Lewati Masa Resesi, Ekonomi Sultra Tumbuh Positif Tapi Cukup Kecil

  • Bagikan
Koordinator Fungsi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sultra, Wa Zalima. (Foto: Potongan video rilis BPS Sultra)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara menyampaikan pertumbuhan ekonomi Sultra melewati masa resesi. Tercatat pada triwulan I-2021, ekonomi Sultra tumbuh 0,06 persen, masih dalam kondisi cukup melambat dibandingkan triwulan I-2020 sebesar 4,53 persen.

Koordinator Fungsi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sultra, Wa Zalima, mengatakan perlambatan ekonomi di Sultra disebabkan pandemi Covid-19. Sebelumnya 2019 BPS Sultra mencatatkan pertumbuhan ekonomi berada pada angka 6 persen.

“Terakhir pada triwulan 1-2019 sampai triwulan IV-2019 pertumbuhan ekonomi Sultra cukup baik selalu berada di atas 6 persen,” ujarnya, Rabu (5/5/2021).

Kondisi berubah ketika munculnya Covid-19 pada 2020. Pertumbuhan ekonomi Sultra mengalami perlambatan bahkan menurun cukup dalam pada triwulan II-2020, yaitu minus 2,59 persen, disusul triwulan III-2020 minus sebesar 1,89 persen, lalu triwulan IV-2020 pertumbuhan negatif minus 2,15 persen.

“Melihat kondisi pertumbuhan ekonomi Sultra sejak adanya pandemi 2020 secara teori ekonomi dapat dikatakan sejak triwulan II-2020 memasuki masa resesi dan pada triwulan I-2021 mulai memperlihatkan pertumbuhan positif sebesar 0,06 persen,” ucapnya.

Berdasarkan data BPS Sultra, triwulan I-2021 pertumbuhan ekonomi Sultra dipicu terjadi kenaikkan pada semua lapangan usaha. Jasa Keuangan merupakan lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan tertinggi sebesar 4,10 persen.

Baca:   Tinggi Gelombang di Perairan Sultra Capai 2,5 Meter

Selain itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai kontribusi terbesar dalam ekonomi Sultra juga tumbuh positif sebesar 1,51 persen.

Sedangkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian memiliki kontribusi kedua terbesar pada triwulan I-2021 ini sebesar 3,85 persen, dengan demikian ekonomi Sultra tetap tumbuh positif tetapi cukup kecil.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sultra triwulan I-2021 (y-on-y), lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,36 persen; diikuti konstruksi 0,16 persen; dan administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 0,15 persen. Sumber perlambatan pertumbuhan ekonomi Sultra berasal dari lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar -0,79 persen.

Berdasarkan struktur PDRB Sultra menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2021 tidak menunjukkan perubahan. Struktur PDRB Sultra masih didominasi oleh empat lapangan usaha utama, yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan (25,01 persen); pertambangan dan penggalian (19,72 persen), konstruksi (12,78 persen), dan perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor (12,58 persen). Lapangan usaha lainnya, masing-masing memiliki kontribusi kurang dari 10 persen.

Selanjutnya dari sisi pengeluaran, Zalima memaparkan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 75,33 persen, diikuti komponen pengeluaran konsumsi pemerintah 0,68 persen.

Baca:   Pemprov Sultra Hibahkan Aset Daerah kepada OJK RI

Sedangkan komponen lainnya mengalami kontraksi, terdalam terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit melayani rumah tangga sebesar 2,03 persen; disusul komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga 0,43 persen; dan komponen pembentukan modal tetap bruto 0,13 persen. Komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB tercatat tumbuh positif sebesar 71,92 persen.

Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 0,07 persen.

“Berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi triwulan I (y-on-y), komponen ekspor barang dan jasa merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi, yakni 21,64 persen,” tambahnya.

Struktur PDRB Sultra Tenggara menurut pengeluaran tahun 2021 terjadi sedikit perubahan.

Aktivitas permintaan akhir terhadap barang dan jasa masih didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 50,68 persen dari PDRB atas dasar harga berlaku. Jika pada tahun-tahun sebelumnya share terbesar kedua, yaitu PMTB, pada 2021 share terbesar kedua aalah komponen ekspor barang dan jasa sebesar 41,40 persen dan komponen pembentukan modal tetap bruto sebesar 37,86 persen. Komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB memiliki peran sebesar 43,15 persen. (B)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan