo tetap loyal dalam menjalankan perannya sebagai wakil Bupati dan Bupati Buteng.

Menurut Samahuddin, kesemuanya itu merupakan ujian bagi dirinya dan Almarhum dalam menjalankan pemerintahannya di Buton Tengah. Untuk itu Bupati Buton itu berharap agar tidak ada lagi hal yang diungkit terkait permasaalahan antara keduanya.

Jenazah Almarhum sendiri telah dikebumikan di kampung halamannya di Desa Walando, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, dengan cara pemakaman militer. Ia (Almarhum) wafat di usia 55 tahun di Kediamannya akibat penyakit yang dideritanya. Dia meninggalkan seorang istri atas nama Nuraida La Ntau dan 4 orang anak yang terdiri dari 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.

Beberapa tokoh di Kabupaten Buton ikut mengantarkan dan menyaksikan pemakaman sang Kapten orang nomor dua di Buton Tengah itu, diantaranya Umar Samiun yang juga merupakan sahabatnya. (C)

Laporan: Agusrianto
Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.