Iklan Clarion

Minimnya Mitigasi Bencana, Bukti Abainya Pemerintah?

“Malang tak berbau”. Begitulah kiranya peribahasa yang menggambarkan kondisi yang dialami bangsa kita hari ini. Negeri khatulistiwa yang membentang dari sabang sampai Merauke. Negeri yang besar nan subur memiliki pulau-pulau dan gunung-gunung besar. Namun apalah artinya semua itu jika menjadi jalan datangnya petaka yang merenggut ratusan hingga puluhan ribu jiwa penduduk negeri ini. Belum hilang dalam ingatan bagaimana gempa disertai tsunami menghantam kota Palu dan sekitarnya, kini kita mengarahkan perhatian besar terhadap gempa serta tsunami yang terjadi di Selat Sunda. Tsunami yang baru saja menghantam Selat Sunda dan sekitarnya merupakan efek dari letusan vulkanik yang terjadi secara bersamaan dari letusan erupsi gunung anak krakatau.

Tsunami yang menerjang kawasan pesisir Selat Sunda, Sabtu (22/12), masih dipertanyakan sejumlah pihak. Hal tersebut lantaran tidak adanya peringatan kebencanaan tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkanologi erupsi Anak Krakatau tersebut. Hal itu juga yang menjadi sorotan media asing, NBCnews dalam laporannya, Ahad (23/12) waktu setempat, berjudul “Mengapa tsunami menerjang Indonesia tanpa peringatan”.

Direktur Pusat Penelitian Tsunami Universitas California Selatan Costas Synolakis menyebut, tsunami yang terjadi di pesisir wilayah Banten dan Lampung tersebut bukanlah tsunami pada umumnya yang terjadi karena aktivitas tektonik atau gempa bumi. Tsunami kali ini terjadi karena aktivitas vulkanik. Tsunami yang terjadi antara Pulau Jawa dan Sumatra itu diketahui disebabkan Anak Gunung Krakatau yang telah aktif sejak Juni. Setidaknya, ada dua teori yang menyebabkan letusan memicu tsunami, pertama, yakni tanah longsor di bawah air atau semburan lava cair yang menyebabkan perpindahan. Tapi, para ahli mengatakan, kemungkinan bersar gelombang dipicu oleh tanah longsor. “Ini bukan tsunami biasa. Ini adalah tsunami vulkanik, itu tidak memicu adanya peringatan. Jadi, dari sudut pandang itu, Pusat Peringatan Tsunami pada dasarnya tidak berguna,” ujar Costas Synolakis.  www.republika.co.id (24/12)

Mengurai masalah bencana

Bencana yang baru saja menerjang Banten dan selat Sunda bukan kali ini saja terjadi. Bencana gempa disertai tsunami pernah menerjang selat sunda pada tahun 1883, tsunami besar itu meluluh lantakkan selat sunda dengan kekuatan maha dahsyat dari letusan besar vulkanik gunung krakatau. Bahkan menurut pakar vulkanologi bahwa bencana awal pada saat itu mengalahkan ledakan bom yang terjadi di Nagasaki dan Hiroshima, Jepang. Bahkan setahun kemudian efeknya mempengaruhi eropa dan sekitarnya, matahari redup karena pengaruh abu vulkanik. Letusan gunung dan tsunami besar itupun akhirnya kembali setelah 135 tahun lalu gunung krakatau memuntahkan laharnya.

Profesor emeritus ilmu bumi di Universitas Northwestern, Emile Okal, menyebut gunung berapi adalah sesuatu yang terus hidup. “Ini adalah sesuatu yang secara geologis tidak dalam kondisi stabil kapan pun,” ujar Emile yang telah mempelajari tsunami selama 35 tahun. Menurutnya, aktivitas gunung akan menjadi tanah longsor dan jika gunung berapi tersebut berada di bawah air maka akan menggusur air dan membuat gelombang. Okal mengatakan, untuk mendeteksi tsunami dengan benar, Indonesia perlu menghabiskan sekitar satu miliar dollar untuk teknologi dan tenaga sepanjang waktu di sepanjang wilayah pesisirnya. Menurutnya, bahkan pada saat itu bukan jaminan bahwa peringatan akan datang pada waktunya. Namun, fakta bahwa tsunami disebabkan oleh gunung berapi dan bukan gempa bumi sebagai satu-satunya alasan, hal itu sangat mematikan. “Sangat buruk bahwa ini terjadi pada malam hari, tampaknya, untuk menambah pada cedera, ini terjadi saat air pasang. Semuanya sama, bahayanya akan meningkat,” tambahnya. www.republika.co.id , (24/12)

Terkait gempa dan tsunami yang terjadi di selat sunda, Ahli ekologi dan evolusi Krakatau dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Tukirin menjelaskan kemungkinan penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda karena longsoran bawah laut. Menurutnya Tebing bawah laut yang semakin terjal di bagian bawah Gunung Anak Krakatau bisa terjadi longsor apabila ada getaran kuat akibat aktivitas vulkanik, yang mungkin juga ditambah dengan hempasan gelombang arus laut. Tsunami yang terjadi di Selat Sunda juga dipengaruhi kondisi pasang air laut yang disebabkan gravitasi bulan saat terjadi purnama. “Mungkin di samping getaran itu juga ada pasang laut perbani pada bulan purnama. Sehingga air laut naik, ditambah itu (longsoran, red.), terjadilah gelombang yang cukup besar,” katanya.

Analisis terkait gempa disusul tsunami yang terjadi di selat sunda menuai beragam analisis dan pandangan tersendiri terkait tsunami yang menyapu pesisir pantai di selat sunda, banten dan lampung. Pandangan yang berbeda datang dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kepala bidan Wawan Irawan, menganggap bahwa masih harus melakukan penelitian penyebab tsunami yang terjadi di selat sunda. Berkaitan dengan kondisi gunung anak krakatau sebelum terjadinya gempa dan tsunami, ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pengamatan, baik dari sisi analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 23 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tetap Level II  (Waspada). Sehubungan dengan status Level II (Waspada) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Krakatau dalam radius 2 km dari Kawah.

Terkait potensi Bencana Erupsi Gunung Krakatau, menurut Wawan, berdasarkan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukkan hampir seluruh tubuh Gunung Anak Krakatau yang berdiameter ± 2 Km merupakan kawasan rawan bencana. Berdasarkan data-data visual dan instrumental potensi bahaya dari aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material pijar dalam radius 2 Km dari pusat erupsi. “Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin,” tambahnya. “Kami berharap, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami,” imbuhnya. www.rebublika.co.id , 24/12

Salah satu hal yang wajib dilakukan pemerintah saat ini adalah penyediaan alat mitigasi bencana yang mampu meminimalisir dampak gempa. Mitigasi bencana adalah merupakan ikhtiar yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana. Tak dapat dipungkiri bahwa indonesia memiliki lempengan yang kerap memicu terjadinya gempa. Namun hal itu tidaklah dilakukan pemerintah secara massif melalui stage holder baik dari Badan Metereologi, klimatologi dan Geofisika (BMKG),  yang berperan dalam mengontrol dan menginformasikan gejala alam dan penyebab sebelum datangnya bencana berupa gempa maupun tsunami.

Setidaknya meminimalkan dampak gempa yang memungkinkan terjadi karena telah dilakukan evakuasi. Sangat disayangkan karena sebelum kejadian gempa dan tsunami terjadi akibat ledakan vulkanik anak gunung krakatau, BMKG sebelumnya tidak melakukan riset dan pemantauan rutin atas gunung anak Krakatau yang masih tergolong gunung aktif tersebut. Sehingga dampak gempa yang setidaknya bisa berkurang namun tak dapat dielakkan menelan banyak korban jiwa begitupun meruntuhkan banyak infrastruktur.

Bencana dalam pandangan islam

Bencana adalah musibah yang tak seorang pun dapat menebak datangnya. Namun tanda-tanda seringnya musibah datang karena alam tak mampu lagi membendung reaksi alam yang bergerak sesuai sunnatullah. Di sisi lain musibah yang datang tak lepas dari peringatan Allah kepada manusia yang banyak berpaling dari peringatan dan aturan Allah swt. Islam hadir di tengah-tengah kaum muslimin menjadi aqidah penyempurna atas seluruh aspek kehidupan manusia, namun sebagian umat islam dengan leluasa mengabaikan perintah dan larangan Allah. Adapun musibah tak lepas dari dosa umat ini yang berlepas pada syariat Allah, dan mengambil aturan yang dibuat oleh manusia. Bagaimana umat hari ini menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Maka tanpa disadari, semua penyimpangan manusia, mengundang datangnya bencana yang tak berkesudahan.

Bencana besar yang pernah terjadi di masa kekhilafahan Umar bin Khattab,di Madinah. Saat bencana datang Umar memukulkan tongkatnya bahwa bencana belum saatnya tiba. Umar pun mengancam rakyatnya untuk segera bertaubat kepada Allah atau Umar akan meninggalkan rakyatnya yang masih bermaksiat kepada Allah swt.

Begitu banyak maksiat dan congkaknya manusia tak mau diatur oleh syariat Allah swt. Lihatlah hingga hari ini, umat ini masih berekonomi dengan ekonomi kapitalis basis riba, negara membiarkan perzinahan, pornografi, LGBT, berpolitik dan bermasyarakat tak diatur dengan islam. Kriminalisasi terhadap islam dan ulama serta mereduksi ajaran islam. Maka menjauhi aturan Allah dan melakukan yang dilaranNya serta tidak mau diatur dengan itu adalah jalan mendatangkan peringatan dari Allah swt. Sebagaimana allah swt berfirman:

“ Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. At-taha: 124)

Maka yang wajib dilakukan adalah mencampakkan sistem aturan yang datang dari manusia, sistem kapitalis demokrasi yang tidak mendatangkan keberkahan dari Allah swt. Hal ini diperjelas sebagaimana Allah swt berfirman:

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf: 96)

Oleh karena itu hadirnya islam sebagai pengatur urusan kehidupan manusia seyogyanya akan menyempurnakan segala urusan masyarakat hingga kenegaraan secara sempurna. Termasuk islam mengatur wajibnya ada alat mitigasi yang dirancang untuk mengurangi dampak bencana.      

Wallahu ‘alam bi shawwab    

Oleh : Kasmirawanti, S.s (Pemerhati Sosial)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.