Iklan Clarion

Mengenal Kemasan Aktif (active packaging)

SULTRAKINI.COM: Seiring perkembangan zaman banyak bermunculan berbagai jeis kemasan, bahkan ada beberapa kemasan yang membuat orang awam terkejut akan jenis kemasan tersebut dan membuat mereka berfikir kok racun bercampur dengan makanan? Kok silica gel yang ada di kardus sepatu atapun di dalam tas baru ada dalam kemasan makanan? Apa sih nama silica gel dalam kemasan itu? Sebelum kita masuk ke penjelasan tentang jenis kemasan tersebut terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu kemasan? Kemasan adalah bagian pertama produk yang dihadapi konsumen dan mampu menarik atau menyingkirkan pembeli. Pengemasan suatu produk biasanya dilakukan oleh produsen untuk dapat merebut minat konsumen terhadap pembelian barang. Dalam pangan, kemasan itu sendiri suatu bentuk pengaplikasian bahan ataupun material yang digunakan untuk melindungi produk makanan dan minuman agar terhindar dari segala macam jenis kerusakan fisik, kimia dan mikrobiologi.

Di era modern ini terjadi peningkatan keinginan konsumen terhadap kebutuhan produk pangan yang hanya mengandung sedikit bahan tambahan (pengawet) namun memiliki umur simpan yang panjang, kualitas produk yang baik tertama pada tingkat kesegaranya. Pada umumnya tingkat kesegaran makanan dapat dilihat dengan kasat mata seperti pada buah, sayur, daging dan lain-lain yang ditandai dengan perubahan warna, memiliki tekstur yang lembek atapun timbulnya aroma yang kurang enak. Perubahan warna, tekstur dan aroma yang dimaksud yaitu perubahan yang terjadi akibat pembusukan. Pembusukan makanan itu sendiri merupakan masalah global yang sering timbul baik itu di pasar tradisional sampai ke pasar modern. Penyebab kebusukan itu sendiri terjadi akibat adanya pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan, terpaparnya bahan makanan dengan udara dan oksigen, suhu dan kelembaban, cahaya dan proses enzimatik lainnya. Maka dari itu perlu adanya kemasan aktif (active packaging) yang merupakan suatu kemasan yang memiliki sebuah indikatorinternal maupun eksternal untuk memperlihatkan secara aktif perubahan produk serta menentukan mutunya.

Tujuan penggunaan kemasan aktif itu sendiri umumnya sama dengan kemasan lainnya yaitu untuk memperpanjang umur simpan agar mutu dari suatu produk dapat terjaga. Teknik yang diterapkan dalam kemasan ini adalah dengan adanya sistem melepaskan ataupun menjerap dari atau kedalam pangan atapun lingkungan sekitar pangan. Secara umum, ada dua sistem dari kemasan aktif yaitu 1) sistem penjerap, yaitu sistem yang mampu menghilangkan senyawa-senyawa yang tidak diinginkan seperti oksigen (O2), air berlebih, etilen, karbondioksida (CO2), bau dan senyawa pangan tertentu 2) Sistem pelepas yaitu merupakan suatu sistem yang secara aktif menambahkan senyawa-senyawa seperti karbondioksida (CO2), antioksidan atau pengawet.

Dari penjelasan singkat di atas kita dapat mengetahui bahwa oksigen (O2) dapat mempengaruhi umur simpan dimana senyawa ini berperan dalam proses oksidasi pada pangan khususnya pangan yang berlemak dan dapat meningkatkan pertumbuhan mikroba sehingga dapat menurunkan kualitas pangan. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI telah mengeluarkan peraturan yang tepat dalam pemilihan dan penggunaan kemasan yang dapat tercantum pada Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 Tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan. Salah satu bahan yang diizinkan yaitu penggunaan Oxygen absorber. Ya itulah tadi silica gel yang di takutkan oleh kalangan orang awam. Mari kita bahas! Oxygen absorber digunakan untuk mengurangi konsentrasi oksigen yaitu bahan yang dapat bereaksi dengan oksigen itu sendiri, umumnya digunakan serbuk besi. Teknologi penyerap oksigen lainnya antara lain menggunakan mekanisme oksidasi asam askorbat, oksidasi enzimatis.Selain oksigen, air yang berlebih dalam kemasan pada pangan dengan aktifitas air yang tinggi, seperti produk daging dan ayam, dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri dan jamur, sehingga menurunkan mutu produk dan mengurangi umur simpan.Penghambatan pertumbuhan mikroba dan peningkatan penampilan serta kesegaran pangan dapat dilakukan dengan mengontrol kelembapan yang berlebihan pada pangan. Jenis teknologi kemasan ini disebut penyerap kelembapan (moisture absorber). Bahan – bahan yang digunakan sebagai penyerap kelembaban adalah poliakrilat, propilenglikol, silica gel, dan tanah liat.

St. Hartini Djalil, Alfia Aretzy, Mustika Ranggawati dan Agnes Juniarti Castelyna (dari kiri)
St. Hartini Djalil, Alfia Aretzy, Mustika Ranggawati dan Agnes Juniarti Castelyna (dari kiri)

 

Penulis artikel ini merupakan mahasiswi Ilmu Pangan di Pascasarjana IPB. Ketua Alfia Aretzy (F251180641) asal Kolaka, Sulawesi Tenggara, pernah bersekolah di SDN 3 Lamokato, SMPN 2 Kolaka, SMAN 1 Kolaka dan S1 Teknologi Pangan di Universitas Halu Oleo, Kendari. Serta anggota St. Hartini Djalil (F251180) asal kota makassar, Sulawesi Selatan, pernah bersekolah di SDN. Sudirman IV, MTs. dan MA Pesantren An Nahdlah Makassar dan Universitas Hasanuddin, Makassar, Mustika Ranggawati (F251180), Agnes Juniarti Castelyna (F251180).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.