SULTRAKINI.COM: Sejumlah alumni SMAN 1 Kendari tidak terima perlakuan Suhardin Diku, orang tua siswa bernama Chandra yang diduga melayangkan pukulan dan ancaman kepada guru Hayari pada Jumat (20 Oktober 2017). Rencananya para alumni akan berkumpul di halaman SMAN 1 Kendari pada Senin (23 Oktober 2017) lalu melakukan aksi solidaritas menuju Mapolresta Kendari.

Danrem Ikut “Kawal” Kasus Pemukulan Guru SMAN 1 Kendari?
Hayari di Mapolresta Kendari, Minggu (21 Oktober 2017).

Tiga perwakilan alumni, masing-masing Muh Hasbullah Idris, Sastra Alamsyah, dan Satriaman Abu Yasid, telah meneken surat pemberitahuan kepada Kapolresta Kendari atas aksi yang akan dilaksanakan mulai pukul 08.00 hingga pukul 11.30 Wita.

Hayari dan Kepala SMAN 1 Kendari, Agusman Hannisi telah melaporkan siswanya bernama Chandra berikut orang tuanya, Suhardin. Sebelumnya kasus ini telah dimediasi oleh pihak kepolisian pada hari kejadian.

"Awalnya sudah diselesaikan secara kekeluargaan di ruangan saya pasca kejadian namun beberapa hari ini Pak Hayari mengeluh sakit di kepala dan punggung akibat pukulan, sehingga memilih untuk menempuh jalur hukum," kata Agusman kepada wartawan.

"Iya hari ini saya melapor, tapi belum bisa banyak bicara karena masih lemas," kata Hayari di Mapolresta Kendari.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hayari mengaku dipukul di lingkungan sekolah pada Jumat, sekitar pukul 10.00 WITA. Hal itu berawal dari Hayari menegur Chandra karena berbicara tidak sopan kepada Niketut, Guru BP SMAN 1 Kendari. 

Hayari selaku Wakasek Kesiswaan menegur Chandra. "Jangan begitu dengan gurumu (sambil mengibaskan empat lembar kertas ke wajah CHD), sopan," jelas Hayari.

Rupanya nasehatnya tidak diterima oleh Chandra. "Saya tidak terima, bapak tempeleng (tampar) saya, saya lapor bapaku lalu buang kata-kata makian," kata Chandra ditirukan Hayari.

Hayari kemudian kembali menasihati. "Saya ini mau menyelesaikan masalahmu, karena kamu bermasalah dengan orang (siswa) lain, saya sebagai wakil kepala sekolah, saya dampingi kamu ini, mau selesaikan dengan orangtua murid yang lainnya," jelas Hayari.

Namun, Chandra menelpon orangtuanya. Beberapa jam kemudian, Suhardin ditemani dua orang lainnya datang ke sekolah dan langsung memukul Hayari dari belakang hingga terjatuh.

"Saya jatuh dipukul gelap mataku, terus saya bangun dengan kekuatanku, dan saya bilang kenapa pukul saya pak?" ujar Hayari.

Bukannya menjawab pertanyaan, SD justru mencabut senjata tajam dan berkata akan membunuh Hayari. Karena terancam, Hayari melarikan diri, sementara pelaku diamankan orang lain.

Peristiwa ini kemudian merebak dengan cepat melalui media sosial dan media online yang ada di Kendari. Netizen mengecam keras tindakan orang tua siswa tersebut.

Sejumlah alumni Menelepon guru SMAN 1 Kendari yang menanyakan kronologis kejadian. Di antara mereka ada yang langsung menggelar pertemuan untuk mendampingi mantan guru-guru mereka mengambil tindakan hukum.

Wakil Bupati Wakatobi, Ilmiati Daud yang juga alumni SMAN 1 Kendari angkat suara. “Ini akan kita kawal. Pelakunya harus diproses dan siswanya dikeluarkan karena sudah membahayakan nyawa guru. Meski sudah dimediasi jangan damai ini harus berlanjut karena apa yang dilakukan sangat kelewatan terhadap guru kita,” kata Ilmiati.

Danrem 143/HaluOleo Kolonel Inf Andi Perdana Kahar yang juga alumni SMAN 1 Kendari dikabarkan akan memberi dorongan moral kepada guru yang dianiaya. “Pak Danrem akan ikut upacara bendera di SMAN 1 Kendari, Senin pagi,” kata sumber SultraKini.com. Namun sejauh ini belum terkonfirmasi kepada Danrem. (frirac)

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations