Iklan Clarion
Festival Pesona Budaya Tua Buton

Kelurahan Kampung Salo Bakal Dipasang Sistem Peringatan Dini Bencana

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kelurahan Kampung Salo, Kota Kendari tidak luput dari kedatangan utusan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (United States Agency for International Development/USAID) Adaptasi Perubahan Iklim (APIK) di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kelurahan Kampung Salo merupakan salah satu wilayah kerja USAID APIK dalam pengelolaan bank sampah, sehingga kedatangan pihaknya sekaligus berdiskusi dengan kelompok siaga bencana (KSB).

Dijelaskan Lurah Kampung Salo, Budi Utomo, wilayah yang dipimpinnya itu memiliki potensi ancaman banjir dan tanah longsor. Pemicu banjir tersebut, yaitu luapan Kali Salo di kala hujan. Kata dia, bencana tersebut, bukan karena masyarkat kurang menjaga lingkungan, namun luapan air kali adalah kiriman dari hulu.

“Daerah ini sebenarnya masuk daerah yang sering terjadi banjir. Di puncak sana, pohon-pohon besar sudah ditebang, pelakunya bukan masyarakat di sini. Akibatnya, kami yang rasakan,” ucap Budi, Senin (18/3/2019).

Budi menambahkan, daerahnya mendapatkan bantuan untuk pengelolaan lingkungan di Kelurahan Kampung Salo. Sementara dari USAID APIK sudah melakukan pendampingan dalam mengurangi risiko bencana. Pendampingan ini sudah dua tahun. terakhir.

“Di daerah ini sudah terpasang alat pendeteksi longsor, namun saat ini tidak berfungsi,” jelasnya.

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sri Tantri, mengapresiasi kesadaran masyarakat Kampung Salo dalam memgelola bank sampah serta terbentuknya kelompok siaga bencana.

“Kami sudah beberapa kali melakukan sosialisasi ke masyarakat dan melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas kepada masyarakat untuk mengurangi dampak banjir dan longsor, ” ujarnya.

Director of Environment dari USAID, Matthew Burton, mengatakan pihaknya bersama BPBD Kendari menginisiasi kolaborasi untuk memfasilitasi proses penguatan ketangguhan masyarakat Kelurahan Kampung Salo, seperti kegiatan kajian risiko bencana, membentuk kelompok siaga bencana (KSB), menghasilkan dokumen kajian risiko bencana, dan rencana aksi adaptasi.

“Ke depan, USAID APIK merencanakan pengembangan sistem peringatan dini di Kampung Salo,” jelas Matthew.

USAID APIK juga berkolaborasi dengan PT Pertamina melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat, yaitu pembuatan bank sampah yang diresmikan November 2018.

“Bank sampah bertujuan mengurangi risiko banjir yang disebabkan sampah, sekaligus mendorong perekonomian masyarakat. Kegiatan dilakukan, di antaranya sosialisasi tentang kelurahan tangguh bencana dan bank sampah, pelatihan pengelolaan bank sampah, pembangunan sanggar dan pengadaan alat, kendaraan bank sampah serta pengadaan perlengkapan KSB dalam penanggulangan bencana,” ucapnya.

Jumlah penduduk Kampung Salo sebanyak 2.216 orang dengan jumlah kepala keluarga 605. Mereka yang tergabung dalam kelompok siaga bencana sebanyak 59 orang.

(Baca juga: Pemprov Sultra dan Amerika Bangun Ketangguhan Masyarakat Menghadapi Perubahan Iklim)

Laporan: La Niati
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.