Paud pemprov atas

Hingga Maret 2019, Jumlah Penduduk Miskin di Sultra Turun

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara mendata selama periode Maret 2016 sampai Maret 2019, jumlah penduduk miskin mengalami penurunan 24,29 ribu orang, yaitu 326,87 ribu orang pada Maret 2016 menjadi 302,58 ribu orang pada Maret 2019.

Kepala BPS Sultra, Mohammad Edy Mahmud, menerangkan komponen garis kemiskinan di Sultra didorong oleh garis kemiskinan makanan pada Maret 2018. Garis kemiskinan ini sebesar 74,73 persen, kemudian pada Maret 2019 peranannya sedikit meningkat menjadi 75,06 persen.

“Pada Maret 2019, komoditi makanan memberikan sumbangan terbesar pada GK (garis kemiskinan) baik di perkotaan maupun di perdesaan, yaitu masing-masing 72,01 persen,” terang Edy, Senin (15/7/2019).

Jenis sub komoditas makanan, lanjutnya, secara garis besar di wilayah perkotaan dan perdesaan memiliki komposisi hampir sama, yaitu beras memberi sumbangan terbesar dengan komposisi 21,63 persen di perkotaan dan 25,35 persen di perdesaan.

Sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan adalah rokok. Tercatat, pengaruhnya di perkotaan 13,05 persen dan perdesaan 13,99 persen.

Urutan ketiga berupa telur ayam ras. Pengaruhnya di wilayah perkotaan dan perdesaan 3,44 persen dan tongkol/tuna/cakalang sebesar 3,34 persen.

Komoditas lainnya mempengaruhi garis kemiskinan, yakni roti 3,29 persen di perkotaan dan 2,99 persen di perdesaan; mi instan 2,92 persen di perkotaan dan 2,56 persen di perdesaan; ikan kembung 3,07 persen di perkotaan dan 1,96 persen di perdesaan; kue basah 2,41 persen di perkotaan dan 2,52 persen di perdesaaan; gula pasir 1,81 persen di perkotaan dan 2,53 persen di perdesaan; dan kue kering/biskuit 1,43 persen di perkotaan dan 1,86 persen di perdesaan.

Ada juga jenis sub komoditas bukan makanan ikut mempengaruhi garis kemiskinan di perkotaan, seperti perumahan 8,53 persen, listrik 2,66 persen, bensin 2,37 persen, pendidikan 2,30 persen, angkutan 1,40 persen, perlengkapan mandi 1,35 persen, dan minyak tanah 0,90 persen.

Sementara di perdesaan perumahan 9,07 persen, bensin 1,64 persen, pendidikan 1,51 persen, listrik 1,38 persen, perlengkapan mandi 1,01 persen, kayu bakar 0,81 persen, dan sabun cuci 0,70 persen.

BPS Sultra juga melaporkan, selama periode Maret 2018 sampai September 2018 penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 8,89 ribu orang sedangkan di perkotaan bertambah 3,64 ribu orang.

Selama periode September 2018 sampai Maret 2019, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 1,04 ribu orang, sementara di perkotaan bertambah 1,77 ribu orang.

“Walaupun jumlah penduduk miskin di pedesaan berkurang, angka kemiskinan di Sultra masih didominasi oleh penduduk pedesaan sebanyak 230,76 ribu orang atau 76,26 persen dari total penduduk miskin per Maret 2019,” jelas Edy.

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.