Iklan Clarion

Angka Bunuh Diri Tinggi, Tanggung Jawab Siapa?

Oleh : Syahra Al Azis, SE

Diawal tahun ini, Kendari dihebohkan dengan adanya beberapa kasus percobaam bunuh diri. Masih teringat jelas oleh warga Kota Kendari pada tanggal 10 Januari 2018. Seorang mahasiswa mencoba bunuh diri dengan cara minum obat serangga. Aksi bunuh diri itu dilakukan pasca bertengkar dengan pacarnya yang juga seorang mahasiswi (sultrakini,11/1/2018). Tidak berselang lama pasca aksi minum obat serangga tersebut, Kendari pun kembali di gegerkan oleh aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang siswa SMK dengan memanjati tower pemancar signal sebuah provider telepon seluler dengan ketinggian 42 meter.  Penyebabnya diduga karena siswa tersebut sering di dipukuli bapaknya (11/1/2018.ZONASULTRA.COM). Dan yang terbaru juga, Kamis 22/2/2018 adalah insiden percobaan bunuh diri dari atas Tower SUTET dengan ketinggian kurang lebih 50 meter, tepatnya di samping GOR IAIN Kendari. Dimana seorang lelaki berusia 20 tahun yang diduga penyebabnya adalah adanya konflik dengan istrinya yang cukup serius, sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

[ Klik Banner untuk ke Halaman Registrasi ]

Beberapa kasus diatas berurutan terjadi dalam kurun waktu yang tidak begitu lama dan terjadi di Kota yang disebut-sebut sebagai Kota Bertakwa. Lain di Kendari, lain pula di Jawa. Di Jawa tepatnya di Pasar Kuripan, Desa Kuripan, Kecamatan Kesugihan digegerkan dengan aksi percobaan bunuh diri seorang wanita dengan memanjat tower SUTET, Rabu (31/1/2018). Wanita tersebut berdiam diri di ketinggian 35 meter pada tower setinggi 70 meter. Informasi dari keluarganya bahwa wanita tersebut depresi ada masalah dengan keluarga.(rri.co.id 31/1/2018).

Selain itu, aksi yang juga ramai di perbincangkan oleh nitizen di bulan pertama tahun ini adalah aksi bunuh diri seorang Warga Dusun Sambilanang Desa Karobelah, Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang, bernama Evy Suliastin Agustin (26) yang hendak bunuh diri dan  mengajak 3 orang anaknya dengan menenggak obat anti nyamuk cair. Aksi nekat korban dipicu persoalan dengan suaminya berinisial F yang sudah tiga tahun tidak dinafkahi lahir dan batin, juga karena tekanan masalah ekonomi. Si ibu melakukan aksinya dengan mengajak ketiga anaknya yang masih kecil.

World Health Organization (WHO), badan di bawah PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional, memiliki data tersendiri. Berdasarkan data perkiraan WHO, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2012 adalah 10.000. Tren angka tersebut meningkat dibanding jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2010 yang hanya setengahnya, yakni sebesar 5.000. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015. Angka tersebut adalah yang tercatat di kepolisian. Angka riil di lapangan bisa jadi lebih tinggi.

Bunuh diri dan aksi percobaan bunuh diri tidak hanya terjadi di Indonesia yang nota bene adalah Negara berkembang. Disebuah Negara yang cukup maju di planet ini, yaitu Jepang menunjukkan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Bahkan ada sebuah hutan yang terkenal menjadi lokasi bunuh diri banyak orang yaitu Hutan Aokigahara. Pada tahun 2010, sebanyak 247 orang yang berusaha mengakhiri hidupnya di lokasi tersebut.

Selain Jepang, sebuah Negara yang disebut sebagai Negara adidaya pun juga tak luput dari aksi semacam ini. Di Amerika Serikat kasus bunuh diri marak dijumpai. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menyebut setiap tahunnya 10.000 orang Amerika Serikat meninggal akibat bunuh diri. Bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar ketiga bagi anak-anak muda yang berusia antara 10 hingga 24 tahun di sana. Kurang lebih ada sekitar 4.600 anak muda yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. (https://kumparan.com/@kumparansains/tren-bunuh-diri-di-indonesia-dan-mancanegara, Minggu 19 Maret 2017 -09.07).

Kasus Bunuh Diri Tinggi, Why?

Banyaknya aksi bunuh diri dan percobaan bunuh diri mengundang tanya bagi kita semua. Mengapa seseorang mudah sekali mengambil kesimpulan untuk mengakhiri hidupnya. Kita semua yang masih hidup tentu menghadapi masalah dalam menjalani kehidupan. Dan yang menjadi perbedaan dari setiap orang adalah reaksi setiap orang terhadap stres dan masalah yang dihadapi berbeda-beda.

Ditengah sistem kehidupan yang kaum muslimin jalani hari ini. Hidup begitu penuh dengan kesempitan dan kesulitan. Dikarenakan adanya sebuah sistem yang tidak melibatkan Allah dalam mengatur kehidupan. Sebuah sistem yang menempatkan Allah hanya didalam mesjid. Membatasi wewenang Allah, hanya sebatas mengatur ibadah ritual semata, tapi tidak memberikan wewenang kepada Allah sebagai pencipta (Al Khalik) dan pengatur (Al Mudabbir) untuk mengatur ciptaanNya sendiri. Padahal, Allah swt. telah menetapkan aturan untuk manusia dalam menjalankan aktifitas kehidupannya.

Allah swt. telah menciptakan manusia lengkap beserta dengan aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Tidak dijadikannya aturan Allah dalam mengatur kehidupan, memicu tekanan terhadap seseorang. Jika dilihat, ada 4 tekanan yang menjadi penyebab seseorang deprsesi dan akhirnya bunuh diri, yaitu : 1.) dari diri sendiri. Seseorang yang tidak memiliki pemahaman agama akan menjadi materi dan jabatan sebagai tujuan hidupnya, sehingga ketika hal itu tidak dicapai atau bahkan hilang maka mudah mengalami stress. Ditambah lagi kesabaran dan ketawakalannya kepada Allah pun juga lemah. 2.) Keluarga yang tidak harmonis. Banyaknya kasus broken Home membuat penghuni rumah merasa tertekan. Rumah tidak lagi menjadi surga, tetapi berubah menjadi “Rumahku nerakaku”.3.) Masyarakat yang bersifat individualis dan apatis. Ditambah ditengah-tengah masyarakat muncul berbagai kelompok atau media massa yang menumbuh suburkan bibit depresi. Adanya standar kebahagiaan dan kesuksesan yang ditanamkan oleh masyarakat membuat benih depresi semakin tumbuh subur. Dan terakhir 4.) adanya negara yang tidak peduli terhadap masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan beban hidup yang dirasakan masyarakatnya. Hal ini juga yang menjadikan depresi mudah menghinggapi kaum muslimin (Rahmat Abu Zaki | Dir.Lingkar Opini Rakyat-LOR).

Maka disinilah peran Negara dalam menghilangkan keempat jalan menculnya depresi tersebut. Negara yang tentunya menerapkan system islam dalam mengatur dan menjalani fungsi kenegaraan. Dimana dalam islam, Negara mempunyai peran dalam menjaga aqidah seseorang sehingga dapat terus menjaga keimanan kaum muslim. Dengan keimanan yang kuat maka akan menciptakan keluarga yang harmonis. Yang ada adalah masyarakat yang senantiasa saling menjaga, dengan menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar, baik sesama anggota masyarakat mapun kepada penguasa. Juga dengan terlibatnya Allah.swt dalam mengatur kehidupan, otomatis Negara akan memperhatikan masyarakat dari berbagai aspek termasuk Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan dan mengurangi beban masyarakatnya karena semua itu merupakan fungsi dari Negara dalam islam. Wallahu Ta’ala ‘alam

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.